Breaking News
dark_mode

Muhammadiyah Menyatakan, Program MBG Lebih Banyak Mudharat

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIGARUT.COM — Saya kaget, saat Muhammadiyah menyatakan, program MBG itu lebih banyak mudharatnya. Kalau ingat gerombolan Haji Dadan cs, ada benarnya. Berani kali ormas besar Islam ini ya. Tak takut kah sama Prabowo? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

 

Publik tahu MBG, program kebanggaan Prabowo. Program yang dipromosikan seperti ramuan sakti campuran jamu, serum Avengers, dan bensin pertamax untuk masa depan bangsa.

 

Selama ini MBG digambarkan bak pahlawan super yang akan menyelamatkan anak-anak Indonesia dari stunting, memperkuat kualitas SDM, meningkatkan kecerdasan, memperpanjang optimisme nasional, bahkan mungkin membuat tembok sekolah yang retak ikut terlihat lebih sehat.

 

Namun tiba-tiba datang Muhammadiyah membawa ember berisi air dingin. Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hukum, HAM, dan Hikmah, Busyro Muqoddas, melontarkan kalimat yang efek kejutnya hampir setara notifikasi “anggaran dipangkas” di grup para pemburu proyek.

 

“Mudaratnya lebih banyak.” Dua kata yang membuat para pendukung MBG mungkin langsung memeriksa tekanan darah.

 

Padahal Muhammadiyah bukan kelompok anti-gizi. Mereka bukan organisasi yang menganggap anak sekolah cukup sarapan embun pagi dan motivasi hidup. Justru Muhammadiyah aktif mengelola ratusan dapur SPPG melalui kerja sama dengan Badan Gizi Nasional. Mereka mendukung substansi program pemberian gizi.

 

Yang mereka kritik adalah cara program ini dijalankan. Menurut Muhammadiyah, sejak awal MBG berjalan dengan transparansi tak jelas. Uji publik minim. Perencanaan dianggap kurang terbuka. Sementara berbagai masalah mulai bermunculan satu per satu seperti karakter antagonis dalam sinetron yang tak pernah tamat.

 

Yang paling menegangkan tentu isu korupsi. Di Indonesia, korupsi memang memiliki kemampuan adaptasi luar biasa. Ia bisa muncul di proyek jalan, proyek gedung, proyek bansos, kadang terasa siap hadir di acara yang belum resmi dimulai. Begitu ada anggaran ratusan triliun lewat, korupsi seperti hiu yang mencium aroma darah dari jarak ribuan kilometer.

 

Karena itulah Muhammadiyah mendukung judicial review di Mahkamah Konstitusi. Gugatannya bukan kelas ecek-ecek. Ada perkara Nomor 40, 52, dan 55 Tahun 2026 yang diajukan Koalisi MBG Watch bersama Transparency International Indonesia, YLBHI, LBH Jakarta, Sajogyo Institute, YLKI, KOSPI, dan Muhammadiyah sendiri.

 

Yang dipersoalkan adalah masuknya MBG ke dalam komponen anggaran pendidikan dengan nilai fantastis sekitar Rp268 hingga Rp335 triliun dalam APBN 2026. Angka itu begitu besar sampai kalkulator murah di warung minta cuti mau nonton Piala Dunia.

 

Para pemohon menilai kebijakan tersebut berpotensi menggerus prioritas pendidikan inti. Mereka khawatir anggaran seharusnya memperbaiki sekolah, meningkatkan kesejahteraan guru, dan memperluas akses pendidikan malah tersedot ke program yang sejatinya lebih dekat dengan urusan gizi dan kesehatan.

 

Bayangkan guru honorer masih berjuang dengan penghasilan pas-pasan. Bayangkan sekolah yang atapnya bocor setiap hujan sehingga murid bisa belajar sekaligus praktik renang gaya dada. Lalu bayangkan semua itu harus bersaing dengan program raksasa yang menyedot perhatian nasional.

 

Pemerintah dan DPR tentu membela MBG. Mereka menyebut program ini sebagai investasi SDM dan bagian dari pembangunan manusia sesuai amanat konstitusi.

 

Namun Muhammadiyah memilih berdiri di posisi berbeda. Mereka tidak menolak makan bergizi. Mereka tidak menolak masa depan anak-anak. Mereka hanya mengingatkan, niat baik tanpa tata kelola yang baik sering kali berubah menjadi festival pemborosan yang dibungkus pidato patriotik.

 

Kini panggung berpindah ke Mahkamah Konstitusi. Hakim-hakim MK akan menjadi wasit dalam pertarungan antara ambisi program prioritas dan tuntutan transparansi.

 

Sementara rakyat menonton dari tribun, memegang jagung rebus imajiner, berharap satu hal sederhana, semoga ratusan triliun rupiah benar-benar sampai kepada anak-anak Indonesia, bukan malah tersesat di labirin proyek, vendor, dan kantong-kantong yang selalu lapar meski sudah kenyang berkali-kali.

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

 

Komentar
  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Rekomendasi

  • 5 Rekomendasi Pantai di Garut Asyik Liburan Idul Fitri

    5 Rekomendasi Pantai di Garut Asyik Liburan Idul Fitri

    • calendar_month Minggu, 22 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Libur Idul Fitri selalu membawa kita pada satu kata yang sederhana namun dalam: pulang. Bukan sekadar kembali ke kampung halaman, tetapi kembali pada ketenangan yang sering hilang di tengah rutinitas. Di Garut, pulang bisa berarti menyusuri jalan menuju pantai selatan—tempat di mana debur ombak seolah menghapus penat, dan angin laut membawa rasa syukur […]

  • Leuweung Sancang di Garut Dianggap Menakutkan? Ini Alasannya

    Leuweung Sancang di Garut Dianggap Menakutkan? Ini Alasannya

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle Hakim Ghani
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Sancang adalah sebuah nama yang bagi sebagian kalangan terasa sangat menakutkan untuk didengar. Di balik keindahan alamnya, Sancang menyimpan banyak misteri hingga terkesan angker dan menakutkan. Apa alasannya? Di antara beragam daerah yang ada di Kabupaten Garut, Sancang adalah salah satu yang paling menjadi sorotan. Letaknya yang jauh dari hingar-bingar perkotaan dan didominasi […]

  • Misteri Tato di Tubuh Korban: Kunci Motif Perbuatan Taufik?

    Misteri Tato di Tubuh Korban: Kunci Motif Perbuatan Taufik?

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • account_circle Nurul Indra, Mantan Jurnalis, Asisten Peneliti
    • 0Komentar

    Misteri yang masih berputar-putar di kepalaku dari kasus Taufik Hidayat ini tentu saja soal MOTIF. Kenapa Taufik melakukan itu? Aku yakin, banyak dari kita juga penasaran. Karena semakin banyak detail kasus ini terungkap, semakin sulit dipahami dengan logika orang kebanyakan. Mengetahui motif Taufik ini sangat penting. Nanti aku kasih tahu apa saja hal penting itu, […]

  • Tatarucingan: Kecerdasan Kolektif Warga Sunda

    Tatarucingan: Kecerdasan Kolektif Warga Sunda

    • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Dalam khazanah tradisi lisan Nusantara, masyarakat Sunda memiliki sebuah produk budaya yang unik bernama tatarucingan. Meski sering kali dianggap sebagai permainan kata yang remeh atau sekadar hiburan pelepas penat, tatarucingan sejatinya adalah manifestasi dari konsepsi kebudayaan Sunda yang mendalam. Ia merupakan perpaduan antara ketajaman logika, kekayaan bahasa, dan watak masyarakat Sunda yang menjunjung tinggi kejenakaan […]

  • Takzim pada Kyai

    Takzim pada Kyai

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saya takzim pada Pak Kyai ini. Self-awareness, tahu diri, meneduhkan dan memanusiawikan diri. Fokusnya ke diri. Begitu pun semestinya dengan semua ormas Islam. Banyak dari kita suka sok-sok an, ingin memperbaiki ini itu, padahal mungkin kebanyakan kita hanya menitipkan diri untuk hidup didalamnya dan justru kitalah yang diuntungkan oleh organisasi itu. Kalau semua […]

  • Jalur Perkotaan Disekat Saat Malam Tahun Baru di Garut

    Jalur Perkotaan Disekat Saat Malam Tahun Baru di Garut

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kepolisian Resor Garut menerapkan sistem penyekatan jalur perkotaan Kabupaten Garut, Jawa Barat untuk keamanan, ketertiban, dan kelancaran arus lalu lintas kendaraan yang diprediksi akan terjadi peningkatan saat malam tahun baru. “Untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan kelancaran arus lalu lintas saat perayaan malam Tahun Baru 2026 maka diberlakukan sistem pengamanan kota dengan melakukan penyekatan […]

expand_less