Nilai TKA Jangan Diposting?
- account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
- calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TIGARUT.COM — Mereka bilang, “Nilai TKA jangan diposting. Kasihan yang nilainya rendah.”
Sebagai guru, aku paham maksudnya. Tidak semua anak mendapat hasil sesuai harapan.
Tapi sebagai guru yang setiap hari melihat proses siswa, aku juga tahu ada anak-anak yang belajar sungguh-sungguh selama berbulan-bulan. Ada yang rela mengurangi waktu bermain, ada yang berkali-kali mengerjakan latihan soal, ada yang menangis karena merasa tidak mampu, lalu bangkit lagi keesokan harinya.
Kalau setelah semua perjuangan itu mereka mendapat hasil yang membanggakan, kenapa apresiasi itu harus disembunyikan? Dari pada yang diposting malah video joget-joget selebrasi apa ituu 😡
Aku mengatakan ini dengan sadar Justru karena aku adalah ibu dari anak yang sejak kecil sering mendapat catatan dari guru bahwa ia sedikit tertinggal dalam matematika. Saat teman-temannya sudah selesai mengerjakan soal, dia masih berusaha memahami langkah pertama. Waktu yang dibutuhkan selalu lebih lama. Saatnya mengajarkan LEGOWO pada anakku yg ke 1.
Aku juga ibu dari anak ASD yang jangankan memikirkan TKA, mencapai target-target sederhana dalam keseharian saja kadang membutuhkan perjuangan yang luar biasa. Anak keduaku mengajarkan ikhlas buat ayah ibunya.
Karena itulah aku belajar bahwa kesuksesan tidak pernah punya satu wajah.
Ada anak yang bersinar lewat nilai akademik.
Ada yang bersinar lewat olahraga.
Ada yang bersinar lewat seni.
Ada yang bersinar karena berhasil mengelola emosinya.
Ada yang bersinar karena mampu mandiri melakukan hal-hal yang bagi orang lain terlihat sederhana.
Maka ketika ada anak yang mendapatkan nilai TKA tinggi, biarkan dia menikmati apresiasi atas hasil jerih payahnya.
Dan ketika ada anak yang nilainya belum sesuai harapan, jangan merasa hidupnya selesai.
Tugas kita bukan menghapus panggung bagi yang berhasil, melainkan mengajarkan bahwa setiap orang memiliki panggungnya masing-masing.
Karena pada akhirnya, hidup tidak hanya membutuhkan anak-anak yang pintar mengerjakan soal.
Hidup juga membutuhkan anak-anak yang tangguh, kreatif, pekerja keras, berempati, dan tidak menyerah ketika hasilnya belum sesuai harapan.
Nilai boleh berbeda.
Jalan menuju sukses juga berbeda.
Yang penting, setiap anak belajar satu hal yang sama: berusaha dengan sungguh-sungguh dan belajar legowo menerima hasilnya.
Sebab kesuksesan itu tidak hanya satu macam.
Kalau mau tau bakat minat masih masih anak, langsung hubungi guru BK nya 😁.. Siniii aku jelasiin 😊
- Penulis: Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
