Breaking News

Asal-Usul Desa Lunjuk Girang, Garut

  • account_circle Redaksi Tigarut
  • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
  • visibility 35
  • print Cetak

TIGARUT.COM —Lunjuk Girang merupakan salah satu desa lama yang menjadi bagian penting dari sejarah terbentuknya Desa Talagasari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut. Berdasarkan catatan sejarah yang dimuat Pemerintah Desa Talagasari, Lunjuk Girang sudah merupakan wilayah pemerintahan tersendiri sebelum akhirnya bergabung dengan Lunjuk Hilir pada 1912.

 

Wilayah Lunjuk Girang dahulu

 

Dalam catatan sejarah desa, Lunjuk Girang berada di sebelah barat Jalan Raya Garut–Bandung. Batas-batas wilayahnya pada masa itu adalah:

 

Utara: Desa Karang Tengah

 

Timur: Jalan Raya Bandung–Garut, berbatasan dengan Lunjuk Hilir

 

Selatan: Sungai Cipala dan Sungai Cipancar, berbatasan dengan wilayah Leles

 

Barat: Desa Haur Kuning.

 

Wilayah Lunjuk Girang terdiri atas sejumlah kampung, di antaranya Palasari, Lunjuk Girang, Salamanjah, Salamanjah Wetan, Caringin/Cisompet, Halteu, Neglasari, Gegerjunti, Biru, Citangtu, Pataruman, dan Sigung.

 

Masyarakatnya pada masa itu terutama hidup dari bercocok tanam. Catatan desa juga menyebut adanya sawah, tanah darat, kolam, situ, serta sejumlah aliran sungai seperti Cipancar, Cipala, Citeureup dan Cigegerjunti.

 

Siapa pemimpin Lunjuk Girang?

 

Pemerintahan Lunjuk Girang dipimpin oleh Juragan Lurah Raksadiguna, yang menurut catatan desa berasal dari Lebak Baeu. Sementara itu, Lunjuk Hilir dipimpin Raden Mas Djayasasmita, yang berasal dari Cangkuang, Leles.

 

Tahun 1912: Lunjuk Girang bergabung dengan Lunjuk Hilir

 

Perubahan besar terjadi pada 1912. Atas usaha Raden Mas Djayasasmita dan Raksadiguna, Desa Lunjuk Hilir dan Desa Lunjuk Girang digabungkan menjadi Desa Lunjuk. Setelah penggabungan, dilakukan pemilihan Juragan Lurah dan Raden Mas Djayasasmita terpilih sebagai pemimpin desa baru tersebut.

 

Dengan demikian, Lunjuk Girang bukanlah nama kampung yang baru muncul setelah Talagasari terbentuk, melainkan nama sebuah pemerintahan desa lama yang kemudian menjadi bagian dari Desa Lunjuk.

 

Tahun 1923: lahirnya Talagasari

 

Sekitar 11 tahun kemudian, pada 1923, Desa Lunjuk digabungkan dengan Desa Haur Kuning. Gabungan tersebut kemudian diberi nama Desa Talagasari. Nama Talagasari diambil dari talaga (situ/danau) yang berada di Blok Ranca Kuda dan sari yang dalam penjelasan sejarah desa dimaknai sebagai sesuatu yang indah atau menarik.

 

Jadi, garis sejarahnya dapat diringkas:

 

Lunjuk Girang + Lunjuk Hilir

↓ 1912

Desa Lunjuk

↓ 1923 + Desa Haur Kuning

Desa Talagasari

 

Menariknya, nama Lunjuk Girang tetap bertahan sebagai nama kampung/wilayah. Dalam catatan pembangunan Desa Talagasari, wilayah Lunjuk Girang–Palasari masih tercatat sebagai bagian dari administrasi desa.

 

Catatan tentang asal nama “Lunjuk”

 

Untuk sementara, sumber sejarah Desa Talagasari belum menjelaskan secara pasti etimologi atau arti kata “Lunjuk”. Karena itu, cerita rakyat mengenai asal nama Lunjuk sebaiknya dipisahkan dari fakta administratif yang sudah terdokumentasi.

 

Sumber utama:

Pemerintah Desa Talagasari, Sejarah Desa Talagasari – Legenda Desa (Sasakala).

Pemerintah Desa Talagasari, Sejarah Pembangunan Desa.

 

 

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Yuk Ngarawat Ci Garut

    Yuk Ngarawat Ci Garut

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 327
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut menggelar Rapat Persiapan Hari Jadi ke-213 Kabupaten Garut (HJG) yang dilaksanakan di Ruang Rapat Kantor Wakil Bupati Garut, Jalan Pembangunan, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Kamis (29/1/2026). Rapat ini dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Garut, Nurdin Yana.   Sekda Kabupaten Garut, Nurdin Yana, menyampaikan, jika ada yang […]

  • Menghormati Hak Alam

    Menghormati Hak Alam

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
    • visibility 156
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saudaraku, bumi terlalu lama hadir di ruang sidang manusia hanya sebagai benda mati—tanah yang dibagi, sungai yang dibendung, hutan yang ditebang, laut yang diukur dengan angka keuntungan. Ia diperlakukan seperti properti tanpa suara, padahal manusialah yang hidup dari napasnya.   Dalam A Barrister for the Earth (2025), Monica Feria-Tinta menghadirkan gagasan yang mengguncang fondasi […]

  • Gowes, Gen Z, dan Garut: Ketika Sepeda Jadi Gaya Hidup!

    Gowes, Gen Z, dan Garut: Ketika Sepeda Jadi Gaya Hidup!

    • calendar_month Sabtu, 24 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 267
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di Garut, sepeda bukan lagi sekadar kendaraan menuju warung atau sawah. Ia telah naik kasta menjadi simbol “kalcer”: lifestyle yang memadukan olahraga, nongkrong, konten Instagram, dan tentu saja—ngopi setelah tanjakan. Anak Gen Z Garut kini tidak cuma mengejar Wi-Fi kencang, tapi juga cadence stabil dan heart rate yang “aman terkendali”. Fenomena ini bukan […]

  • Asyik! Garut Gulirkan Beasiswa Satu Desa Satu Sarjana 2026

    Asyik! Garut Gulirkan Beasiswa Satu Desa Satu Sarjana 2026

    • calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • visibility 94
    • 0Komentar

    Prioritaskan 109 Desa yang Belum Terjangkau   TIGARUT.COM – Kabar baik bagi lulusan SMA, SMK, dan MA di Kabupaten Garut. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut kembali mempersiapkan pelaksanaan Program Beasiswa Satu Desa Satu Sarjana Tahun Anggaran 2026. Program ini akan memprioritaskan 109 desa dan kelurahan yang hingga kini belum memiliki penerima manfaat.   Persiapan pelaksanaan program […]

  • Yuk Kenali Tokoh Intelektual, Raden Ayu Lasminingrat

    Yuk Kenali Tokoh Intelektual, Raden Ayu Lasminingrat

    • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 285
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Raden Dewi Sartika dikenal sebagai Pahlawan Nasional Wanita Indonesia dari Jawa Barat. Beliau dengan segenap hatinya memperjuangkan dunia pendidikan bagi kaum wanita untuk dapat menikmati rasanya bersekolah seperti kaum laki-laki. Namun, bukan hanya Raden Dewi Sartika yang telah berjasa memperjuangkan hak pendidikan bagi kaum wanita di Jawa Barat. Deri Eka Firman (Duta Bahasa […]

  • Keluar dari Kapitalisme

    Keluar dari Kapitalisme

    • calendar_month Sabtu, 4 Apr 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • visibility 203
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Banyak yang bicara keluar dari kapitalisme, terutama dari para pemikir dan aktivis Islam. Sekarang, secara mengejutkan, Tempo Media mengangkatnya. Diantara semua media, Tempo adalah yang paling sadar dan paling waras. Banyak yang bicara keluar dari kapitalisme, tapi harus disadari bahwa sedikit yang paham betapa dalam, kapitalisme sudah mencengkram alam pikiran kita dan sistem sosial […]

expand_less