Breaking News

Menyoal Tradisi Samen, Pantai dan Jalan Kaki

  • account_circle Ibn Ghifarie, Penulis dan Peneliti Agama dan Media
  • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
  • visibility 1.199
  • print Cetak

Liburan ka laut menjadi agenda yang ditunggu-tunggu. Berbagai persiapan dilakukan untuk pergi mantai ke Rancabuaya yang berjarak sekitar 29,4 kilometer dari Darussalam, mulai dari makanan, air, beras, kastrol, sampai terpal buat berkemah alakadarnya.

Tidak seperti sekarang kendaraan ke Rancabuaya mudah didapatkan. Ada elf jurusan Garut-Rancabuaya, Bandung-Rancabuaya, Bungbulang-Rancabuaya. Dulu tahun 1990an masih jarang, kecuali ikut naik truk, mobil bak terbuka sambil papalidan. Jalan kaki sambil bernyanyi, menjadi andalan untuk bepergian ke daerah, termasuk liburan ke Puncak Guha yang terkenal dengan keindahan alamnya. Ya bisa sembilan sampai sepuluh jam untuk jalan kaki sampai ke laut.

Waktu itu kumpul di masjid Darussalam. Setelah salat dan ngaji subuh berangkat mantai sambil pamitan ke Ajengan. Meminta doa keselamatan selama di perjalanan, menginap di laut, kembali ke Pasarlama. A Ipan, anak Ua didapuk menjadi pemimpin rombongan.

Selama perjalanan bisa istirahat empat sampai lima kali untuk sampai ke laut kebanggaan Pemerintah Garut. Botram disepanjang jalan, terutama setelah tanjakan kapten yang terkenal dengan mitosnya jadi tempat ngalaleleson pertama. Cape euy!

Sore menjelang magrib saat ufuk merah menenggelamkan matahari menjadi pemandangan yang tak bisa dilewatkan, ketika tiba di laut yang terkenal dengan pulau seperti Buaya.

Pantai Rancabuaya berbatas langsung dengan Samudera Hindia dan memiliki ombak yang  sangat besar. Berhati-hatilah saat berenang. Ketika air laut surut, tampak hamparan batu karang yang cukup luas. Biota laut seperti ikan, siput, kepiting, dan agar laut semakin memberikan pesona pantai Rancabuaya yang asyik untuk dinikmati. Sambil minum kopi, wedang jahe, bakar-bakar ikan laut.

Konon, Rancabuaya berasal dari kata Ranca dan Buaya. Ranca berarti rawa dan buaya merujuk pada hewan buas yang hidup di dua alam. Orangtua dulu sering menegaskan pantai ini bukan berarti rawa-rawa tempat buaya, karena di Ranca tidak terdapat buaya.

Dulu lebih dikenal sebagai Pantai Ciliab. Nama Rancabuaya diambil dari sebuah pulau yang menonjol ke tengah lautan dan bentuknya persis seperti buaya. Bila dilihat dari Puncak Guha, pulau yang indah pemandangannya bak buaya itu tepat berada di Desa Purbayani.

Bosan liburan ke Rancabuaya, pantai Cijayana menjadi tujuan papalidan setelah samen. Seperti biasa selesai salat dan ngaji subuh di masjid Darussalam siap-siap berangkat ke Cijayana yang terkenal dengan sebutan laut di atas awan.

Ya, jalan kaki, saking peduli masyarakat, orangtua yang mengemudikan kendaraan truk ketika anak-anak berjalan sekitar enam orang. Mobil berhenti dan Pak Supir bertanya, “Jang kamarana?”

Kujawab “Ka Laut!”

“Hayu atuh pan ieu ge bade ka Laut!”

“Alhamdulillah aya nu nawisan papalidan, janten hente kedah jalan teras,” celetuk Alo.

Padahal jarak ke Cijayana masih terpaut empat kilometer. Ya baru jalan setengah lebih. Jarak dari Darussalam ke Cijayana sekitar 12,6 kilometer. Bila jalan kaki bisa tiga sampai empat jam waktu yang dibutuhkan untuk mencapai pantai yang memiliki masjid Al Jabbar.

Cijayana memiliki air yang biru. Bila terkena sinar matahari maka hamparan laut berkilau seperti permata. Indah banget!

Tiba di bibir pantai setelah zuhur, cari tempat adem, rindang untuk berkemah. Jelang sore hujan besar dordar gelap turun, hingga pagi hari. Walhasil tidak bisa menikmati sunset, suasana api unggun, bakar ayam yang sudah dibawa dari rumah, bakar ikan yang dibeli dari pantai, mancing ikan, main bola, bikin istana dari pasir, termasuk menikmati sunrise sambil berenang.

Jelang siang hari, sekitar pukul sepuluh seorang Bapak berumur 50 tahun datang menghampiri tenda sambil bertanya, “Jang tos lami kemping!”

“Muhun ti kamari siang Pa!”

“Wengi pas hujan ageung didieu? Bapak nu tos biasa sieun. Syukur alhamdulillah ari sarehat, salamet hente aya nanaon mah” ucapnya.

“Abdi mah ngemutan teh tos kamana-mana, boa-boa ieu akhir hirup teh!” ujar Alo.

Gunung Wayang, Gunung Bedil, Cirompang, Leuwi Jurig, Leuwi Jubleg, Kabuyutan jadi tempat liburan asyik setelah samen.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Muhammad MBG Subianto

    Muhammad MBG Subianto

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Saking Ngefannya, Ibu Ini Kasih Nama Anaknya “Muhammad MBG Subianto” TIGARUT.COM — Untuk menghibur fans Prancis yang baru saja disingkirkan Spanyol 2-0, ada baiknya baca narasi ini. Kalian boleh ngefan sama Mbappe. Tapi, ibu ini malah ngefan sama MBG dan Prabowo Subianto. Begitu anaknya lahir dinamai dengan Muhammad MBG Subianto. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak! […]

  • Om Zein, Jangan Buka Lagi Aib yang Sudah Allah Tutupi

    Om Zein, Jangan Buka Lagi Aib yang Sudah Allah Tutupi

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Adrian | Perdana.Asia
    • visibility 100
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Tidak banyak pejabat yang berani meminta maaf. Karena itu, sikap Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein yang menyampaikan permohonan maaf patut dihargai.   Beliau juga telah menjelaskan bahwa lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat merupakan refleksi atas masa lalunya, bukan dimaksudkan untuk merendahkan perempuan. Penjelasan itu penting agar publik memahami konteks lahirnya lagu […]

  • Hasan Mustofa: Penghulu, Pujangga, dan Jiwa Sunda yang Berpikir

    Hasan Mustofa: Penghulu, Pujangga, dan Jiwa Sunda yang Berpikir

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 754
    • 0Komentar

    Hasan Mustofa hidup di masa peralihan: kolonialisme, modernitas, dan kebangkitan intelektual pribumi. Ia bahkan tercatat memiliki korespondensi dan kedekatan intelektual dengan Snouck Hurgronje, orientalis Belanda. Hubungan ini sering diperdebatkan, namun menunjukkan satu hal penting: Hasan Mustofa adalah pemikir yang berani berdialog, tanpa kehilangan identitas. Ia tidak anti dunia luar, tapi juga tidak silau. Ia berdiri […]

  • Bupati Garut Lantik PNS Baru, Jaga Integritas dan Semangat Melayani

    Bupati Garut Lantik PNS Baru, Jaga Integritas dan Semangat Melayani

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 166
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, memimpin Apel Gabungan yang dirangkaikan dengan Pelantikan dan Penyerahan Petikan Surat Keputusan (SK) Bupati Garut tentang Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut Tahun 2026.   Acara yang berlangsung di Lapangan Sekretariat Daerah (Setda) Garut, Jalan Pembangunan, Kecamatan Tarogong Kidul, Senin (06/04/2026) ini, menandai […]

  • Ritel Fesyen Sungguh Sangat Menarik Hati

    Ritel Fesyen Sungguh Sangat Menarik Hati

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Tedi Taufiqrahman, Penulis Leupas
    • visibility 244
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Baca laporan dari McKinsey tentang masa depan industri retail fashion 2026 memang sangat menarik. Berbekal laporan yang kaya gini saja, biasanya bikin orang jadi paling tahu masa depan. Paling pintar bernubuat. Dan kita sebagai orang paling bisa berdecak kagum; Oh ya? Akan seperti itu? Tahun kemarin, 2024 saya dengar ada seseorang meramalkan bahwa […]

  • Yuk Kenali Filosofi dan Rahasia Dodol yang Manis Legit Warisan Leluhur 

    Yuk Kenali Filosofi dan Rahasia Dodol yang Manis Legit Warisan Leluhur 

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Agung Prawibowo
    • visibility 311
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM Di balik teksturnya yang kenyal dan rasanya yang manis legit, dodol bukan sekadar kudapan tradisional. Makanan yang sering hadir dalam perayaan besar seperti Lebaran, Imlek, hingga hajatan adat ini menyimpan sejarah panjang dan filosofi mendalam tentang kebersamaan masyarakat Indonesia. Jejak Sejarah dan Penyebaran Dodol diperkirakan telah ada sejak zaman kerajaan di Nusantara. Meskipun setiap […]

expand_less