Breaking News
dark_mode

Efek KDM, Kepala Daerah Lain Sering Dirujak Rakyatnya Sendiri

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIGARUT.COM — Selamat datang di era baru, era di mana rakyat tak lagi bisu. Kepala daerah tak lagi bisa pura-pura tuli. Ini bukan sekadar perubahan gaya kepemimpinan. Ini revolusi mental pakai sandal jepit yang keras, cepat, dan langsung kena muka.

 

Sejak muncul gaya KDM, yang tiap ada masalah langsung turun, dobrak, beres di tempat, standar kepemimpinan mendadak naik seperti roket Elon Musk, tapi tanpa tiket kembali. Rakyat sekarang punya pembanding nyata. Bukan janji kampanye, bukan baliho senyum tiga jari, tapi aksi. Itu mematikan bagi para pemimpin yang selama ini hidup dari pencitraan dan rapat tanpa ujung.

 

Dulu, kepala daerah itu seperti dewa kecil. Bicara sekali, bawahannya manggut sepuluh kali. Proyek jalan? Yang penting tanda tangan. Kualitas? Nanti saja, toh yang lewat cuma rakyat. Tapi sekarang? Satu lubang di jalan bisa berubah jadi lubang kubur karier. Satu video warga jatuh dari motor bisa menjelma jadi sidang rakyat versi digital, lengkap dengan jaksa, hakim, dan algojo bernama komentar.

 

Yang selama ini hobi meras anak buah, nunggu fee proyek, main mata dengan kontraktor, sekarang mulai gelisah. Bukan karena takut hukum, itu urusan nanti. Mereka takut satu hal, viral. Karena di zaman ini, viral lebih cepat dari surat panggilan. Lebih kejam dari vonis.

 

Ada yang masih santai, merasa aman di balik laporan manis dan media yang bisa dibeli. Mereka pikir realitas bisa disetting seperti konferensi pers. Mereka lupa, satu video warga dengan kamera retak bisa menghancurkan narasi yang dibangun miliaran. Media bisa kalian bayar, tapi algoritma tidak punya rekening.

 

Lalu muncullah tipe kepala daerah pelarian. Lebih sering nongkrong di Jakarta dari di wilayahnya sendiri. Rakyatnya mungkin hafal nama, tapi lupa wajah. Sekali pulang, bukannya disambut, malah disergap, “Pak, ini jalan depan kantor bapak sudah kayak bekas perang dunia.” Kamera hidup. Rakyat bicara. Selesai. Tidak perlu oposisi, rakyat sendiri sudah jadi oposisi permanen.

 

Ada juga yang mencoba meniru gaya KDM. Pakai rompi, turun ke lapangan, marah-marah ke bawahan. Sayangnya, akting kaku. Lebih mirip sinetron azab dari kepemimpinan. Rakyat sekarang tidak bodoh. Mereka bisa bedakan mana pemimpin yang kerja, mana yang syuting. Sekali ketahuan settingan, tamat. Dicibir habis-habisan, disayat pakai komentar yang lebih tajam dari silet warung.

 

Jangan coba-coba pakai jurus klasik, pencemaran nama baik. Itu bukan solusi, itu bunuh diri sosial. Rakyat yang tadinya cuma kecewa berubah jadi beringas. Dari kritik jalan rusak, melebar ke bongkar-bongkar gaya hidup. Dari lubang di aspal, merembet ke lubang di laporan kekayaan. Netizen itu kalau sudah marah, arsip lima tahun lalu pun bisa digali seperti fosil dinosaurus.

 

Ini efek KDM. Standar dinaikkan, kemalasan dibuka, kebusukan dipamerkan. Yang selama ini nyaman dalam gelap, tiba-tiba disorot lampu stadion. Tidak ada lagi tempat sembunyi. Tidak ada lagi alasan klasik. Rakyat sudah terlalu lama diam, dan sekarang mereka menemukan suaranya, dan suaranya bising, pedas, dan tak kenal ampun.

 

Pilihan bagi kepala daerah sekarang cuma dua, kerja benar atau siap dirujak. Bukan dirujak pakai sambal belacan, tapi dirajam pakai fakta, video, dan komentar tanpa rem. Karena di era ini, jabatan mungkin masih bisa diselamatkan dengan jaringan, tapi reputasi? Sekali hancur di tangan rakyat, tak ada tender yang bisa memperbaikinya.

 

Ingat baik-baik, wak…Rakyat sekarang bukan lagi penonton. Mereka sudah jadi sutradara.

Lalu, kalian yang sedang memimpin? Kalau tidak becus, cuma jadi badut di panggung sendiri.

 

“Efek KDM, lalu gimana efek Koptagul, Bang?”

 

“Efek Koptagul, otak encer dan waras, wak.” Ups

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

 

Komentar
  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Rekomendasi

  • Talaga Bodas – Permata Tersembunyi di Garut. Ini Rutenya

    Talaga Bodas – Permata Tersembunyi di Garut. Ini Rutenya

    • calendar_month Senin, 16 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di balik hamparan pegunungan hijau Kabupaten Garut, tersembunyi sebuah danau kawah yang memancarkan pesona luar biasa: Talaga Bodas. Namanya berarti “danau putih,” merujuk pada warna airnya yang putih kehijauan akibat kandungan belerang yang tinggi. Tempat ini sering disebut sebagai “Ranu Kumbolo-nya Garut” karena keindahan dan suasananya yang tenang dan alami. Setibanya di lokasi, hamparan […]

  • Cerpen “Air Keras di Tengah Malam Jakarta”

    Cerpen “Air Keras di Tengah Malam Jakarta”

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Malam Jakarta sering terlihat biasa saja. Lampu jalan berdiri seperti penjaga yang kelelahan, angin membawa bau aspal, dan kota raksasa itu pura-pura tidur. Padahal Jakarta jarang benar-benar tidur. Ia hanya menunggu tragedi berikutnya muncul di tikungan jalan.   Kamis malam, 12 Maret 2026.   Sekitar pukul 23.37 WIB, Andrie Yunus melaju sendirian dengan motor […]

  • Olahraga Bukan Sekadar Fisik, Media Akselerasi Pembangunan Daerah

    Olahraga Bukan Sekadar Fisik, Media Akselerasi Pembangunan Daerah

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — – Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, menghadiri acara Pembukaan Rapat Kerja Kabupaten (Rakerkab) Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Garut Tahun Kerja 2026, yang dilaksanakan di Gedung Pendopo Garut, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Selasa (13/1/2026). Bupati Garut juga selaku Ketua PBVSI Garut, menekankan konsep Development Through Sport atau pembangunan melalui olahraga sebagai […]

  • Menyoal Tradisi Samen, Pantai dan Jalan Kaki

    Menyoal Tradisi Samen, Pantai dan Jalan Kaki

    • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
    • account_circle Ibn Ghifarie, Penulis dan Peneliti Agama dan Media
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saat asyik menulis tentang lima sekolah, pondok pesantren mahasiswa yang dekat dengan kampus. Tiba-tiba istri nelpon. “Bah uih iraha?” Kujawab dengan singkat, “Magrib” Selesai salat langsung pulang dan berpamitan kepada kawan, satpam yang masih jaga. “Tipayun nya. Markipul. Assalamualaikum!” Memang sudah hampir satu pekan, aktivitas pulang dilakukan setelah salat magrib. Biasa mengerjakan laporan […]

  • Nah Ini Dia! 5 Keutamaan Kopi dari Gunung Papandayan

    Nah Ini Dia! 5 Keutamaan Kopi dari Gunung Papandayan

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Gunung Papandayan di Garut bukan hanya terkenal dengan panorama kawah dan padang edelweisnya, tetapi juga dengan kopi yang tumbuh di lereng-lerengnya. Kopi Papandayan memiliki karakter unik yang lahir dari perpaduan tanah vulkanik subur, udara sejuk pegunungan, dan tradisi petani lokal yang penuh dedikasi. Berikut adalah lima keutamaan kopi dari Papandayan yang membuatnya layak […]

  • Nah, Ini Dia! Tips Berwisata Aman Bareng Anak di Musim Hujan

    Nah, Ini Dia! Tips Berwisata Aman Bareng Anak di Musim Hujan

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM – Musim hujan sering dianggap kurang ideal untuk berlibur, terutama bagi keluarga yang membawa anak. Cuaca yang tidak menentu, jalan licin, hingga risiko anak mudah sakit menjadi kekhawatiran tersendiri. Meski begitu, liburan tetap bisa berjalan aman dan menyenangkan jika dipersiapkan dengan baik. Langkah Pertama Yang perlu diperhatikan adalah pemilihan destinasi wisata. Hindari lokasi yang rawan […]

expand_less