Menyoal Tradisi Samen, Pantai dan Jalan Kaki
- account_circle Ibn Ghifarie, Penulis dan Peneliti Agama dan Media
- calendar_month Kamis, 25 Des 2025
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Liburan ka laut menjadi agenda yang ditunggu-tunggu. Berbagai persiapan dilakukan untuk pergi mantai ke Rancabuaya yang berjarak sekitar 29,4 kilometer dari Darussalam, mulai dari makanan, air, beras, kastrol, sampai terpal buat berkemah alakadarnya.
Tidak seperti sekarang kendaraan ke Rancabuaya mudah didapatkan. Ada elf jurusan Garut-Rancabuaya, Bandung-Rancabuaya, Bungbulang-Rancabuaya. Dulu tahun 1990an masih jarang, kecuali ikut naik truk, mobil bak terbuka sambil papalidan. Jalan kaki sambil bernyanyi, menjadi andalan untuk bepergian ke daerah, termasuk liburan ke Puncak Guha yang terkenal dengan keindahan alamnya. Ya bisa sembilan sampai sepuluh jam untuk jalan kaki sampai ke laut.
Waktu itu kumpul di masjid Darussalam. Setelah salat dan ngaji subuh berangkat mantai sambil pamitan ke Ajengan. Meminta doa keselamatan selama di perjalanan, menginap di laut, kembali ke Pasarlama. A Ipan, anak Ua didapuk menjadi pemimpin rombongan.
Selama perjalanan bisa istirahat empat sampai lima kali untuk sampai ke laut kebanggaan Pemerintah Garut. Botram disepanjang jalan, terutama setelah tanjakan kapten yang terkenal dengan mitosnya jadi tempat ngalaleleson pertama. Cape euy!
Sore menjelang magrib saat ufuk merah menenggelamkan matahari menjadi pemandangan yang tak bisa dilewatkan, ketika tiba di laut yang terkenal dengan pulau seperti Buaya.
Pantai Rancabuaya berbatas langsung dengan Samudera Hindia dan memiliki ombak yang sangat besar. Berhati-hatilah saat berenang. Ketika air laut surut, tampak hamparan batu karang yang cukup luas. Biota laut seperti ikan, siput, kepiting, dan agar laut semakin memberikan pesona pantai Rancabuaya yang asyik untuk dinikmati. Sambil minum kopi, wedang jahe, bakar-bakar ikan laut.
Konon, Rancabuaya berasal dari kata Ranca dan Buaya. Ranca berarti rawa dan buaya merujuk pada hewan buas yang hidup di dua alam. Orangtua dulu sering menegaskan pantai ini bukan berarti rawa-rawa tempat buaya, karena di Ranca tidak terdapat buaya.
Dulu lebih dikenal sebagai Pantai Ciliab. Nama Rancabuaya diambil dari sebuah pulau yang menonjol ke tengah lautan dan bentuknya persis seperti buaya. Bila dilihat dari Puncak Guha, pulau yang indah pemandangannya bak buaya itu tepat berada di Desa Purbayani.
Bosan liburan ke Rancabuaya, pantai Cijayana menjadi tujuan papalidan setelah samen. Seperti biasa selesai salat dan ngaji subuh di masjid Darussalam siap-siap berangkat ke Cijayana yang terkenal dengan sebutan laut di atas awan.
Ya, jalan kaki, saking peduli masyarakat, orangtua yang mengemudikan kendaraan truk ketika anak-anak berjalan sekitar enam orang. Mobil berhenti dan Pak Supir bertanya, “Jang kamarana?”
Kujawab “Ka Laut!”
“Hayu atuh pan ieu ge bade ka Laut!”
“Alhamdulillah aya nu nawisan papalidan, janten hente kedah jalan teras,” celetuk Alo.
Padahal jarak ke Cijayana masih terpaut empat kilometer. Ya baru jalan setengah lebih. Jarak dari Darussalam ke Cijayana sekitar 12,6 kilometer. Bila jalan kaki bisa tiga sampai empat jam waktu yang dibutuhkan untuk mencapai pantai yang memiliki masjid Al Jabbar.
Cijayana memiliki air yang biru. Bila terkena sinar matahari maka hamparan laut berkilau seperti permata. Indah banget!
Tiba di bibir pantai setelah zuhur, cari tempat adem, rindang untuk berkemah. Jelang sore hujan besar dordar gelap turun, hingga pagi hari. Walhasil tidak bisa menikmati sunset, suasana api unggun, bakar ayam yang sudah dibawa dari rumah, bakar ikan yang dibeli dari pantai, mancing ikan, main bola, bikin istana dari pasir, termasuk menikmati sunrise sambil berenang.
Jelang siang hari, sekitar pukul sepuluh seorang Bapak berumur 50 tahun datang menghampiri tenda sambil bertanya, “Jang tos lami kemping!”
“Muhun ti kamari siang Pa!”
“Wengi pas hujan ageung didieu? Bapak nu tos biasa sieun. Syukur alhamdulillah ari sarehat, salamet hente aya nanaon mah” ucapnya.
“Abdi mah ngemutan teh tos kamana-mana, boa-boa ieu akhir hirup teh!” ujar Alo.
Gunung Wayang, Gunung Bedil, Cirompang, Leuwi Jurig, Leuwi Jubleg, Kabuyutan jadi tempat liburan asyik setelah samen.
- Penulis: Ibn Ghifarie, Penulis dan Peneliti Agama dan Media
- Sumber: https://bandungbergerak.id
