Breaking News

Efek MBG Makin Dahsyat, Siswa SMK Pun Berani Kritik Presiden

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Minggu, 5 Apr 2026
  • visibility 192
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Di sebuah semesta alternatif bernama Republik Kenyang Raya, ada satu hukum alam yang baru saja ditemukan para ilmuwan dari cabang Fisika Teoritis cabang warteg. Semakin sering anak sekolah makan gratis, semakin tinggi level roasting-nya. Hukum ini mulai menyaingi Hukum Newton. Bedanya, kalau Newton jatuhnya apel, kalau ini jatuhnya wibawa pejabat.

 

Fenomena ini disebut Efek MBG. Bukan singkatan dari “Makan Bergizi Gratis”, tapi “Makin Berani Gitu”. Awalnya terdeteksi di Kalimantan Barat (daerah gue ni wak). Ketika sejumlah siswa SD dengan kekuatan nasi, lauk, dan keberanian level anime tiba-tiba mengkritik gubernurnya. Para peneliti langsung panik. Ini bukan sekadar makan siang, ini evolusi. Dari Homo Sapiens menjadi Homo Kritikus.

 

Para pejabat awalnya santai. “Ah, baru beberapa bulan makan MBG,” kata mereka sambil menyeruput teh hangat dan kepercayaan diri. Tapi kemudian muncul simulasi mengerikan, bagaimana kalau program ini berlangsung enam tahun? Enam. Tahun. Bukan cuma gubernur, presiden pun berpotensi di-roasting seperti ayam bakar pinggir jalan. Bahkan jabatan bisa berubah, presiden bukan lagi kepala negara, tapi CEO MBG, lengkap dengan KPI, jumlah kritik per porsi nasi.

 

Di tengah kekacauan ilmiah ini, muncullah seorang pahlawan tak terduga dari Kudus. Bukan superhero, bukan influencer skincare, tapi siswa SMK jurusan DKV dengan senjata paling mematikan abad ini, surat terbuka.

 

Namanya Muhammad Rafif Arsya Maulidi. Dengan keberanian yang bikin sinyal WiFi minder, ia menulis surat kepada Prabowo Subianto. Bukan surat cinta, bukan juga minta iPhone. Ini lebih berbahaya, opini.

 

Nah, di titik ini para profesor dari Filsafat, Ekonomi, sampai grup WA istana mendadak satu suara, “Ini anak… kok logikanya kayak profesor?” Serius. Cara berpikir Arsya itu bukan lagi level “anak SMK”, ini sudah DLC premium. Dia menghitung, menganalisis, lalu menyimpulkan dengan presisi yang bikin kalkulator Casio merasa tidak berguna. Jangan tanya siapa yang ngajarin, ini misteri yang tidak bisa dipecahkan oleh Sherlock Holmes sekalipun. Apalagi Rismon. Antara hasil update firmware otak versi terbaru, atau memang dari lahir sudah install paket “akal sehat edisi langka”.

 

Arsya bilang, dengan gaya santun tapi menukik macam drone Iran, ia menolak jatah MBG untuk dirinya sendiri. Ia bukan anti makan. Ia hanya berpikir lebih jauh. Ini sebuah aktivitas yang di beberapa tempat sudah hampir punah. Ia mengusulkan agar dana itu dialihkan untuk kesejahteraan guru.

 

Nuan bayangkan! Di era di mana sebagian orang rebutan diskon 10%, anak ini malah bilang, “Ambil jatah saya, kasih ke guru.” Ini bukan siswa biasa. Ini karakter yang kalau di game, sudah unlock skill “Empati Level Dewa”.

 

Ia menghitung dengan detail. Ada 18 bulan sisa sekolah, 25 hari per bulan, Rp15 ribu per hari. Total Rp6.750.000. Perhitungan ini membuat para ahli matematika dari Ikatan Cendekiawan Netizen Indonesia terdiam. Biasanya angka dipakai buat diskon atau cicilan, sekarang dipakai buat moral.

 

Surat itu diunggah ke Instagram. Dalam sekejap, dunia maya berguncang. 12 ribu likes, ratusan komentar. Netizen yang biasanya ribut soal es teh manis mendadak berubah jadi filsuf pendidikan. Ada yang bilang, “Ini baru anak bangsa.” Ada juga yang diam, mungkin sambil mikir, “Kenapa gue dulu cuma minta uang jajan naik?”

 

Arsya juga menyinggung satu hal yang bikin sistem sedikit keringat dingin, kesejahteraan guru. Ia melihat realitas yang sering disapu ke bawah karpet, guru honorer yang gajinya kadang kalah sama biaya parkir di mall. Sementara di sisi lain, anggaran MBG mengalir deras seperti ucapan Trump.

 

Dengan logika sederhana tapi mematikan, ia bilang, pendidikan itu kunci. Pendidikan itu ditopang guru. Kalau gurunya sejahtera, muridnya pintar. Kalau muridnya pintar, negara maju. Kalau negara maju… ya minimal nggak panik tiap ada anak SMK bikin surat.

 

Ia menyebut cita-cita Indonesia Emas. Tapi dengan satu twist, emas itu bukan dari nasi gratis, tapi dari guru yang dihargai. Sebuah pernyataan terdengar sederhana, tapi efeknya seperti nonton Inception, masuk ke pikiran, lalu bikin semua orang mempertanyakan realitas.

 

Sekarang bayangkan skenario terburuk bagi para pejabat. Anak SD sudah mulai roasting gubernur. Anak SMK sudah mulai ngasih policy recommendation. Kalau ini berlanjut, beberapa tahun lagi anak TK bisa bikin white paper lengkap dengan analisis SWOT.

 

“Strength, saya bisa baca A-B-C. Weakness, pejabat belum bisa baca aspirasi.”

 

Di ujung semua ini, kita hanya bisa bertanya dengan nada campuran kagum dan takut, ini efek MBG atau efek akal sehat yang akhirnya bangun dari tidur panjang?

 

Kalau memang ini karena MBG, mungkin perlu ditambah satu kandungan lagi di menunya, “Vitamin Kritik 1000 mg”. Karena jelas, yang sedang tumbuh sekarang bukan cuma badan sehat, tapi juga keberanian berpikir. Itu, bagi sebagian orang, jauh lebih mengenyangkan… sekaligus jauh lebih menakutkan.

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Jalan Cerita Sukses Kiki Gumelar, Owner Chocodot dari Garut

    Jalan Cerita Sukses Kiki Gumelar, Owner Chocodot dari Garut

    • calendar_month Sabtu, 24 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 552
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Siapa yRang tak kenal Chocodot Garut? Perpaduan antara cokelat dan dodol buatan Kiki Gumelar berhasil membuat nama Garut naik kelas dengan cara yang baru dan berbeda. Kiki berhasil menggabungkan makanan modern tanpa meninggalkan ciri khas yang melekat pada Kota Garut. Dari tangan kreatifnya, nama Chocodot sebagai brand cokelat lokal dari Garut kini makin […]

  • Rak Buku Versus Rak Barbell, Jadi Mahasiswa Berkeringat dengan Kata

    Rak Buku Versus Rak Barbell, Jadi Mahasiswa Berkeringat dengan Kata

    • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
    • account_circle Sukron Abdilah
    • visibility 1.323
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Aku dulu mengira pencerahan hidup hanya bisa ditemukan di antara tumpukan buku tebal di perpustakaan kampus. Tempat itu suci—udara dingin, suara langkah pelan, dan kadang wangi kopi sachet dari tas teman yang sembunyi-sembunyi nyeduh di pojokan. Aku betah berlama-lama di sana, bukan karena rajin, tapi karena perpustakaan adalah satu-satunya tempat di kampus yang […]

  • Longsor Tebing 70 Meter Tutup Akses Jalan di Garut Selatan

    Longsor Tebing 70 Meter Tutup Akses Jalan di Garut Selatan

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 185
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM  – Tebing setinggi sekitar 70 meter di Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut, longsor dan menutup akses jalan utama penghubung wilayah Garut selatan. Akibatnya, arus lalu lintas dari kedua arah tidak dapat melintas.   Peristiwa longsor terjadi pada Rabu malam (22/4/2026) setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut. Kondisi tanah yang labil memicu runtuhnya tebing hingga material […]

  • Naasnya Nasib Jurnalisme Digital

    Naasnya Nasib Jurnalisme Digital

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 567
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di masa lalu, jurnalisme memiliki satu keistimewaan yang nyaris tak tergugat: ia menjadi penjaga makna. Wartawan tidak sekadar melaporkan peristiwa, tetapi juga menata realitas—memilah fakta, memberi konteks, dan menyajikan makna kepada publik. Redaksi menjadi “gerbang kebenaran”, dan media massa berfungsi sebagai otoritas simbolik dalam ruang publik. Namun, di era jurnalisme digital dan media […]

  • Nah Ini Dia! 5 Curug Indah dan Terkenal di Garut

    Nah Ini Dia! 5 Curug Indah dan Terkenal di Garut

    • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 293
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut dikenal bukan hanya sebagai kota dodol dan pegunungan, tetapi juga sebagai surga air terjun alami yang tersebar dari utara hingga selatan. Curug-curug di Garut menawarkan pesona yang beragam: dari air terjun tinggi yang megah, aliran sungai bertebing eksotis, hingga lokasi tersembunyi yang masih sangat alami. Keindahan ini menjadikan Garut destinasi favorit bagi […]

  • Merawat Harapan

    Merawat Harapan

    • calendar_month Jumat, 17 Jul 2026
    • account_circle Dewi Susilawati Sofyan, Guru di Garut
    • visibility 85
    • 0Komentar

    Setiap hari yang berganti, selalu saja ada cerita. Kadang datang membawa kebahagiaan, kadang menghadirkan ujian. Ada masalah yang terasa ringan, ada pula yang begitu berat hingga membuat dada sesak. Namun, jangan biarkan hati kehilangan harapan. Tenanglah… karena setiap masalah yang Allah izinkan hadir, selalu Allah siapkan pula jalan keluarnya. Tidak ada satu pun ujian yang […]

expand_less