Breaking News

Membedah Arti Sebuah Nama

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
  • visibility 150
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Lagi heboh Al Ghazali, anaknya Ahmad Dhani ngasih nama Soleil Zephora Ghazali. Nama itu sangat asing di telinga orang kita. Ini yang mau saya bedah, arti sebuah pemberian nama. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

 

Di tengah ribut soal ‘Pesta Babi”, tiba-tiba lahirlah seorang bayi dengan nama Soleil Zephora Ghazali. Seketika rakyat Indonesia berhenti scrolling TikTok selama tiga detik penuh. Sebab otak kita yang terbiasa dengan nama Ujang, Asep, Joko, atau Budi langsung mengalami buffering.

 

“Ini bayi apa karakter utama film kerajaan sihir?”

 

Bayangkan nanti pas absen sekolah.

 

“Budi?”

“Hadir, Bu.”

 

“Asep?”

“Hadir.”

 

“Soleil Zephora Ghazali?”

Guru langsung minum dulu. Teman-temannya tepuk tangan. Yang jawab hadir terdengar seperti opening konser opera Eropa Timur.

 

Tapi memang begitulah umat manusia. Dari zaman batu sampai zaman konten receh, manusia selalu merasa nama harus terdengar sakral, megah, penuh filosofi, dan kalau bisa sedikit bikin tetangga minder. Orang Arab misalnya, mereka tidak main-main soal nama. Satu orang bisa punya nama sepanjang jalan tol. Ada Kunya macam Abu Hamid, artinya “Bapaknya Hamid”, walaupun Hamid-nya masih berupa konsep dan doa. Lalu ada nama utama, terus Nasab berlapis-lapis: ibn ini ibn itu ibn anu ibn fulan sampai silsilahnya lebih rumit dari diagram korupsi proyek negara.

 

Belum selesai. Tambah lagi Nisba seperti al-Ghazali atau al-Tusi supaya orang tahu dia dari mana. Kalau masih kurang sangar, kasih Laqab macam al-Hakim, al-Fatih, al-Mutakabbir level bos terakhir game RPG. Jadilah satu nama yang isinya biodata, kartu keluarga, GPS leluhur, dan CV LinkedIn sekaligus.

 

Nuan bayangkan kalau sistem itu dipakai di tongkrongan Indonesia. “Woi, Muhammad ibn Abdullah ibn Umar ibn Hasan al-Sambasi cepat beli es teh!” Yang dipanggil belum bergerak, tukang esnya sudah pulang duluan.

 

Sementara itu, orang China melihat semua keribetan ini sambil makan mie dengan tenang. Mereka punya sistem nama yang rapi kayak lemari arsip negara. Nama keluarga di depan, nama pribadi di belakang. Wang Wei. Li Mei. Zhang Wei. Selesai. Tidak drama. Tidak ada season dua. Yang paling gila, mereka punya tradisi nama generasi. Semua sepupu satu angkatan memakai karakter tertentu dari puisi keluarga yang diwariskan ratusan tahun.

 

Coba bayangkan kalau Indonesia menerapkan itu.

 

Semua anak kelahiran 2026 wajib pakai huruf “G”.

 

Asep Guntur.

Joko Gembira.

Uray Ganas.

Kevin Galau.

Michelle Goyang.

 

Lima tahun kemudian berubah jadi huruf “H”. Satu negara langsung terdengar seperti lineup dangdut koplo nasional.

 

Tapi Indonesia memang juara dunia dalam urusan campur aduk nama. Kita ini seperti prasmanan internasional. Sedikit Arab, sedikit Barat, sedikit Korea, sedikit lokal, lalu diaduk dengan harapan anaknya nanti sukses, rajin ibadah, rajin menabung, ganteng, pintar matematika, dan syukur-syukur jadi selebgram.

 

Di kampung masih ada nama sederhana yang penuh kehangatan:

Asep.

Ujang.

Joko.

Uray.

 

Nama yang sekali dengar langsung terasa aroma tanah, sungai, warung kopi, dan sandal swallow.

 

Tapi sekarang muncul nama-nama bayi yang kalau dibaca terdengar seperti startup teknologi:

Elvano Kaizen Alfarezel.

Zayyan Etherion Arkana.

Soleil Zephora Ghazali.

 

Ini anak manusia atau calon CEO perusahaan roket?

 

Orang Eropa juga sama anehnya. Mereka punya sistem patronymic yang malas tapi percaya diri. Anak John jadi Johnson. Anak Anders jadi Andersson. Islandia lebih ekstrem lagi. Anak Karl jadi Karlsson kalau laki-laki, Karlsdóttir kalau perempuan. Tiap generasi nama belakang berubah terus. Petugas administrasi pasti tiap malam menatap langit sambil bertanya, “Tuhan… kenapa aku tidak jadi petani saja?”

 

Namun di balik seluruh kekonyolan itu, sebenarnya nama adalah doa yang dibungkus gengsi budaya. Orang Arab menjaga kehormatan nasab. Orang China menjaga struktur keluarga. Orang Eropa menjaga identitas ayah. Orang Indonesia? Menjaga semuanya sambil freestyle tanpa rem.

 

Makanya lahirlah nama seperti Soleil Zephora Ghazali. Matahari dari Prancis, nuansa fantasi Yunani, lalu ditutup aura Arab yang megah seperti nama bangsawan padang pasir pemilik tujuh unta dan dua perusahaan minyak. Jujur saja, itu indah.

 

Karena dunia sekarang memang sudah jadi blender budaya raksasa. Tidak ada lagi batas jelas. Anak Melayu bisa bernama Eropa. Anak Jawa bisa bernama Korea. Anak Sunda bisa bernama Arab-Prancis level diplomat PBB. Semua bercampur jadi satu sup identitas global yang kadang absurd tapi tetap lucu.

 

Jangan pernah hina nama sendiri. Mau kamu bernama Asep, Joko, Uray, Wang, Kevin, atau Muhammad ibn Sesuatu al-Sesuatu, itu tetap cerita hidupmu. Nama hanyalah pembuka. Yang menentukan hebat atau tidaknya tetap isi kepalanya.

 

Karena percuma namamu terdengar seperti pewaris kerajaan Atlantis kalau tiap bulan masih numpang hotspot tetangga. Sebaliknya, nama sederhana seperti Rismon atau Roy bisa mengguncang dunia kalau kerja kerasnya bikin sejarah.

 

Banggalah dengan namamu. Tambahkan prestasi di belakangnya. Biar suatu hari nanti anak-cucu menyebut namamu dengan bangga. Bukan cuma karena bunyinya keren, tapi karena hidupmu memang layak dikenang.

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Puncak Prestasi Seorang Muslim 

    Puncak Prestasi Seorang Muslim 

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • visibility 165
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Inilah Puncak Prestasi Seorang Muslim 1. Amal-amal kebaikannya lebih banyak dari dosa-dosa dan kesalahannya.   2. Tidak termasuk golongan yang amalnya banyak di hadapan manusia dan banyak menuai pujian manusia, tapi di akhirat hanya debu beterbangan karena tidak bermakna, yang pahalanya dilemparkan ke wajahnya sambil Allah berkata: “Cari pujian manusia dari amal-amalmu!! Kamu […]

  • 5 Kebun Teh Terindah di Garut yang Wajib Masuk Daftar Liburan

    5 Kebun Teh Terindah di Garut yang Wajib Masuk Daftar Liburan

    • calendar_month Sabtu, 8 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 77
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut tidak hanya dikenal dengan dodol dan wisata pegunungannya, tetapi juga memiliki hamparan kebun teh yang memanjakan mata. Berada di kawasan dataran tinggi dengan udara sejuk, perkebunan teh di Garut menawarkan pemandangan hijau, suasana tenang, serta jejak sejarah panjang industri teh di Jawa Barat. Bagi pencinta wisata alam, kebun teh bisa menjadi pilihan untuk […]

  • Gen Z dan TikTok: Scroll Nggak Jelas Bikin Kelelahan Digital di Ranah Algoritmik

    Gen Z dan TikTok: Scroll Nggak Jelas Bikin Kelelahan Digital di Ranah Algoritmik

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • account_circle Sukron Abdilah
    • visibility 909
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Sebagai generasi milenial karena lahir tahun 82an, ada juga generasi yang katanya paling adaptif terhadap teknologi, tapi paling tidak adaptif terhadap ketenangan batin. Generasi yang tidak bisa hidup tanpa Wi-Fi, tapi juga tidak bisa hidup dengan terlalu banyak notifikasi. Mereka adalah generasi Z, yang popular dengan istilah “Gen Z”. Kalau kamu juga Gen […]

  • Simpang Lima Garut, Persimpangan yang Lebih Tua dari Ingatan Warganya

    Simpang Lima Garut, Persimpangan yang Lebih Tua dari Ingatan Warganya

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 368
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Jika persimpangan bisa berbicara, Simpang Lima Garut mungkin sudah lelah bercerita. Setiap hari ia menelan klakson, langkah kaki, teriakan pedagang, dan deru mesin kendaraan. Namun sedikit yang tahu, persimpangan ini adalah salah satu saksi paling setia perjalanan sejarah Kota Garut. Jauh sebelum lampu lalu lintas berdiri dan kemacetan menjadi rutinitas, Simpang Lima sudah […]

  • Menghidupkan Kartini

    Menghidupkan Kartini

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
    • visibility 195
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saudaraku, menghidupkan Kartini bukan sekadar mengenang nama, melainkan menyalakan lentera jiwa. Ia hidup dalam hasrat belajar tanpa henti—dari buku, dari kehidupan, dari luka bangsanya, dari cahaya dunia. Pengetahuan menyulutnya keberanian menjawab tantangan zaman.   Ia hadir dalam daya juang yang tenang namun teguh—menembus derita, melampaui batas, merajut relasi, menempa diri. Dari sana tumbuh emansipasi […]

  • Pandangan Hukum Partai Koptagul terhadap Kasus Nadiem Makarim

    Pandangan Hukum Partai Koptagul terhadap Kasus Nadiem Makarim

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 146
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Banyak netizen minta saya ikut membahas kasus hukum Nadiem Makarim. Saya memang fokus menuntaskan kisruh LCC 4 Pilar MPR. Baiklah, saya coba memberikan pandangan hukum ala Partai Koptagul. Izin untuk para ahli hukum negeri ini kalau nanti ada yang ngawur. Tulisan ini agak panjang, asyik kalau dinikmati sambil seruput Koptagul, wak!   Indonesia itu […]

expand_less