Breaking News
dark_mode

Dua Sejoli Tua Digrebek Warga Lagi Gituan di Toilet Masjid

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIGARUT.COM — Kenapa sih selalu ketemu soal gituan. Belum hilang kisah kiyai yang jadi predator anak di bawah umur, muncul lagi kasus baru tak kalah hebohnya. Dua sejoli udah bangkotan, eh malah bercocok tanam di toilet masjid. Duh, negeriku. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

 

Sebuah video memperlihatkan aksi penggerebekan aksi mesum seorang bapak dan emak oleh warga. Tak dijelaskan lokasinya, dan nama pelakunya. Dengar logat, sepertinya di Jawa. Yang jelas videonya viral.

 

Lokasinya di area masjid yang sedang direnovasi. Orang lain sibuk angkut semen. Ngecor lantai. Pasang keramik. Keringat bercucuran demi memperindah rumah ibadah. Tapi di sudut yang lain… ada dua insan rupanya sedang sibuk membangun proyek yang berbeda. Bukan dinding. Bukan kubah. Tapi gelombang nafsu yang susah dicor dengan semen susila.

 

Video viral itu dimulai dengan aksi dua pemuda berjalan perlahan menuju toilet masjid. Langkah mereka pelan, penuh curiga. Seperti detektif kehilangan sandal jepit. Ada kawannya yang memvideokannya, merekam diam-diam. Mereka mendengar dari dalam toilet bunyi nafas terengah-engah, seperti naik kuda. Dirasa timingnya pas, pintu toilet didobrak.

 

Lalu…

BRAK!

Pintu langsung jebol. Semesta seperti mendadak berhenti sebentar.

 

Di dalam bilik toilet yang sempit itu, tampak sepasang manusia paruh baya sedang kepergok di tengah musim yang rupanya datang terlalu cepat. Musim bercocok tanam.

 

Lelakinya memakai baju serba merah. Merah menyala. Merah berani. Merah yang kalau dilihat dari jauh seperti lampu tanda bahaya sedang berkedip-kedip.

 

Perempuannya seorang emak-emak. Memakai baju warna krem dengan jilbab merah yang masih melingkar di kepala. Kombinasi warnanya serasi. Seolah tadi pagi berangkat dengan niat biasa… tapi malam harinya terseret ke lumpur penuh dosa.

 

Keduanya panik bukan main. Wajah kaget. Gerakan lagi gituan, buyar. Tangan sibuk ke sana-sini. Yang satu menarik baju. Yang satu membetulkan kain. Semua serba tergesa.

Seperti orang menutup warung saat hujan badai datang tiba-tiba.

 

Warga yang merekam langsung berteriak memanggil yang lain. Orang-orang berdatangan dari berbagai arah. Dalam hitungan detik toilet masjid itu berubah jadi pusat keramaian melebihi antrean daging kurban. Lalu keduanya digiring keluar. Setengah bugil. Masih belum sepenuhnya rapi.

Baju belum selesai pada tempatnya.

Kain belum sepenuhnya kembali ke tugas semula.

 

Mereka berjalan di tengah kerumunan dengan wajah tertunduk, seperti tikus disiram air comberan.

 

Si lelaki berbaju merah itu seperti kehilangan seluruh keberanian warnanya. Si emak berjilbab merah menunduk rapat. Puluhan warga mengepung.

 

Suasana gaduh. Ada yang marah. Ada yang teriak. Ada yang geleng kepala. Ada pula yang sibuk merekam dari berbagai sudut, seolah kameramen infotainment sedang rebutan angle terbaik.

 

Netizen tentu langsung bekerja lembur tanpa dibayar. Kolom komentar meledak seperti jagung kena minyak panas.

 

Ada yang bilang, “Masjidnya direnovasi… hatinya rupanya ikut dibongkar total.”

Ada yang menulis, “Merahnya bukan tanda berhenti… rupanya tanda bahaya.”

Ada yang paling tajam berkomentar, “Kalau birahi sudah ke ubun-ubun, toilet pun bisa terasa seperti kamar pengantin VIP.”

Astaga.

 

Memang hidup kadang sulit diterjemahkan.

Ada orang datang ke masjid membawa sajadah. Ada yang datang membawa niat ibadah. Ada pula yang datang membawa bara yang ternyata terlalu lama disimpan di dada.

 

Ketika Mr P dan V sulit dikendalikan, logika kadang keluar duluan lewat ventilasi. Hilang semua apa itu moral, yang ada asusila. Tinggallah manusia bersama degup jantung…

keringat dingin…dan sebuah pintu toilet yang ternyata tak terkunci rapat.

 

Peringatan buat seluruh kader dan simpatisan Partai Koptagul, janganlah bercocok tanam di toilet masjid. Malu, wak! Bercocoktanamlah di ladang dan landasan yang sudah sah. Oke..!

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

 

Komentar
  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Rekomendasi

  • Begitu Nanik Mundur, Prabowo Langsung Pasang Sudaryono

    Begitu Nanik Mundur, Prabowo Langsung Pasang Sudaryono

    • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Belum sempat kursi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) dingin setelah ditinggal Nanik S. Deyang, Presiden Prabowo sudah mengirim pemain pengganti. Cepat sekali. Rasanya lebih cepat dari seruput Koptagul dan makan pisgor. Masuklah Dr. Sudaryono, atau akrab disapa Mas Dar. Pertanyaan publik pun bermunculan. Ahli gizi? Bukan. Ahli politik? Ya. Ahli organisasi? Ya. Ahli bisnis? […]

  • Tradisi Buka Puasa Bersama Semakin Membumi

    Tradisi Buka Puasa Bersama Semakin Membumi

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ramadan itu unik. Siangnya kita menahan lapar, haus, dan godaan. Malamnya kita menahan diri untuk tidak menambah dua piring lagi. Di antara dua kutub itu, lahirlah satu tradisi yang makin hari makin sakral, buka puasa bersama. Bukber. Sebuah ritual sosial yang kadang lebih heboh dari rapat paripurna, lebih ramai dari seminar nasional, dan […]

  • 5 SMA Terbaik di Garut 2025, Rekomendasi Sekolah Favorit dengan Prestasi Unggulan

    5 SMA Terbaik di Garut 2025, Rekomendasi Sekolah Favorit dengan Prestasi Unggulan

    • calendar_month Minggu, 18 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM – Mencari SMA terbaik di Garut menjadi hal penting bagi orang tua dan calon peserta didik menjelang penerimaan peserta didik baru (PPDB). Kabupaten Garut memiliki sejumlah Sekolah Menengah Atas (SMA) unggulan yang dikenal berprestasi, berkualitas, dan konsisten melahirkan lulusan berdaya saing tinggi.   Berdasarkan reputasi akademik, prestasi siswa, serta minat masyarakat, berikut 5 SMA […]

  • Turunnya Kelas Menengah dan Ancaman Krisis

    Turunnya Kelas Menengah dan Ancaman Krisis

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Sebelum pandemi Covid-19, kelas menengah Indonesia adalah mesin konsumsi dan penopang stabilitas ekonomi. Pada 2019, jumlahnya sekitar 57 juta orang. Namun krisis pandemi menghantam keras. Pada 2024 jumlah itu menyusut menjadi 47 juta, dan pada 2026 turun lagi menjadi sekitar 46 juta. Artinya, dalam beberapa tahun saja, sekitar 11 juta orang terlempar dari […]

  • Sah! Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    Sah! Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1447 H/2026 M jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Penetapan ini didasarkan pada hasil Sidang Isbat (penetapan) 1 Ramadan 1447 H yang dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (17/2/2026).   “Sidang Isbat menyepakati bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026,” […]

  • Menjaga Ingatan, Merawat Kebanggaan: Membaca KH. Anwar Musaddad dari Mata Urang Garut

    Menjaga Ingatan, Merawat Kebanggaan: Membaca KH. Anwar Musaddad dari Mata Urang Garut

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Membaca buku KH. Anwar Musaddad: Ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan karya Iip D. Yahya (Lakpesdam PWNU Jawa Barat, 2025) bagi urang Garut bukan sekadar membaca biografi seorang tokoh. Buku ini terasa seperti membuka kembali lembar sejarah yang lama tersimpan di lemari ingatan daerah—bahwa dari tanah Garut pernah lahir seorang ulama dengan cakrawala perjuangan […]

expand_less