Asal-Usul Desa Lunjuk Girang, Garut
- account_circle Redaksi Tigarut
- calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
- visibility 30
- print Cetak

TIGARUT.COM —Lunjuk Girang merupakan salah satu desa lama yang menjadi bagian penting dari sejarah terbentuknya Desa Talagasari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut. Berdasarkan catatan sejarah yang dimuat Pemerintah Desa Talagasari, Lunjuk Girang sudah merupakan wilayah pemerintahan tersendiri sebelum akhirnya bergabung dengan Lunjuk Hilir pada 1912.
Wilayah Lunjuk Girang dahulu
Dalam catatan sejarah desa, Lunjuk Girang berada di sebelah barat Jalan Raya Garut–Bandung. Batas-batas wilayahnya pada masa itu adalah:
Utara: Desa Karang Tengah
Timur: Jalan Raya Bandung–Garut, berbatasan dengan Lunjuk Hilir
Selatan: Sungai Cipala dan Sungai Cipancar, berbatasan dengan wilayah Leles
Barat: Desa Haur Kuning.
Wilayah Lunjuk Girang terdiri atas sejumlah kampung, di antaranya Palasari, Lunjuk Girang, Salamanjah, Salamanjah Wetan, Caringin/Cisompet, Halteu, Neglasari, Gegerjunti, Biru, Citangtu, Pataruman, dan Sigung.
Masyarakatnya pada masa itu terutama hidup dari bercocok tanam. Catatan desa juga menyebut adanya sawah, tanah darat, kolam, situ, serta sejumlah aliran sungai seperti Cipancar, Cipala, Citeureup dan Cigegerjunti.
Siapa pemimpin Lunjuk Girang?
Pemerintahan Lunjuk Girang dipimpin oleh Juragan Lurah Raksadiguna, yang menurut catatan desa berasal dari Lebak Baeu. Sementara itu, Lunjuk Hilir dipimpin Raden Mas Djayasasmita, yang berasal dari Cangkuang, Leles.
Tahun 1912: Lunjuk Girang bergabung dengan Lunjuk Hilir
Perubahan besar terjadi pada 1912. Atas usaha Raden Mas Djayasasmita dan Raksadiguna, Desa Lunjuk Hilir dan Desa Lunjuk Girang digabungkan menjadi Desa Lunjuk. Setelah penggabungan, dilakukan pemilihan Juragan Lurah dan Raden Mas Djayasasmita terpilih sebagai pemimpin desa baru tersebut.
Dengan demikian, Lunjuk Girang bukanlah nama kampung yang baru muncul setelah Talagasari terbentuk, melainkan nama sebuah pemerintahan desa lama yang kemudian menjadi bagian dari Desa Lunjuk.
Tahun 1923: lahirnya Talagasari
Sekitar 11 tahun kemudian, pada 1923, Desa Lunjuk digabungkan dengan Desa Haur Kuning. Gabungan tersebut kemudian diberi nama Desa Talagasari. Nama Talagasari diambil dari talaga (situ/danau) yang berada di Blok Ranca Kuda dan sari yang dalam penjelasan sejarah desa dimaknai sebagai sesuatu yang indah atau menarik.
Jadi, garis sejarahnya dapat diringkas:
Lunjuk Girang + Lunjuk Hilir
↓ 1912
Desa Lunjuk
↓ 1923 + Desa Haur Kuning
Desa Talagasari
Menariknya, nama Lunjuk Girang tetap bertahan sebagai nama kampung/wilayah. Dalam catatan pembangunan Desa Talagasari, wilayah Lunjuk Girang–Palasari masih tercatat sebagai bagian dari administrasi desa.
Catatan tentang asal nama “Lunjuk”
Untuk sementara, sumber sejarah Desa Talagasari belum menjelaskan secara pasti etimologi atau arti kata “Lunjuk”. Karena itu, cerita rakyat mengenai asal nama Lunjuk sebaiknya dipisahkan dari fakta administratif yang sudah terdokumentasi.
Sumber utama:
Pemerintah Desa Talagasari, Sejarah Desa Talagasari – Legenda Desa (Sasakala).
Pemerintah Desa Talagasari, Sejarah Pembangunan Desa.
- Penulis: Redaksi Tigarut
- Sumber: GaroetTempoDoeloe

Saat ini belum ada komentar