Breaking News

Gara-gara MBG, 13 Pondok Pesantren Kena Tipu

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
  • visibility 134
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Baru juga kita bahas tiga WNI menipu di Tanah Suci, eh sekarang muncul episode baru, lebih lokal tapi efeknya global ke dompet. Ada 13 kiai dari 13 pondok pesantren di Jawa Barat kena tipu gara-gara program MBG. Ini bukan sekadar lanjutan cerita, ini sudah masuk season dua, Penipuan Naik Kelas.

 

Kalau ada yang bilang negeri ini dihuni para penipu, rasanya kita tidak bisa langsung marah. Kita cuma bisa tarik napas panjang sambil garuk kepala, “Ya… ada benarnya juga.” Apalagi konon katanya rakyat Indonesia ini peringkat dua dunia gampang ditipu setelah Pakistan. Mau bantah? Boleh. Tapi tiap ada kasus beginian, bantahannya jadi terasa kayak pembelaan sambil nyengir.

 

Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak. Tapi jangan kaget kalau kopinya mendadak terasa pahit, karena ceritanya lebih pahit dari kopi tanpa gula, ini pahitnya pakai topping realita.

 

Kejadiannya bukan cerita warung kopi. Tanggal 30 April 2026, sebanyak 13 pengasuh pondok pesantren datang ke LBH PP GP Ansor. Mereka datang bukan bawa proposal kerja sama, tapi bawa luka finansial yang nominalnya bukan recehan, puluhan sampai ratusan juta rupiah per pesantren. Ini bukan kehilangan uang, ini sudah kayak kehilangan satu bab kehidupan.

 

Semua bermula dari program kedengarannya suci dan bikin hati hangat, Dapur Santri Nusantara (DSN) atau Koperasi Santri Nusantara, yang katanya mitra resmi Badan Gizi Nasional. Dari namanya saja sudah seperti proyek penyelamat generasi bangsa. Kalau ditolak, rasanya seperti menolak pahala.

 

Lalu datanglah para “utusan”. Wajah rapi, senyum santun, gaya bicara seperti baru keluar dari rapat kementerian. Mereka menawarkan kemitraan program MBG. Syaratnya? Katanya gampang, tidak ribet, tinggal ikut saja alurnya. Alurnya ternyata alur menuju dompet kosong.

 

Pesantren diminta menyediakan lahan minimal 400 meter persegi, lalu membayar biaya pendaftaran Rp1,5 juta, kemudian tanda tangan commitment fee. Setelah itu diminta membangun dapur menggunakan kontraktor yang mereka tunjuk, dengan pembayaran bertahap. Tapi tenang, kata mereka, nanti setelah dapur beroperasi, semua biaya akan diganti penuh oleh pemerintah.

 

Nah, kalimat “diganti penuh” ini biasanya efeknya seperti hipnotis massal. Akal sehat pelan-pelan pamit, harapan langsung duduk di kursi depan.

 

Pesantren-pesantren pun bergerak. Ada mencairkan dana, ada menggadaikan aset, ada kiai sampai menjual mobil demi menutup biaya pembangunan dapur. Dapur pun berdiri. Kokoh. Gagah. Secara fisik, tidak ada masalah. Yang bermasalah cuma satu, realitas.

 

Begitu dapur selesai… pelakunya selesai juga. Hilang.

 

Bukan hilang biasa. Ini hilang level ninja. Kantor mereka pindah tanpa jejak, nomor telepon tidak aktif, dan koperasi tersebut ternyata tidak terdaftar secara resmi di mana pun. Ini bukan koperasi, ini makhluk gaib ber-KTP imajinasi.

 

Sementara itu, warga sekitar sudah terlanjur berharap. Sudah menunggu lowongan kerja dari dapur MBG. Sudah membayangkan penghasilan baru. Tapi yang datang bukan gaji yang datang cuma kenyataan pahit dan dapur kosong.

 

Salah satu korban, KH Ade Abdurrahman dari Cirebon, sampai pasrah berkata, “Saya sudah jual mobil… padahal warga sudah excited mau kerja di sini.” Itu bukan sekadar pernyataan, itu sudah level kecewa stadium akhir.

 

Dari pihak hukum, Ketua LBH GP Ansor, H. Dendy Zuhairil Finsa, menyebut jumlah korban kemungkinan bisa lebih besar. Bisa mencapai ratusan pesantren. Kalau ini benar, kita tidak bisa lagi menyebut ini penipuan biasa. Ini sudah industri. Bahkan mungkin sudah punya target dan evaluasi, “Bulan ini baru belasan pesantren, ayo tingkatkan performa.”

 

Sementara itu, Gus Ulun Nuha dari RMI PBNU menyatakan keprihatinan dan akan mendorong langkah hukum serta koordinasi dengan instansi terkait. Semoga saja kali ini pelakunya tidak berubah jadi legenda urban yang cuma muncul di cerita-cerita korban.

 

Semua ini dibungkus dengan nama program yang mulia. Ironisnya, yang jadi gemuk bukan anak-anak yang butuh gizi, tapi rekening pelaku. Di negeri ini, niat baik sering kali jadi pintu masuk paling empuk bagi kejahatan paling licin.

 

Akhirnya kita cuma bisa menarik satu kesimpulan sederhana, kalau ada yang datang membawa proyek pemerintah, bicara penuh keyakinan, lalu minta uang di depan dengan janji “nanti diganti”, itu bukan peluang. Itu undangan resmi untuk masuk ke bab berikutnya dari kisah penipuan.

 

Lalu, kita? Seperti biasa. Geleng-geleng, tarik napas, lalu bertanya dalam hati, ini negara lagi membangun sistem… atau lagi membuka cabang baru industri tipu-tipu?

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

 

  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Pemkab Garut Apresiasi Exploring IPB 2026, Cetak SDM Unggul untuk Ketahanan Pangan Daerah

    Pemkab Garut Apresiasi Exploring IPB 2026, Cetak SDM Unggul untuk Ketahanan Pangan Daerah

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 310
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM, Garut Kota – Pemerintah Kabupaten Garut memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif Himpunan Mahasiswa Garut Institut Pertanian Bogor (HIMAGA IPB) yang menyelenggarakan kegiatan Exploring IPB 2026. Acara yang berlangsung di Gedung Pendopo, Kecamatan Garut Kota, Sabtu (17/1/2026) ini bertujuan memperkenalkan dunia perkuliahan dan menjaring minat siswa SMA/SMK sederajat di Garut untuk melanjutkan studi ke salah […]

  • Nah Ini Dia! 6 Keunikan Domba Cibuluh Garut Tampil Beda

    Nah Ini Dia! 6 Keunikan Domba Cibuluh Garut Tampil Beda

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 337
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Domba Cibuluh Garut semakin dikenal sebagai salah satu domba unggulan lokal yang memiliki ciri khas berbeda dibandingkan domba pada umumnya. Berasal dari wilayah Cibuluh, Kabupaten Garut, domba ini tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki keunikan tersendiri yang membuatnya diminati peternak dan pecinta domba aduan.   Berikut enam keunikan Domba Cibuluh Garut:   […]

  • Pasangan Abadi

    Pasangan Abadi

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Alimudin Garbiz, Share Creator, Pemerhati Sosial Politik
    • visibility 177
    • 0Komentar

    Anies Baswedan – Dedi Mulyadi, Duet Rasional Menuju Pilpres 2029 TIGARUT.COM — Menjelang Pemilihan Presiden 2029, berbagai spekulasi mengenai figur dan pasangan calon mulai menjadi perbincangan publik. Dalam dinamika tersebut, muncul satu kombinasi yang menarik untuk dikaji secara rasional dan objektif, yakni duet antara Anies Baswedan dan Dedi Mulyadi. Pasangan ini dinilai memiliki fondasi yang cukup […]

  • I’tikaf di Garut

    I’tikaf di Garut

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 212
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di sepuluh malam terakhir Ramadhan, Garut seperti belajar berbicara dengan sunyi. Udara pegunungan yang dingin turun perlahan, menyelimuti kota kecil ini dengan ketenangan yang tak tergesa. Di masjid-masjid, lampu tetap menyala, sementara manusia memilih berdiam—bukan untuk menghindari dunia, tetapi untuk kembali menemukan dirinya. I’tikaf adalah seni menepi. Ia bukan sekadar tinggal di dalam masjid, […]

  • 5 Alasan Tour Asia Finis Makkah Ala Garut

    5 Alasan Tour Asia Finis Makkah Ala Garut

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 126
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Belakangan ini, muncul tren unik di kalangan masyarakat Garut dan sekitarnya: melakukan perjalanan wisata ke berbagai negara Asia yang kemudian ditutup dengan ibadah umrah di Makkah. Konsep “Tour Asia Finis Makkah” dianggap sebagai perpaduan antara wisata, refleksi diri, dan perjalanan spiritual. Berikut lima alasannya:   1. Menjadikan Perjalanan Berakhir dengan Ibadah Setelah menikmati destinasi […]

  • Jalan Cerita Sukses Kiki Gumelar, Owner Chocodot dari Garut

    Jalan Cerita Sukses Kiki Gumelar, Owner Chocodot dari Garut

    • calendar_month Sabtu, 24 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 554
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Siapa yRang tak kenal Chocodot Garut? Perpaduan antara cokelat dan dodol buatan Kiki Gumelar berhasil membuat nama Garut naik kelas dengan cara yang baru dan berbeda. Kiki berhasil menggabungkan makanan modern tanpa meninggalkan ciri khas yang melekat pada Kota Garut. Dari tangan kreatifnya, nama Chocodot sebagai brand cokelat lokal dari Garut kini makin […]

expand_less