Breaking News

Spirit Kiai Wahab Hasbullah Relevan Perkuat Pesantren dan NKRI

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
  • visibility 142
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Kementerian Agama menegaskan pentingnya menghidupkan kembali spirit perjuangan KH. Abdul Wahab Hasbullah sebagai fondasi penguatan moderasi beragama, transformasi pesantren, dan penguatan kebangsaan di tengah tantangan sosial keagamaan saat ini.

 

Penegasan tersebut mengemuka dalam kegiatan bedah buku KH. Abdul Wahab Hasbullah: Pendiri NU Penggerak NKRI bertema The Mastermind of Movement: Mengupas Tuntas Seni Kepemimpinan Inklusif dan Dialektika Moderasi  yang digelar di UIN Jurai Siwo Lampung, Sabtu (16/5/2026).

 

Kegiatan itu menjadi ruang refleksi untuk menghidupkan kembali pemikiran dan perjuangan KH. Abdul Wahab Hasbullah sebagai salah satu tokoh penting pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus penggerak kebangsaan Indonesia.

 

Menteri Agama Nasaruddin Umar yang hadir melalui tayangan video menegaskan bahwa pesantren merupakan institusi pendidikan asli Indonesia yang telah teruji oleh zaman dan memiliki peran strategis dalam menjaga moralitas bangsa serta mencetak kader pemimpin berjiwa nasionalisme dan keislaman.

 

Menag menyampaikan bahwa pemerintah saat ini tengah memperkuat kelembagaan pesantren melalui transformasi Direktorat Jenderal Pesantren di lingkungan Kementerian Agama.

 

Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar pesantren tidak hanya menjadi benteng moral, tetapi juga berkembang sebagai pusat inovasi, pemberdayaan ekonomi umat, dan institusi pendidikan yang mampu bersaing secara global.

 

“Jika dahulu KH. Abdul Wahab Hasbullah menggunakan organisasi dan diplomasi untuk menjaga bangsa, maka hari ini kita harus menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjaga kedaulatan bangsa serta martabat kemanusiaan,” ujar Menag.

 

Menag juga menekankan pentingnya meneladani pemikiran dan perjuangan KH. Abdul Wahab Hasbullah dalam membangun pendidikan Islam yang moderat, adaptif, dan relevan terhadap perkembangan zaman.

 

Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, menyampaikan bahwa sejarah perjuangan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kontribusi pesantren dan tokoh-tokoh besar seperti Kiai Wahab Hasbullah.

 

 

“Ketika berbicara tentang Indonesia dan pesantren, maka tidak lengkap jika tidak membicarakan Kiai Wahab Hasbullah. Beliau bukan hanya pendiri organisasi, tetapi juga pemikir kebangsaan yang menjaga keutuhan Indonesia melalui pendekatan keagamaan yang moderat,” katanya.

 

Basnang menilai warisan pemikiran Kiai Wahab masih sangat relevan dalam menghadapi tantangan intoleransi, kekerasan, dan fragmentasi sosial di Indonesia saat ini.

 

Perwakilan keluarga besar KH. Wahab Hasbullah, Ita Rahmawati, menyebut Kiai Wahab sebagai “arsitek dialektika moderasi” yang mampu memadukan nilai keagamaan dan kebangsaan dalam satu napas perjuangan.

 

 

“Kiai Wahab mengajarkan bahwa moderasi bukan berarti kehilangan pendirian, tetapi kemampuan menempatkan kebenaran di tengah berbagai ekstremitas,” ujarnya.

 

Ia menjelaskan, buku tersebut mengulas kepemimpinan Kiai Wahab melalui pendekatan The Mastermind of Movement, yang menggambarkan kemampuan beliau membangun gerakan sosial-keagamaan secara inklusif, strategis, dan visioner.

 

Kiai Wahab Hasbullah dikenal sebagai salah satu tokoh penting di balik berdirinya Nahdlatul Ulama pada 1926 bersama Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Ia juga berperan besar dalam perjuangan Komite Hijaz serta menggagas gerakan intelektual dan kebangsaan seperti Taswirul Afkar dan Nahdlatul Wathan.

 

Rektor UIN Jurai Siwo Lampung, Ida Umami, mengatakan forum tersebut menjadi momentum penting untuk menghadirkan kembali spirit perjuangan ulama pesantren dalam membangun Indonesia.

 

 

“Bedah buku ini bukan sekadar membaca sejarah tokoh, tetapi memahami bagaimana pemikiran Kiai Wahab Hasbullah menjadi fondasi moderasi, pendidikan, dan kecintaan terhadap NKRI. Spirit itulah yang penting diwariskan kepada generasi muda,” ujar Ida.

 

Kegiatan bedah buku dihadiri 3 narasumber yakni Drs. KH. Abdul Mun’im DZ (Penulis Buku KH. Abdul Wahab Hasbullah), Hj. Ela Siti Nuryamah, S.Sos., M.E.,M.Ap (Bupati Lampung Timur) dan Dr. KH. Ahmad Ishomuddin, M.Ag (Akademisi dan Tokoh NU Lampung) serta dihadiri sekitar 1.500 peserta dari kalangan pesantren, akademisi, mahasiswa, organisasi keagamaan, dan pemerintah daerah. Forum tersebut juga diwarnai penguatan komitmen bersama dalam kampanye “Pesantren Stop Kekerasan” sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan pesantren yang aman, inklusif, dan humanis.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Asal-Usul Kandang Wesi Garut: Antara Sejarah dan Cerita Rakyat

    Asal-Usul Kandang Wesi Garut: Antara Sejarah dan Cerita Rakyat

    • calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • visibility 132
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di wilayah selatan Kabupaten Garut terdapat sebuah kawasan yang dikenal dengan nama Kandang Wesi. Nama ini telah dikenal sejak lama dan masih menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat. Namun, hingga kini belum ditemukan sumber sejarah primer yang secara pasti menjelaskan bagaimana nama Kandang Wesi pertama kali muncul. Oleh karena itu, asal-usulnya lebih banyak hidup […]

  • Asyik Deh, Minat Baca Naik, Tapi Toko Buku, Kok, Sepi Ya!

    Asyik Deh, Minat Baca Naik, Tapi Toko Buku, Kok, Sepi Ya!

    • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
    • account_circle Sukron Abdilah
    • visibility 1.250
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kalau kamu rajin baca berita edukasi atau diskusi literasi, belakangan ini ada kabar “menggembirakan”: minat baca masyarakat Indonesia meningkat! Asyik, kan? Tapi tunggu dulu — coba mampir ke toko buku di mal terdekat. Kamu mungkin akan menemukan pemandangan yang agak ironis: toko rapi, lampu hangat, rak penuh buku baru… tapi pembelinya bisa dihitung […]

  • Nah Ini Dia! 13 Fakta Menarik tentang Achdiat K. Mihardja

    Nah Ini Dia! 13 Fakta Menarik tentang Achdiat K. Mihardja

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 515
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Barangkali banyak anak sekarang yang tidak lagi mengenal nama Achdiat K. Mihardja. Namun, coba tanyakan kepada orangtua mereka. Pasti orang tua mereka mengenalnya sebagai pengarang novel Atheis yang sangat fenomenal di zamannya. Bahkan, novel itu pernah menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah di Malaysia. Dalam artikel yang ditulis Spoila menghadirkan beberapa fakta yang perlu […]

  • Akselerasi Digitalisasi Produk Lokal Menuju Naik Kelas

    Akselerasi Digitalisasi Produk Lokal Menuju Naik Kelas

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 261
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Diskop UKM) Kabupaten Garut diwakili Feri Fadzillah, menjadi pemateri dalam kegiatan Talkshow UMKM Berdaya : Kreatif, Digital, dan Siap Bersaing, yang dilaksanakan di SDN 2 Parakan, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Selasa (30/12/2025). Kepala Desa (Kades) Parakan, Rahmat Hidayat, mengapresiasi inisiatif dari mahasiswa KKN Gradasi kelompok 13, dengan mengelar […]

  • Si Kabayan Nulis Berita Maké Tools AI

    Si Kabayan Nulis Berita Maké Tools AI

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 253
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Si Kabayan keur diuk ngetéyép di pojok kantor média online. Manéhna keur puyeng sabab kudu nyieun tulisan panjang ngeunaan “Ekonomi Kreatif di Lembur”. Keur kitu, datang babaturanana nu sok mawa béja, Si Lamsijan. “Kabayan, naha bet pusing ngetik? Ayeuna mah aya ‘Jig jépiti’ (ChatGPT)! Manéh tinggal nanya, tulisan langsung jadi sakiceup!” ceuk Lamsijan […]

  • Lima Sila sebagai Lima Luka

    Lima Sila sebagai Lima Luka

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
    • visibility 177
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saudaraku, Pancasila tidak terancam oleh mereka yang membencinya. Ia lebih terluka oleh mereka yang mengaku paling mencintainya.   Setiap 1 Juni, kita mengenang kelahirannya. Namun jarang memeriksa nasibnya.   Pancasila terpajang di dinding; korupsi berakar dalam sistem. Pancasila dibacakan dalam upacara; keadilan mengantre di pintu kuasa. Pancasila menjadi slogan pidato; rakyat kerap hanya […]

expand_less