Breaking News

Di Saat Semua Senang Timnas Menang, Eh… Pertamax Naik Rp16.250

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Rabu, 10 Jun 2026
  • visibility 113
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Baru semalam Indonesia seperti baru menemukan tambang kebahagiaan. Timnas senior menang dua kali beruntun. Oman dihajar 3-0. Mozambique ditumbangkan 1-0. Ranking FIFA naik. Garuda Muda U-19 menyingkirkan Vietnam dengan skor 2-1. Malaysia juga ikut tersingkir. Media sosial berubah menjadi taman bermain nasional. Bahkan netizen yang biasanya bertengkar soal politik mendadak akur seperti kucing dan tikus yang sama-sama dapat warisan.

 

Malam itu rakyat tidur dengan senyum lebar. Ada yang bermimpi Ole Romeny mencetak gol ke gawang Argentina dan Prancis. Ada bermimpi Sony Sonjaya membeberkan 26 nama pengendali sesungguhnya MBG. Ada bermimpi koruptor mendadak mengembalikan seluruh uang negara dan membuka warkop Koptagul.

 

Sayangnya mimpi terakhir terlalu fiksi ilmiah. Pagi datang. Ayam belum selesai berkokok. Mata belum sepenuhnya terbuka. Grup WA ormas tiba-tiba meledak.

 

Pertamax naik. Dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Rakyat yang semalam teriak “Gooool Indonesia!” mendadak berubah menjadi “Astagaaa!”

 

Kalau kenaikannya dibuat tangga, ini bukan naik satu anak tangga. Ini seperti naik ke lantai tujuh tanpa lift sambil menggendong galon dan karung beras.

 

Yang langsung merasakan gempa berkekuatan 9,8 skala dompet, tentu para pemilik mobil yang memang wajib minum Pertamax. Bukan karena mereka sok kaya. Banyak kendaraan memang membutuhkan BBM dengan oktan tinggi agar mesin tidak ngelitik seperti kaleng kerupuk ditendang kambing.

 

Mobil seperti Toyota Innova, Fortuner, Honda CR-V, Pajero Sport, X-Trail, Camry, Accord, CX-5, HR-V, Civic Hatchback, Yaris 1.5, Jazz 1.5 dan kawan-kawannya memang lebih cocok menggunakan Pertamax. Mereka tidak sedang meminum kopi premium. Mereka sedang menjalani terapi kesehatan mesin.

 

Pace bayangkan, seorang bapak pemilik Innova Reborn. Semalam ia lompat dari sofa saat Indonesia mengalahkan Mozambique. Tetangga sampai mengira ada kebakaran.

 

Pagi harinya ia masuk SPBU. Petugas bertanya, “Isi penuh, Pak?” Bapak itu memandang langit. Mengingat cicilan. Mengingat uang sekolah anak. Mengingat harga cabai. Lalu menjawab lirih, “Setengah doa saja, wak.”

 

Belum lagi pemilik Fortuner dan Pajero. Biasanya mereka masuk SPBU dengan aura bos besar. Setelah melihat harga baru, auranya berubah menjadi peserta audisi pencarian bakat yang baru menerima kabar tidak lolos.

 

Korupsi yang sudah menjadi menu sarapan nasional pun ikut menambah rasa pedas. Di negeri ini, berita korupsi muncul lebih rutin dar jadwal azan. Bangun tidur korupsi. Siang korupsi. Malam korupsi. Kadang rakyat sampai hafal nama tersangka lebih cepat dari hafal nama menteri.

 

Maka lengkaplah paket penderitaan itu. Semalam rakyat diberi hiburan kelas dunia oleh Timnas. Pagi harinya diberi pelajaran matematika oleh harga BBM.

 

Kalau sebelumnya mengisi 40 liter Pertamax cukup sekitar Rp492 ribu, sekarang perlu sekitar Rp650 ribu. Selisihnya bisa dipakai membeli beras, lauk seminggu, atau traktir satu geng ronda makan bakso sampai sendawa bersama.

 

Inilah negeriku, negeri ente, negeri kita, wak. Timnas berjuang mati-matian mengejar bola selama 90 menit. Rakyat berjuang mati-matian mengejar harga selama 24 jam. Garuda memang sedang terbang tinggi. Namun dompet sebagian rakyat terasa seperti layang-layang putus diterjang angin.

 

Seperti biasa, laga paling berat bukan melawan Oman, Mozambique, Vietnam, Malaysia, atau Australia. Melainkan melawan harga yang selalu punya jurus rahasia untuk mencetak gol ke gawang isi dompet rakyat.

 

“Bang, tak perlu khawatir, kitakan kelas pertalite, kadang beli eceran sama si Mat Bahlul.”

 

“Untungnya pertalite belum wak. Bagus kita ke warkop aja, seruput Koptagul agar selalu waras.” Ups

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

 

  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Ternyata Setengah Asia Terang Berkat Batu Bara Kita, Anehnya Muncul Pemadaman Bergilir

    Ternyata Setengah Asia Terang Berkat Batu Bara Kita, Anehnya Muncul Pemadaman Bergilir

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 113
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saya ingin melanjutkan tulisan berjudul “Gawat, PLN Akan Melakukan Pemadaman Bergilir.” Soalnya, banyak netizen dari Pulau Jawa melaporkan pemadangan listrik bergilir sudah dirasakan. Saya kira baru “akan” ternyata sudah berlangsung. Mari kita ungkap lebih dalam persoalan krisis energi listrik ini sambil seruput Koptagul, wak!   Kalau ada penghargaan Nobel untuk kategori paradoks paling spektakuler […]

  • Tugu Sunyi di Pinggir Jalan, Jejak Darah dan Nyali Pemuda Garut di Kubang

    Tugu Sunyi di Pinggir Jalan, Jejak Darah dan Nyali Pemuda Garut di Kubang

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • visibility 284
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di tengah riuh kendaraan yang melintas di Jalan Raya Garut–Bandung, berdiri sebuah tugu kecil yang kerap luput dari pandangan. Tak mencolok, tak ramai dikunjungi, bahkan sering diselimuti rumput liar. Namun di sanalah, sejarah berdarah Garut pernah ditulis.   Tugu itu dikenal sebagai Tugu Pertempuran Kubang. Bagi sebagian orang, ia hanya penanda jalan. Tapi bagi […]

  • Misi Rahasia Gen Z di Muka Bumi, Tetap Survive Pokoknya mah!

    Misi Rahasia Gen Z di Muka Bumi, Tetap Survive Pokoknya mah!

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle Sukron Abdilah
    • visibility 863
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Bayangkan sebuah film superhero, tapi tanpa CGI, tanpa soundtrack Hans Zimmer, dan tanpa kostum keren. Superheronya? Ya, kita—para Gen Z. Senjata kita bukan kekuatan super, tapi koneksi Wi-Fi, resume di Canva, dan kemampuan multitasking antara kerja, kuliah, dan healing. Misi kita? Menyelamatkan Indonesia dari jebakan usia produktif—menjadi agen bonus demografi. Gen Z lahir […]

  • Trump Bingung oleh Peradaban Spiritualitas Islam 

    Trump Bingung oleh Peradaban Spiritualitas Islam 

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • visibility 87
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — 20 juta lebih rakyat Iran yang hadir dan menangis sedih karena pemimpin yang dicintainya syahid, dikatakan Trump sebagai “air mata palsu.” ODGJ gini pantesnya diapain gaess? Ini sudah penghinaan. Tapi wajar sih, karena itu memang stupidity (kebodohan).   Kalimat presiden negara besar seperti ini menyimbolkan betapa spritualitas Amerika Serikat benar-benar kosong, garing, nihil dari […]

  • Turunnya Kelas Menengah dan Ancaman Krisis

    Turunnya Kelas Menengah dan Ancaman Krisis

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • visibility 210
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Sebelum pandemi Covid-19, kelas menengah Indonesia adalah mesin konsumsi dan penopang stabilitas ekonomi. Pada 2019, jumlahnya sekitar 57 juta orang. Namun krisis pandemi menghantam keras. Pada 2024 jumlah itu menyusut menjadi 47 juta, dan pada 2026 turun lagi menjadi sekitar 46 juta. Artinya, dalam beberapa tahun saja, sekitar 11 juta orang terlempar dari […]

  • 5 Konsekuensi Bila Jabar Berganti Nama Menjadi Tatar Sunda atau Pasundan

    5 Konsekuensi Bila Jabar Berganti Nama Menjadi Tatar Sunda atau Pasundan

    • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • visibility 108
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Sebagai warisan dan identitas budaya, orang Sunda pasti suka kesundaan disebutkan sebagai nama propinsi ketimbang “Jawa Barat” sebagai warisan administrasi kolonial. Saya saja suka walaupun bukan Sunda pituin alias blasteran Sunda-Makasaar, apalagi yang Sunda asli.   Tapi, mengganti nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Tatar Sunda atau Provinsi Pasundan memiliki konsekuensi yang luas, bukan […]

expand_less