Syekh Ja’far Shiddiq Cibiuk, Ulama Penyebar Islam di Garut Utara
- account_circle Redaksi Tigarut
- calendar_month Kamis, 20 Agt 2026
- visibility 56
- print Cetak

TIGARUT.COM — Di antara tokoh ulama yang namanya melekat kuat dalam sejarah dan tradisi masyarakat Garut adalah Syekh Muhammad Ja’far Shiddiq Cibiuk. Sosok yang oleh masyarakat dikenal pula sebagai Embah Wali Cibiuk atau Sunan Haruman ini diyakini sebagai salah seorang penyebar Islam di kawasan Garut Utara, khususnya wilayah Limbangan dan Cibiuk.
Jejak keberadaannya hingga kini masih hidup melalui makam, masjid, tradisi ziarah, serta berbagai cerita yang diwariskan secara turun-temurun.
Ulama penyebar Islam di Cibiuk
Penelitian arkeologi dan sejarah yang dilakukan Effie Latifundia menyebut Syekh Jafar Sidiq sebagai salah seorang tokoh penyebar Islam di kawasan Garut Utara pada sekitar abad ke-18 Masehi. Penelitian tersebut dilakukan melalui survei lapangan, studi pustaka, dan wawancara. Makamnya termasuk salah satu makam kuno Islam di Garut yang hingga kini menjadi tujuan ziarah masyarakat.
Dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa makam Syekh Jafar Sidiq berada di Kampung Cilanjung, Desa Cipareuan, Kecamatan Cibiuk. Kompleks makamnya berada di kawasan perbukitan dan merupakan kompleks pemakaman keluarga besar Syekh Jafar Sidiq.
Makam tersebut bukan hanya menjadi tempat peristirahatan seorang tokoh agama, tetapi juga menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Garut Utara.
Sunan Haruman dan Embah Wali Cibiuk
Masyarakat setempat mengenal Syekh Ja’far Shiddiq dengan sejumlah nama. Karena makamnya berada di kawasan Gunung Haruman, ia dikenal pula dengan sebutan Sunan Haruman. Sementara masyarakat Cibiuk lebih akrab menyebutnya Embah Wali Cibiuk.
Sebutan tersebut menunjukkan kuatnya penghormatan masyarakat terhadap sosok Syekh Ja’far Shiddiq. Tradisi ziarah ke makamnya bahkan terus berlangsung hingga sekarang.
Penelitian Kementerian Agama mencatat bahwa para peziarah datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan penelitian tersebut mencatat adanya peziarah dari luar negeri. Pada masa tertentu, jumlah peziarah dapat mencapai ribuan orang, terutama ketika berlangsung tradisi haul.
Keturunan Sunan Cipancar
Dalam riwayat yang berkembang di lingkungan masyarakat dan keluarga ulama Cibiuk, Syekh Ja’far Shiddiq disebut masih memiliki hubungan nasab dengan Sunan Cipancar, salah seorang tokoh penting dalam tradisi Islam di kawasan Limbangan.
Silsilah tersebut menempatkan Syekh Ja’far Shiddiq dalam mata rantai keluarga ulama dan bangsawan lokal yang telah berkembang di wilayah Garut dan sekitarnya.
Namun, bagian silsilah ini perlu ditempatkan secara hati-hati. Tidak seluruh mata rantainya telah dapat diverifikasi melalui dokumen primer dari masa hidup Syekh Ja’far Shiddiq. Karena itu, dalam penulisan sejarah, silsilah tersebut lebih tepat disebut sebagai riwayat nasab yang diwariskan dalam tradisi lokal.
Hubungan dengan ulama Pamijahan dan Banten
Riwayat masyarakat juga menghubungkan Syekh Ja’far Shiddiq dengan dua ulama besar lainnya, yaitu Syekh Abdul Muhyi Pamijahan di Tasikmalaya dan Syekh Maulana Mansur di Banten.
NU Online mencatat bahwa dalam riwayat yang berkembang, Syekh Ja’far Shiddiq disebut hidup sezaman dan bersahabat dengan kedua tokoh tersebut. Hubungan dengan Maulana Mansur bahkan dikaitkan dengan arsitektur Masjid Agung Syekh Ja’far Shiddiq di Cibiuk.
Kisah tersebut menarik karena memperlihatkan kemungkinan adanya jaringan keagamaan yang menghubungkan Cibiuk, Pamijahan, dan Banten.
Meski demikian, hubungan tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut menggunakan sumber primer agar dapat dibedakan secara jelas antara fakta sejarah dan tradisi lisan.
Masjid peninggalan Syekh Ja’far Shiddiq
Salah satu peninggalan yang paling penting adalah Masjid Agung Syekh Ja’far Shiddiq.
Masjid tersebut memiliki bentuk arsitektur tradisional yang mengingatkan pada masjid-masjid tua di Jawa. Bangunannya menggunakan konstruksi kayu, beratap bertingkat, serta memiliki unsur yang oleh masyarakat dikenal sebagai pataka pada bagian puncak atap.
Yang menarik adalah adanya tulisan pada salah satu tiang masjid:
“Bismillahirrohmanirrohim. 5-11-1216”
Angka tersebut ditafsirkan sebagai tanggal 5 Dzulqa’dah 1216 Hijriah, yang bertepatan dengan sekitar 1802 Masehi.
Tanggal tersebut menjadi petunjuk penting dalam penelitian sejarah masjid. Sebab, dalam riwayat yang banyak beredar, Syekh Ja’far Shiddiq disebut wafat sekitar tahun 1800.
Apakah angka 1216 H menunjukkan pembangunan masjid? Ataukah renovasi setelah masjid sebelumnya telah berdiri?
Pertanyaan tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut terhadap bangunan, prasasti, bahan konstruksi, serta sumber sejarah lainnya.
Makam dan tradisi ziarah
Makam Syekh Ja’far Shiddiq merupakan salah satu situs ziarah Islam yang penting di Kabupaten Garut.
Penelitian Effie Latifundia mencatat bahwa kompleks makam Cibiuk memiliki luas sekitar lima hektare dan terdiri atas makam keluarga besar Syekh Jafar Sidiq. Makam utamanya memiliki jirat dan nisan dari batu alam serta berada di kawasan perbukitan.
Bagi masyarakat yang datang berziarah, makam tersebut bukan sekadar situs sejarah. Ziarah menjadi bagian dari kehidupan spiritual, terutama untuk mendoakan ahli kubur, melakukan tafakur, dan mengingat kembali bahwa kehidupan manusia pada akhirnya akan berakhir dengan kematian.
Tradisi haul juga menjadi bagian penting dari kehidupan keagamaan masyarakat Cibiuk.
Jejak Syekh Ja’far Shiddiq dalam Sambal Cibiuk
Nama Syekh Ja’far Shiddiq ternyata tidak hanya melekat pada tradisi keagamaan.
Masyarakat juga memiliki cerita mengenai hubungan keluarganya dengan Sambal Cibiuk, salah satu kuliner khas Garut yang sangat terkenal.
Sejumlah sumber yang mengutip buku Budaya Garut Serta Pernak Perniknya terbitan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut menyebut bahwa Sambal Cibiuk diperkirakan telah dikenal sejak abad ke-18 dan dalam tradisi lokal dikaitkan dengan putri Syekh Ja’far Shiddiq.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa warisan Syekh Ja’far Shiddiq dalam ingatan masyarakat tidak hanya berupa makam dan masjid, tetapi juga berkembang dalam tradisi budaya dan kuliner Cibiuk.
Antara sejarah dan sasakala
Dalam menelusuri Syekh Ja’far Shiddiq, ada satu hal yang perlu selalu diingat: tidak semua cerita yang diwariskan masyarakat memiliki kedudukan yang sama sebagai bukti sejarah.
Ada data yang diperkuat penelitian lapangan, seperti lokasi makam dan keberadaan kompleks pemakaman. Ada pula sumber tertulis mengenai masjid dan tradisi ziarah. Sementara kisah mengenai hubungan persahabatan dengan ulama lain, silsilah tertentu, serta berbagai cerita mengenai kehidupan beliau masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Justru di situlah menariknya sejarah lokal.
Syekh Ja’far Shiddiq tidak hanya hidup dalam buku-buku sejarah, tetapi juga dalam ingatan masyarakat Cibiuk—melalui makam yang terus diziarahi, masjid yang tetap digunakan, tradisi haul, silsilah keluarga, hingga kuliner yang namanya dikenal ke berbagai daerah.
Bagi Garut, kisah Syekh Ja’far Shiddiq adalah bagian dari perjalanan panjang Islamisasi di wilayah Priangan.
Dan bagi Cibiuk, nama Embah Wali Cibiuk bukan sekadar nama seorang tokoh masa lalu, melainkan bagian dari identitas sejarah yang masih hidup sampai hari ini.
Sumber:
1. Effie Latifundia, “Unsur Religi pada Makam-makam Kuna Islam di Kawasan Garut,” Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 14 No. 2, 2016, hlm. 479–500. Penelitian ini menggunakan survei lapangan, studi pustaka, dan wawancara.
2. NU Online, “Menengok Masjid Syekh Ja’far Shidiq Garut yang Berusia Ratusan Tahun,” 1 Januari 2018.
3. Syekh Jafar Shiddiq & Negeri 1000 Wali, sumber yang memuat riwayat keluarga, masjid, dan prasasti 1216 H.
4. Budaya Garut Serta Pernak Perniknya, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut, sebagaimana dikutip dalam pemberitaan mengenai asal-usul Sambal Cibiuk.
- Penulis: Redaksi Tigarut
- Sumber: GaroetTempoDoeloe

Saat ini belum ada komentar