Menjaga Ingatan, Merawat Kebanggaan: Membaca KH. Anwar Musaddad dari Mata Urang Garut
- account_circle Redaksi Tigarut
- calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
- print Cetak

Cover Buku KH. Anwar Musaddad: Ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan karya Iip D. Yahya, terbitan Lakpesdam PWNU Jawa Barat (2025),
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TIGARUT.COM — Membaca buku KH. Anwar Musaddad: Ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan karya Iip D. Yahya (Lakpesdam PWNU Jawa Barat, 2025) bagi urang Garut bukan sekadar membaca biografi seorang tokoh. Buku ini terasa seperti membuka kembali lembar sejarah yang lama tersimpan di lemari ingatan daerah—bahwa dari tanah Garut pernah lahir seorang ulama dengan cakrawala perjuangan yang melampaui batas kampung halaman dan bahkan melintasi samudra.
Selama ini, nama KH. Anwar Musaddad mungkin lebih sering disebut dalam forum-forum pesantren atau diskusi sejarah NU. Namun melalui buku ini, Iip D. Yahya menghadirkan sosok Musaddad secara lebih utuh: sebagai ulama, organisator, sekaligus pejuang kemanusiaan dan kebangsaan. Ada dua poros besar yang menjadi fokus buku ini, yakni kiprahnya sebagai Ketua Komite Kesengsaraan Indonesia (Kokesin) dan perannya dalam pendirian Hizbullah Priangan.
Peran Musaddad dalam Kokesin menunjukkan dimensi kemanusiaan yang luar biasa. Di tengah situasi Perang Dunia II yang memutus jalur perjalanan laut dan membuat jamaah haji serta mukimin Indonesia di Tanah Suci terkatung-katung, ia tampil sebagai pemimpin yang mengorganisasi, melindungi, dan mengupayakan kepulangan mereka. Dari perspektif urang Garut, ini bukan sekadar cerita kepemimpinan, melainkan bukti bahwa seorang putra daerah mampu hadir di panggung sejarah global, membawa tanggung jawab besar atas nasib sesama anak bangsa.
Sementara itu, keterlibatannya dalam pendirian Hizbullah Priangan memperlihatkan sisi lain dari dirinya: seorang ulama yang tidak hanya berkutat pada kitab dan pengajian, tetapi juga memahami pentingnya kesiapsiagaan dan pembelaan tanah air. Di Priangan, Hizbullah bukan hanya laskar bersenjata, melainkan simbol perlawanan yang berakar pada nilai-nilai keislaman dan kecintaan pada Indonesia. Bagi masyarakat Garut, ini menegaskan bahwa tradisi pesantren di daerah ini tidak pernah terpisah dari semangat kebangsaan.
Kekuatan buku ini terletak pada upayanya mengangkat kembali tokoh lokal ke dalam narasi sejarah yang lebih luas. Selama ini, sejarah nasional sering kali terpusat pada tokoh-tokoh dari kota besar. Kehadiran buku ini menjadi semacam penyeimbang—bahwa Garut pun punya kontribusi nyata dalam perjalanan bangsa. Bagi urang Garut, membaca buku ini menumbuhkan rasa bangga sekaligus tanggung jawab: bangga karena memiliki tokoh sebesar Musaddad, dan bertanggung jawab untuk tidak membiarkan namanya tenggelam dalam lupa.
Namun, karena buku ini relatif ringkas, beberapa bagian terasa padat dan belum sepenuhnya menggali dimensi personal Musaddad—misalnya kehidupan keseharian, relasi keluarga, atau dinamika batin yang membentuk karakternya. Pembaca yang ingin mengenal sosoknya secara lebih intim mungkin berharap ada penulisan lanjutan yang lebih mendalam dan naratif.
Meski demikian, sebagai langkah awal dalam merawat ingatan kolektif, buku ini sangat berarti. Ia bukan hanya menghadirkan sejarah, tetapi juga menawarkan refleksi: bahwa menjadi ulama tidak berarti menjauh dari realitas sosial; bahwa menjadi orang Garut tidak berarti berpikir kecil; dan bahwa akar lokal justru bisa menjadi pijakan untuk peran yang mendunia.
Bagi urang Garut, buku ini seperti cermin. Ia mengingatkan bahwa tanah ini tidak hanya melahirkan keindahan alam dan tradisi yang santun, tetapi juga tokoh-tokoh dengan keberanian, kecerdasan, dan kepedulian yang melampaui zamannya. Membaca KH. Anwar Musaddad berarti membaca kembali jati diri—bahwa dari Garut, sejarah pernah bergerak dan memberi arti bagi Indonesia.
- Penulis: Redaksi Tigarut
- Sumber: AI
