Breaking News
dark_mode

Kemenangan Netizen

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIGARUT.COM — Terus terang saya lega. Lega seperti habis memenangkan perang besar. Bukan perang pakai tank, rudal, atau pasukan elite. Ini perang pakai jempol, komentar nyinyir, share brutal, dan rasa sakit hati kolektif rakyat internet. Tiga hari lamanya lini masa berubah jadi medan tempur. Tidak ada sirene perang, yang ada notifikasi tanpa henti. Tidak ada pasukan infanteri, yang ada emak-emak, mahasiswa, alumni, bapak-bapak pengangguran digital, hingga netizen yang biasanya cuma komentar “pertama gan”. Semua mendadak jadi tentara algoritma.

 

Kasusnya sederhana tapi bikin darah mendidih. Di ajang LCC Empat Pilar MPR RI Kalbar, SMAN 1 Pontianak merasa dirugikan. Yang benar malah dikasih minus lima. Di negeri ini ternyata bukan cuma rakyat yang bisa dikurangi nilainya, jawaban benar pun bisa dipreteli seperti anggaran rakyat jelata. Lalu muncul dalih artikulasi. Seolah-olah dosa terbesar peserta didik Indonesia bukan salah jawaban, melainkan kurang fasih menggetarkan huruf “R”. Sementara sang MC dengan santainya mengatakan itu cuma perasaan Regu C SMAN 1 Pontianak.

 

Lewat tulisan saya luncurkan (termasuk akun lain), kemarahan netizen bangkit. Kurang lebih enam artikel saya diterbitkan untuk “menelanjangi” kesalahan fatal itu. Kata “menelanjangi” di sini bukan harfiah. Tenang saja. Artikel demi artikel menyebar seperti api di padang ilalang kering. Dibaca. Dikomentari. Dishare. Di-like. Difypkan. Orang-orang yang sebelumnya tidak tahu apa itu LCC Empat Pilar mendadak ikut marah seperti baru ditipu calo tanah. Di situlah keajaiban demokrasi digital bekerja.

 

Banyak pejabat masih mengira komentar netizen hanyalah suara tongkrongan online. Padahal komentar adalah peluru algoritma. Satu komentar mungkin tampak receh. Tapi ribuan komentar? Itu sudah seperti hujan meteor menghantam sistem distribusi platform. Algoritma media sosial modern tidak peduli kamu anak pejabat atau admin grup jual beli galon. Yang dia lihat adalah engagement. Begitu orang ramai berkomentar, algoritma berpikir, “Wah, ini konten bikin manusia emosional. Dorong lebih luas!”

 

Begitulah cara perang ini dimenangkan.

 

Konten awalnya hanya dilempar ke audiens kecil. Ratusan view. Lalu algoritma mulai mengukur. Berapa lama orang menonton? Apakah mereka membaca sampai habis? Apakah mereka marah lalu mengetik komentar sepanjang surat wasiat? Apakah mereka membagikannya ke grup keluarga sambil berkata, “Nih lihat, kacau betul”? Ketika sinyal itu tinggi, algoritma bekerja seperti tukang gosip kompleks. Dia menyebarkan cerita ke mana-mana.

 

Watch time tinggi. Share tinggi. Komentar meledak. Orang rewatch. Orang debat. Orang ngamuk. Platform digital menyukai keributan seperti itu. Karena semakin emosional manusia, semakin lama mereka bertahan di aplikasi. Itulah mengapa komentar “MPR lembaga tak becus” dan komentar nyablak lainnya ternyata punya tenaga lebih besar dari pidato formal berlembar-lembar.

 

Akhirnya suara itu sampai juga ke telinga para petinggi. Jangan lupa, MPR RI itu lembaga tinggi negara. Isinya 732 orang. Ada 580 anggota DPR dan 152 anggota DPD. Jumlahnya sudah seperti satu batalion plus rombongan ormas ke kondangan. Tapi, lembaga sebesar itu tetap bisa bergetar ketika netizen bergerak serempak. Ini pelajaran penting. Di era digital, rakyat kecil yang bersatu bisa menciptakan tekanan luar biasa tanpa perlu membakar ban atau menduduki gedung. Cukup kuota internet dan rasa kesal nasional.

 

LCC akhirnya diputuskan untuk diulang.

 

Di situlah kemenangan itu terasa. Bukan sekadar soal lomba. Ini tentang pesan, publik masih punya daya tekan. Ketika ketidakadilan dipertontonkan terlalu terang-terangan, internet bisa berubah menjadi pengadilan raksasa. Kadang memang liar, kadang brutal, kadang penuh typo dan meme absurd. Tapi jangan remehkan kekuatan orang-orang yang sedang merasa dizalimi bersama-sama.

 

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para pembaca. Kalian bukan sekadar penonton. Kalian bagian dari kemenangan netizen. Kalian ikut bertempur di medan perang paling modern abad ini, kolom komentar. Kapan-kapan kira rayakan kemenangan ini dengan seruput Koptagul, wak!

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

 

Komentar
  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Rekomendasi

  • Menelusuri Sejarah Kereta Api, Stasiun Nagreg

    Menelusuri Sejarah Kereta Api, Stasiun Nagreg

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Atep Kurnia, Peminat Literasi dan Budaya Sunda
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Salah satu potret yang terus menempel di benak saya adalah tanjakan Nagreg. Fotonya dibuat oleh Woodbury & Page dari Batavia sekitar tahun 1860. Judulnya “Post Nagreg bij Tjitjalengka ten oosten van Bandoeng” (KITLV 3197) atau “Pos Nagreg di Cicalengka timur Kabupaten Bandung”. Kini foto tersebut dikoleksi oleh Koninklijk Instituut voor taal-, land- en volkenkunde (KITLV) di […]

  • Nah Ini Dia! Keunikan 5 Kecamatan “Ci” di Garut

    Nah Ini Dia! Keunikan 5 Kecamatan “Ci” di Garut

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Dalam rangka memperingati Hari Jadi Garut (HJG) ke-213, Kabupaten Garut mengawali rangkaian acara pokok dengan menghadirkan kegiatan “Ngarawat Ci Garut”, yang mulai dilaksanakan pada 12 Februari 2025. Kegiatan ini menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga dan melestarikan sumber daya air sebagai bagian penting dari kehidupan, sejarah, dan jati diri masyarakat Garut. Nilai tersebut tercermin […]

  • Jangan Salah Pilih, Ini 5 Ciri Domba Garut yang Layak Kurban

    Jangan Salah Pilih, Ini 5 Ciri Domba Garut yang Layak Kurban

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Menjelang Iduladha, permintaan terhadap domba kurban meningkat tajam. Namun, memilih domba bukan hanya soal ukuran tubuh atau tanduk yang gagah. Hewan kurban harus dipastikan sehat, layak, dan aman agar ibadah berjalan sempurna sekaligus terhindar dari risiko penyakit.   Terlebih, Domba Garut dikenal sebagai salah satu domba unggulan dengan postur kuat dan nilai budaya […]

  • 5 SDIT Terbaik di Garut

    5 SDIT Terbaik di Garut

    • calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    Referensi Orang Tua dalam Memilih Sekolah Dasar Islami   TIGARUT.COM – Minat masyarakat Kabupaten Garut terhadap pendidikan berbasis Islam Terpadu (IT) terus meningkat. Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) dinilai mampu mengintegrasikan pendidikan akademik dengan pembinaan karakter dan nilai-nilai keislaman sejak dini.   Berikut ini adalah 5 SDIT terbaik di Garut yang banyak menjadi rujukan orang […]

  • Nah Ini Dia! 5 Kopi Lokal Khas Garut yang Wajib Kamu Coba

    Nah Ini Dia! 5 Kopi Lokal Khas Garut yang Wajib Kamu Coba

    • calendar_month Kamis, 1 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut tidak hanya dikenal dengan dodol dan keindahan alamnya, tetapi juga memiliki kekayaan kopi lokal dengan karakter rasa yang khas. Berada di kawasan pegunungan dengan tanah vulkanik yang subur, Garut menjadi rumah bagi berbagai varietas kopi berkualitas tinggi. Berikut adalah 5 kopi lokal dari Garut yang patut mendapat perhatian para pecinta kopi. 1. […]

  • 5 Fakta Unik tentang Razia Rambut di SMKN 2 Garut

    5 Fakta Unik tentang Razia Rambut di SMKN 2 Garut

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Pagi di sebuah sekolah kejuruan seperti SMKN 2 Garut sering dimulai dengan rutinitas yang tak jauh berbeda: barisan rapi, seragam lengkap, dan tatapan guru yang teliti. Namun, ada momen tertentu yang selalu menghadirkan suasana berbeda—razia rambut. Bagi sebagian siswa, ini mungkin sekadar penertiban biasa. Tapi bagi yang lain, ini bisa jadi momen mendebarkan, bahkan […]

expand_less