Breaking News
dark_mode

213, Garut Pangirutan yang Berkemajuan

  • account_circle Sukron Abdilah, Ideapreneur dan Penulis
  • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Saya lahir di Garut pada 1982, tahun ketika televisi masih hitam putih di banyak rumah dan kabut pagi turun seperti doa yang belum selesai.

Garut, bagi saya, bukan sekadar koordinat geografis, melainkan kumpulan ingatan: bau tanah basah selepas hujan, suara pedagang di pasar, dan irama hidup yang bergerak pelan tapi pasti.

Di usia 213 tahun, Garut bukan lagi kota kecil yang hanya kita ceritakan dengan nostalgia. Ia adalah ruang hidup yang tumbuh—kadang tersandung, sering tertawa, dan selalu belajar.

Pangirutan—Kearifan yang Mengakar

“Pangirutan” bukan kata asing di telinga orang Garut. Ia merujuk pada cara hidup: merawat yang ada, memanfaatkan tanpa menghabiskan, dan berjalan tanpa tergesa.

Sejak kecil, saya belajar bahwa kemajuan tidak selalu berarti berlari. Ada kalanya melangkah sambil menoleh ke belakang—memastikan akar tidak tercabut. Pangirutan adalah etika, bukan romantisme. Ia mengajarkan keseimbangan antara alam dan manusia, antara tradisi dan inovasi.

Sekolah dasar saya diwarnai buku tulis bergaris dan guru yang tegas namun hangat. Di situlah nalar pelan-pelan dibentuk. Garut mengajari saya membaca dunia melalui pengalaman sehari-hari: mengantre, bekerja bersama, dan tertawa di tengah keterbatasan.

Intelektualitas lahir bukan dari gedung tinggi, melainkan dari kebiasaan bertanya dan keberanian memperbaiki. Di Garut, pertanyaan sederhana sering berujung pada solusi yang membumi.

Orang Garut punya satu senjata rahasia: humor. Bukan humor yang mengolok, melainkan yang meredakan. Ketika jalan rusak, kita mengeluh sambil bercanda. Ketika hujan tak berhenti, kita membuat kopi lebih pekat. Tawa menjadi cara bertahan.

Dalam 213 tahun, humor ini bukan pelarian, melainkan strategi kebudayaan—membuat kita lentur menghadapi perubahan.

Kini, Garut bergerak. Infrastruktur membaik, ruang publik bertambah, dan anak-anak muda membawa ide-ide segar. Saya melihat kedai kopi menjadi ruang diskusi, sawah berdampingan dengan startup kecil, dan tradisi bertemu teknologi.

Ini bukan kebetulan. Ini hasil dari kesabaran panjang dan kerja kolektif. Kemajuan yang sehat tidak memutus masa lalu; ia menyusunnya ulang agar relevan.

Intelektualitas yang Membumi

Berpikir besar tidak harus melayang. Intelektualitas Garut selalu membumi—berangkat dari masalah nyata. Dari pertanian berkelanjutan hingga pariwisata yang beretika, dari pendidikan karakter hingga literasi digital.

Kita belajar bahwa data penting, tetapi empati menentukan arah. Diskusi tidak berhenti di wacana; ia turun menjadi kebijakan kecil yang berdampak nyata.

Saya ingat seorang tetangga yang mengubah halaman rumahnya menjadi kebun baca. Anak-anak datang sore hari, membaca sambil tertawa. Tak ada spanduk besar, tak ada peresmian.

Namun dampaknya terasa. Inilah Garut: kemajuan yang sering hadir diam-diam, bekerja dalam skala kecil, lalu menyebar perlahan. Storytelling Garut bukan tentang pahlawan tunggal, melainkan kerja bersama.

Upacara adat, kuliner, dan bahasa tetap hidup karena berani beradaptasi. Tradisi tidak dibekukan; ia diajak berdialog. Di usia 213 tahun, Garut paham bahwa identitas bukan museum.

Ia bergerak, menyerap, dan menyaring. Kita memilih mana yang perlu dijaga, mana yang perlu diperbarui. Di sinilah kedewasaan kolektif diuji.

Tentu ada tantangan: lingkungan, ketimpangan, dan arus urbanisasi. Namun Garut belajar menghadapi tanpa drama berlebihan. Solusi dirancang dengan kepala dingin, melibatkan warga, dan menghitung dampak jangka panjang.

Pangirutan kembali menjadi kompas—cukup untuk hari ini, berkelanjutan untuk esok. Sebagai anak Garut kelahiran 1982, saya menyaksikan kota ini tumbuh dari dekat.

Di hari jadinya yang ke-213, Garut bukan hanya bertambah usia; ia bertambah makna. Kita melangkah maju tanpa lupa menoleh, tertawa tanpa menutup mata, dan berpikir jauh tanpa meninggalkan tanah.

Garut pangirutan yang berkemajuan bukan slogan—ia cara hidup. Dan seperti kabut pagi yang perlahan terangkat, masa depan Garut tampak jelas: hangat, cerdas, dan manusiawi.***(SAB)

Komentar
  • Penulis: Sukron Abdilah, Ideapreneur dan Penulis
  • Editor: SAB

Rekomendasi

  • Program BK

    Program BK

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — STOP jangan lagi bikin program BK cuman ganti tahun ajaran saja…. Ada cara lebih mudah…. aku punya contekannya….   Sekarang sudah gak bingung lagi diburu-buru beresin program BK…   Perlu kita pahami bersama bahwa sampai saat ini memang tidak ada panduan teknis yang benar-benar baku atau menyeragamkan bentuk administrasi BK di semua sekolah. […]

  • 20 Juta Pelayat Bukti Pemimpin Dicintai dan Selalu Didoakan

    20 Juta Pelayat Bukti Pemimpin Dicintai dan Selalu Didoakan

    • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ada satu kenyataan yang tak pernah bisa dikalahkan oleh kekuasaan. Jabatan memiliki masa jabatan. Istana memiliki pintu keluar. Kekayaan memiliki ahli waris. Tetapi nama baik… bisa hidup jauh melampaui usia pemiliknya. Itulah yang tampak dalam prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei.   Kita lanjutkan prosesi pemakaman jenazah Ali Khamenei yang menggerakkan jutaan rakyat Iran. Simak […]

  • Naasnya Si Kue Nastar Pas Lebaran

    Naasnya Si Kue Nastar Pas Lebaran

    • calendar_month Senin, 23 Mar 2026
    • account_circle Sukron Abdilah, penulis Leupas
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ada satu fase dalam hidup yang terasa seperti eksperimen psikologi tanpa kita sadari: Lebaran sebelum menikah. Kita datang sebagai tamu, pulang sebagai… tersangka (setidaknya di batin sendiri). Di antara semua variabel sosial—basa-basi, pertanyaan “kapan nyusul?”, hingga strategi duduk agar tidak terlalu dekat dengan om yang cerewet—ada satu objek kecil yang diam-diam mengendalikan alur cerita: […]

  • Perkuat Ekosistem UMKM yang Tangguh dan Fleksibel ala Wirahebat Batch 4

    Perkuat Ekosistem UMKM yang Tangguh dan Fleksibel ala Wirahebat Batch 4

    • calendar_month Senin, 22 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, menghadiri kegiatan Inaugurasi Program Wirahebat Batch 4 Tahun 2026 yang digelar di Amphitheater Ciplaz Garut, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Senin (22/6/2026). Program ini menjadi langkah strategis pemerintah daerah dalam memperkuat pondasi ekonomi lokal melalui pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Dalam sambutannya, Bupati Garut menerangkan bahwa […]

  • Singkat Saja, Inilah Sejarah Berdirinya Kabupaten Garut

    Singkat Saja, Inilah Sejarah Berdirinya Kabupaten Garut

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Melansir laman resmi garutkab.go.id, sejarah Kabupaten Garut berawal dari pembubaran Kabupaten Limbangan pada tahun 1811 oleh Daendels dengan alasan produksi kopi dari daerah Limbangan menurun hingga titik paling rendah nol dan bupatinya menolak perintah menanam nila (indigo). Pada tanggal 16 Pebruari 1813, Letnan Gubernur di Indonesia yang pada waktu itu dijabat oleh Raffles, telah […]

  • Efek KDM, Kepala Daerah Lain Sering Dirujak Rakyatnya Sendiri

    Efek KDM, Kepala Daerah Lain Sering Dirujak Rakyatnya Sendiri

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Selamat datang di era baru, era di mana rakyat tak lagi bisu. Kepala daerah tak lagi bisa pura-pura tuli. Ini bukan sekadar perubahan gaya kepemimpinan. Ini revolusi mental pakai sandal jepit yang keras, cepat, dan langsung kena muka.   Sejak muncul gaya KDM, yang tiap ada masalah langsung turun, dobrak, beres di tempat, standar […]

expand_less