Trump Bingung oleh Peradaban Spiritualitas Islam
- account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
- calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TIGARUT.COM — 20 juta lebih rakyat Iran yang hadir dan menangis sedih karena pemimpin yang dicintainya syahid, dikatakan Trump sebagai “air mata palsu.” ODGJ gini pantesnya diapain gaess? Ini sudah penghinaan. Tapi wajar sih, karena itu memang stupidity (kebodohan).
Kalimat presiden negara besar seperti ini menyimbolkan betapa spritualitas Amerika Serikat benar-benar kosong, garing, nihil dari penghayatan pada yang namanya “mencintai pemimpin.” Barat terhijab oleh serba rasionalitas, gaya hidup serba material, hedonis dan kebebasan yang menggambarkan sekularisme AS. Peradaban Barat hanya punya “mencintai syahwat kekuasaan” dan tak punya penghayatan “mencintai pemimpin.”
Di masyarakat sekuler, mencintai pemimpin karena emosi atau ghirah keagamaan benar-benar kosong. Makanya, sangat wajar, Trump sendiri “direndahkan serendah-rendahnya dan dihinakan sehina-hinanya” oleh jutaan masyarakat AS yang berdemo pro Palestina dan membenci isu pedofilnya Trump.
Masyarakat sekular dan tradisi politik AS, tak mengenal istilah “kesucian,” “yang disucikan,” “yang diagungkan,” dll yang berbasis spiritualitas. Semua hidupnya hanya otak, otak dan otak. Pikiran, pikiran dan pikiran. Tak ada penghayatan keagamaan. Agama yang dianut pun direndahkan, diprotes dan dihina yaitu Kristen di Barat. Dalam sebuah acara, gambar Tuhan Yesus dikutuk, disobek dan ditendang-tendang oleh jemaat Kristen karena wajah Yesus yang selama ini mengisi gereja-gereja di seluruh dunia ternyata wajah palsu, aslinya bukan begitu.
Dalam Islam, penghormatan pada pemimpin religius yang lurus, pada ulama kharismatik, para ulama yang memiliki karomah, para waliyullah, apalagi pada para Nabi, sangat penting dan mulia sebagai tradisi spiritualitas Islam. Barat garing!!
Kegaringan Barat itu diwakili oleh presiden Amerika Serikat, Donald Bebek, yang sangat heran dan tak bisa mengerti mengapa rakyat Iran sampai segitunya mencintai Sayyed Ali Khamenei dan mengapa di dunia Islam seperti itu pada ulama-ulama besar dan berpengaruh.
Kayaknya, si Trump sekali-kali harus diajak kelilingi ziarah ke makam-makam Walisongo, bagaimana masyarakat Muslim sangat menghormati para ulama wali Allah bahkan setelah ratusan tahun meninggalnya dalam tradisi ziarah yang tak pernah luntur dan berkurang hingga sekarang.
Tapi guide-nya jangan dari kelompok Wahabi, nanti bukannya menjelaskan kuatnya tradisi penghormatan masyarakat Muslim pada para tokoh menyebar Islam, kuatnya pengaruh kharisma ulama ratusan tahun, atau hebatnya peradaban spritualitas Islam bertahan beradab-abad, tapi malah sibuk nunjuk-nunjuk: “Ini musyrik!” itu bid’ah!” “mereka ahli neraka!” Bahaya. Si Trump malah seneng 😄☕🚬
- Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
