Breaking News

Dedi Mulyadi dan Wacana Bayar Jalan: Rakyat Jangan Terus Diperas

  • account_circle Alimudin Garbiz, Share Creator, Pemerhati Sosial Politik
  • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
  • visibility 137
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Dedi Mulyadi melempar wacana penghapusan pajak kendaraan bermotor lalu menggantinya dengan sistem bayar jalan provinsi. Sekilas terdengar modern dan inovatif. Dibungkus dengan istilah “keadilan”: siapa yang sering memakai jalan, dia yang lebih banyak membayar.

 

Tetapi rakyat tidak hidup dari istilah.

Rakyat hidup dari pengeluaran sehari-hari.

 

Hari ini masyarakat sudah dibebani:

harga sembako naik,

BBM mahal,

parkir bayar,

tol mahal,

biaya pendidikan meningkat,

lapangan kerja sulit,

 

sementara penghasilan rakyat kecil banyak yang jalan di tempat.

 

Lalu sekarang muncul lagi wacana bayar jalan.

 

Pertanyaannya sederhana:

Apakah ini benar demi keadilan, atau hanya cara baru mengambil uang dari rakyat?

 

Rakyat Kecil yang Akan Paling Terpukul

Yang paling merasakan dampak bukan pejabat dan orang kaya. Mereka tetap bisa lewat tanpa berpikir soal biaya tambahan.

 

Yang paling terpukul justru:

 

tukang ojek,

sopir angkot,

pedagang kecil,

petani,

buruh,

 

dan masyarakat kecil yang setiap hari berpindah tempat demi mencari nafkah.

 

Kalau jalan provinsi mulai dibayar, maka biaya distribusi naik. Ketika distribusi naik, harga barang ikut naik. Akhirnya rakyat lagi yang menanggung semuanya.

 

Jangan sampai seluruh jalan perlahan berubah rasa menjadi jalan tol.

 

Pajak Dihapus atau Hanya Diganti Nama?

Rakyat sudah terlalu sering melihat pola yang sama:

 

satu pungutan dikurangi,

lalu muncul pungutan baru,

namanya berbeda,

tetapi uang rakyat tetap keluar.

Masyarakat khawatir:

pajak kendaraan dihapus,

tetapi bayar jalan muncul,

parkir tetap bayar,

BBM tetap naik,

dan pungutan lain tetap berjalan.

 

Kalau akhirnya pengeluaran rakyat tetap atau malah lebih besar, lalu apa bedanya?

 

Jangan sampai rakyat hanya diberi ilusi penghapusan pajak, padahal beban ekonominya tetap sama.

 

Jalan Rusak Masih Banyak, Kok Mau Bayar Lagi?

Sebelum bicara soal bayar jalan, rakyat punya pertanyaan yang sangat masuk akal:

 

Apakah seluruh jalan provinsi sudah layak dibayar?

Karena faktanya:

masih banyak jalan berlubang,

penerangan minim,

drainase buruk,

kemacetan di mana-mana,

dan kecelakaan masih tinggi.

 

Kalau pelayanan dasar saja belum maksimal, terlalu cepat bicara soal pungutan baru.

 

Logikanya sederhana:

kalau rakyat diminta bayar lebih, maka kualitas pelayanan harus jauh lebih baik lebih dahulu.

 

Pemerintah Jangan Terlalu Kreatif Mengambil dari Rakyat

Pemerintah seharusnya lebih kreatif:

 

memberantas kebocoran anggaran,

menekan korupsi,

memangkas pemborosan,

mengurangi belanja seremonial,

dan meningkatkan efisiensi birokrasi.

Karena rakyat sering bertanya:

 

“Kenapa setiap persoalan anggaran ujungnya selalu rakyat yang diminta membayar lagi?”

 

Padahal masih banyak anggaran yang bisa dioptimalkan tanpa membuat beban baru bagi masyarakat.

 

Jalan Desa dan Kabupaten Justru Lebih Mendesak

Yang paling dirasakan rakyat sehari-hari bukan kurangnya jalan berbayar, tetapi buruknya:

 

jalan desa,

jalan kecamatan,

jalan pertanian,

dan akses penghubung kampung.

 

Banyak masyarakat kecil tidak membutuhkan jalan modern berbayar. Mereka hanya ingin:

 

jalan kampung tidak berlubang,

akses tani bagus,

distribusi hasil panen lancar,

anak sekolah aman,

dan ambulans bisa masuk ke desa tanpa hambatan.

 

Kalau jalan desa baik, ekonomi rakyat bawah ikut bergerak.

 

Maka pemerintah provinsi seharusnya lebih fokus bersama-sama mendorong pemerintah kabupaten, kecamatan, hingga desa agar pembangunan infrastruktur benar-benar merata sampai ke bawah, bukan justru sibuk membuat skema pungutan baru.

 

Karena pembangunan yang paling dirasakan rakyat bukan pembangunan yang megah di atas kertas, tetapi yang langsung menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat kecil.

 

Bangun Partisipasi, Bukan Sekadar Pungutan

Pembangunan sebenarnya bisa dilakukan tanpa selalu membebani rakyat dengan biaya baru.

 

Pemerintah bisa:

melibatkan CSR perusahaan,

memperkuat gotong royong masyarakat,

membuka pengawasan publik,

dan membuat sistem pembangunan yang transparan.

 

Kalau rakyat melihat uang digunakan dengan jujur dan tepat sasaran, kepercayaan masyarakat akan tumbuh dengan sendirinya.

 

Transparansi Lebih Penting daripada Istilah Baru

Rakyat hari ini tidak mudah percaya hanya karena istilah “keadilan”.

 

Yang rakyat ingin lihat adalah:

jalan benar-benar bagus,

proyek tidak dikorupsi,

anggaran terbuka,

dan hasil pembangunan nyata.

 

Karena keadilan bukan sekadar slogan politik.

Keadilan adalah ketika rakyat kecil tidak terus-menerus dibebani biaya hidup baru.

 

Rakyat tidak butuh sekadar perubahan istilah.

Rakyat butuh kehidupan yang lebih ringan.

 

Pemerintah provinsi seharusnya lebih fokus:

bersama mendorong pemerintah kabupaten, kecamatan, dan desa memperbaiki infrastruktur,

mengoptimalkan anggaran yang ada,

memberantas kebocoran,

dan membangun kepercayaan publik.

 

Karena tantangan terbesar pemimpin hari ini bukan mencari cara baru mengambil uang dari rakyat, melainkan mencari cara baru mengelola uang rakyat dengan lebih jujur, efisien, dan berpihak kepada masyarakat kecil.

 

Sebab bagi rakyat kecil, keadilan bukan pidato di podium.

Keadilan adalah ketika hidup mereka tidak semakin berat oleh kebijakan demi kebijakan.

  • Penulis: Alimudin Garbiz, Share Creator, Pemerhati Sosial Politik

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Lima Sila sebagai Lima Luka

    Lima Sila sebagai Lima Luka

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
    • visibility 177
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saudaraku, Pancasila tidak terancam oleh mereka yang membencinya. Ia lebih terluka oleh mereka yang mengaku paling mencintainya.   Setiap 1 Juni, kita mengenang kelahirannya. Namun jarang memeriksa nasibnya.   Pancasila terpajang di dinding; korupsi berakar dalam sistem. Pancasila dibacakan dalam upacara; keadilan mengantre di pintu kuasa. Pancasila menjadi slogan pidato; rakyat kerap hanya […]

  • Yuk Ngarawat Ci Garut

    Yuk Ngarawat Ci Garut

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 311
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut menggelar Rapat Persiapan Hari Jadi ke-213 Kabupaten Garut (HJG) yang dilaksanakan di Ruang Rapat Kantor Wakil Bupati Garut, Jalan Pembangunan, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Kamis (29/1/2026). Rapat ini dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Garut, Nurdin Yana.   Sekda Kabupaten Garut, Nurdin Yana, menyampaikan, jika ada yang […]

  • Rak Buku Versus Rak Barbell, Jadi Mahasiswa Berkeringat dengan Kata

    Rak Buku Versus Rak Barbell, Jadi Mahasiswa Berkeringat dengan Kata

    • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
    • account_circle Sukron Abdilah
    • visibility 1.321
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Aku dulu mengira pencerahan hidup hanya bisa ditemukan di antara tumpukan buku tebal di perpustakaan kampus. Tempat itu suci—udara dingin, suara langkah pelan, dan kadang wangi kopi sachet dari tas teman yang sembunyi-sembunyi nyeduh di pojokan. Aku betah berlama-lama di sana, bukan karena rajin, tapi karena perpustakaan adalah satu-satunya tempat di kampus yang […]

  • Semua Akan Mati, Termasuk Kalian

    Semua Akan Mati, Termasuk Kalian

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 143
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Pagi tadi saya seperti manusia yang sedang ditarik dua dunia. Dunia orang hidup yang masih sibuk menghitung jam keberangkatan, dan dunia kematian yang tak pernah peduli jadwal manusia. Saya ingin pulang kampung pukul 07.00 WIB. Ingin cepat. Ingin sekali ikut memandikan abang kandung saya, Iskar Dinata. Ingin ikut menyolatkan. Ingin ikut menguburkan. Tapi manusia […]

  • Gara-gara MBG, 13 Pondok Pesantren Kena Tipu

    Gara-gara MBG, 13 Pondok Pesantren Kena Tipu

    • calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 132
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Baru juga kita bahas tiga WNI menipu di Tanah Suci, eh sekarang muncul episode baru, lebih lokal tapi efeknya global ke dompet. Ada 13 kiai dari 13 pondok pesantren di Jawa Barat kena tipu gara-gara program MBG. Ini bukan sekadar lanjutan cerita, ini sudah masuk season dua, Penipuan Naik Kelas.   Kalau ada yang […]

  • 10 Tips Aman Mudik ke Garut: Perjalanan Tenang, Hati Senang!

    10 Tips Aman Mudik ke Garut: Perjalanan Tenang, Hati Senang!

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 223
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Mudik ke Garut selalu punya cerita. Udara sejuk, suasana kampung halaman, dan kehangatan keluarga menjadi magnet yang tak tergantikan. Namun, perjalanan mudik juga perlu persiapan matang agar tetap aman, nyaman, dan menyenangkan. Berikut tips yang bisa jadi panduan: 1. Rencanakan Perjalanan Sejak Awal Tentukan tanggal keberangkatan dan kepulangan lebih awal. Hindari puncak arus mudik […]

expand_less