Breaking News

Burayot dari Lélés Garut

  • account_circle T. Bachtiar, Penulis dan Geolog
  • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
  • visibility 742
  • print Cetak

 

TIGARUT.COMM — MENYEBUT nama geografi Lélés di Kabupaten Garut, Jawa Barat, seolah identik dengan penganan manis khas Lélés, yaitu burayot. Disebut burayot karena bentuknya menyerupai kantung elastis sebesar buah sawo yang menggantung berat. Camilan ini bentuknya ngaburayot. Dibuat dari tepung beras dan gula merah/kawung. Camilan khas dari Kampung Kaum, Lèlès ini pada mulanya dirintis oleh Emak Ijah, yang semula sebagai pemilik rumahmakan di Lélés.

Karena usianya sudah sepuh, maka Emak Ijah (almarhumah) mencoba usaha yang dagangannya bisa dijajakan di rumah. Dicobalah membuat penganan manis, yang kemudian terkenal dengan sebutan burayot. Semula burayot ini dijajakan ke kantor Kecamatan Lélés, dan ternyata disukai. Kini seperti harapan perintisnya, para pembelilah yang berdatangan ke rumahnya.

Setiap hari, penerus Emak Ijah membuat adonan burayot sebanyak 40 kg. Borayot tidak akan berhentu sampai generasi kedua, karena usaha keluarga membuat burayot diteruskan oleh putra dan cucunya. Penganan khas Kecamatan Lélés itu bukan hanya burayot, tetap juga ada dodol inol di Desa Cangkuang, Salamnunggal, dan di Desa Ciburial.

Jarak dari pusat kota Kecamatan Lélés ke kota Garut sekitar 20 km atau ditempuh selama 45 menit dengan kendaraan. Lélés pun dilewati rel keretaapi dan ada stasiun kecil Lélés. Oleh para pemburu fotografi keretaapi, stasiun Lélés menjadi titik henti untuk kemudian berjalan ke tikungan besar rel keretaapi. Di tikungan besar ini, fotografer dapat memotret keretaapi secara utuh dari kepala sampai ekornya dalam bentuk yang melengkung setengah lingkaran.

Luas kawasan Kecamatan Lélés adalah 6.524.502 Ha persegi, membawahi 12 Desa, sebelah utara dibatasi oleh Kecamatan Kadungora, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Leuwigoong, sebelah selatan dengan Kecamatan Banyuresmi, dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Bandung.

Dalam tulisan Sejarah Kecamatan Leles Kabupaten Garut http://sejarahkecleles.blogspot.co.id/ (diakses tanggal 12/1/2018), nama geografi Lélés berasal dari kata polés. Dalam laman itu ditulis: “Leles merupakan penyangga Ibukota Kabupaten dimana tamu-tamu penting pada saat itu masuk melalui jalan raya maupun kereta api (dapat dilihat stasiun kereta api yang ada di Kadungora sampai saat ini namanya stasiun Leles ). Sehingga Bupati Garut pada saat itu dan DN Rafles menganggap bahwa infrastruktur Leles harus diperbaiki dan dibenahi maka terlontarlah kata-kata dengan menggunakan bahasa Sunda yang tidak pasih berulang-ulang mengatakan LES dengan maksud dipoles, maka sejak itulah Leles (pada saat Kewedanaan), kini menjadi Kecamatan Leles.”

Tentu, asal-usul nama geografi ini masih perlu didiskusikan, misalnya, diuji dengan pertanyaan: 1. Apakah dalam peta-peta sebelum dibuat rel keretaapi yang melewati Lélés, sudah ada nama geografi Lélés atau tidak? 2. Apakah sebelum adanya rel keretaapi, atau sebelum ibu Kota Kabupaten Garut dipindahkan dari Baluburlimbangan, apakah ada nama geografi Lélés yang tercantum dalam arsip kolonial?

Dalam A Dictionary of the Sunda Language of Java karya Jonathan Rigg. (Batavia, 1862), laman lélés artinya sama dengan kondang (Ficus subrasemosa BL). Ini artinya, pada mulanya kawasan ini banyak ditumbuhi raksasa hutan yang bernama pohon kondang. Di Jawa Barat, banyak juga nama geografi yang memakai kata kondang, seperti di Garut, Purwakarta, Sumedang, Sukabumi, Cianjur, dll.

Dalam buku karya K Heyne (1927), pohon kondang merupakan raksasa rimba yang tingginya mencapai 40 meter dengan garis tengah batang mencapai 1,75 cm. Kondang tersebar dari pantai sampai hutan di ketinggian 1.500 m.dpl. Dalam catatan Rumphius, seperti dikutip K Heyne, akar kondang dapat dimakan sebagai anti racun bila keracunan setelah makan ikan. Kayunya yang sudah kering, sangat bagus sebagai kayuapi, karena sekali menyala tak akan padam, sehingga banyak digunakan dalam pembuatan kapur atau menyuling arak. Kayunya kondang itu berat tapi lunak, tidak baik untuk pertukangan, namun sangat kuat bila dibuat tiang di laut atau pantai.

K Heyne melanjutkan, bila dikunyah, kulitnya terasa manis, dapat dipakai sebagai pengganti pinang muda dan rebusan kulitnya dapat menghentukan sakit murus darah. Setelah diuapkan, getahnya yang putih, dapat berfungsi sebagai lilin/malam dalam proses membatik, seperti banyak dilakukan di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Daunnya, atau pucuknya dapat dimakan mentah sebagai lalaban atau dimasak dengan kacang ijo. Buahnya yang setengah matang dimakan setelah dibelah dan diberi olesan garam. Menurut Rumphius, buah kondang ini banyak dimakan dengan kenari dan ikan kering.

Kini, pohon kondang sudah jarang ditemui, namun masih ada di beberapa tempat mulai dari pantai sampai hutan di lereng gunung. Oleh karena itu perlu ada usaha yang sungguh-sungguh untuk menanam kembali pohon kondang, mulai dari pantai sampai lereng gunung, karena manfaatnya yang baik bagi konstruksi bangunan di pantai, kuliner, dan kesehatan bila diolah dan dikembangkan dengan baik.

Apakah di Desa Lélés dan di Kecamatan Lélés, masih ada pohon kondang? Inilah alternatif lain dari tafsir nama geografi Lélés. Semoga bermanfaat.***

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Asal-Usul Kandang Wesi Garut: Antara Sejarah dan Cerita Rakyat

    Asal-Usul Kandang Wesi Garut: Antara Sejarah dan Cerita Rakyat

    • calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • visibility 132
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di wilayah selatan Kabupaten Garut terdapat sebuah kawasan yang dikenal dengan nama Kandang Wesi. Nama ini telah dikenal sejak lama dan masih menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat. Namun, hingga kini belum ditemukan sumber sejarah primer yang secara pasti menjelaskan bagaimana nama Kandang Wesi pertama kali muncul. Oleh karena itu, asal-usulnya lebih banyak hidup […]

  • MBG Bermanfaat atau Tidak? Dijawab, “Tidaaak!”

    MBG Bermanfaat atau Tidak? Dijawab, “Tidaaak!”

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 157
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ini bukan kuis berhadiah. Bukan polling Instagram, apalagi voting dangdut. Ini panggung nyata Hari Buruh 1 Mei 2026, ketika satu pertanyaan sederhana berubah jadi komedi nasional yang bikin netizen nyeduh Koptagul sambil ketawa miring.   Ceritanya begini, wak! Di tengah lautan buruh yang jumlahnya bukan kaleng-kaleng, Presiden Prabowo Subianto tampil penuh percaya diri. Gesture […]

  • Menghormati Hak Alam

    Menghormati Hak Alam

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
    • visibility 144
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saudaraku, bumi terlalu lama hadir di ruang sidang manusia hanya sebagai benda mati—tanah yang dibagi, sungai yang dibendung, hutan yang ditebang, laut yang diukur dengan angka keuntungan. Ia diperlakukan seperti properti tanpa suara, padahal manusialah yang hidup dari napasnya.   Dalam A Barrister for the Earth (2025), Monica Feria-Tinta menghadirkan gagasan yang mengguncang fondasi […]

  • Tips Optimasi Facebook untuk Creator dan Pemula

    Tips Optimasi Facebook untuk Creator dan Pemula

    • calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
    • account_circle Alimudin Garbiz, Share Creator
    • visibility 94
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — 🚨 JANGAN HERAN KALAU REELS KAMU SEPI!   Bisa jadi bukan karena kontenmu jelek. Bisa jadi… pengaturan Facebook-mu belum dioptimalkan! 😱   Ada beberapa pengaturan yang sering dilewatkan Creator, padahal layak dicek satu per satu.   🔥 6 PENGATURAN FACEBOOK YANG WAJIB KAMU CEK!   1️⃣ BUKA PELUANG KONTEN DITEMUKAN DARI LUAR FACEBOOK […]

  • 20 Juta Pelayat Bukti Pemimpin Dicintai dan Selalu Didoakan

    20 Juta Pelayat Bukti Pemimpin Dicintai dan Selalu Didoakan

    • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 146
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ada satu kenyataan yang tak pernah bisa dikalahkan oleh kekuasaan. Jabatan memiliki masa jabatan. Istana memiliki pintu keluar. Kekayaan memiliki ahli waris. Tetapi nama baik… bisa hidup jauh melampaui usia pemiliknya. Itulah yang tampak dalam prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei. Kita lanjutkan prosesi pemakaman jenazah Ali Khamenei yang menggerakkan jutaan rakyat Iran. Simak narasinya […]

  • 5 Rekomendasi Tempat Ngabuburit Instagramable di Garut

    5 Rekomendasi Tempat Ngabuburit Instagramable di Garut

    • calendar_month Minggu, 8 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 238
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Menjelang waktu berbuka puasa, banyak masyarakat memanfaatkan waktu dengan ngabuburit atau menunggu adzan Magrib sambil berjalan-jalan. Di Kabupaten Garut, terdapat sejumlah tempat menarik yang tidak hanya nyaman untuk bersantai, tetapi juga memiliki spot foto yang Instagramable. Berikut lima rekomendasi tempat ngabuburit di Garut yang cocok untuk menikmati suasana sore sekaligus berburu foto menarik. 1. […]

expand_less