Breaking News

Efek KDM, Kepala Daerah Lain Sering Dirujak Rakyatnya Sendiri

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
  • visibility 174
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Selamat datang di era baru, era di mana rakyat tak lagi bisu. Kepala daerah tak lagi bisa pura-pura tuli. Ini bukan sekadar perubahan gaya kepemimpinan. Ini revolusi mental pakai sandal jepit yang keras, cepat, dan langsung kena muka.

 

Sejak muncul gaya KDM, yang tiap ada masalah langsung turun, dobrak, beres di tempat, standar kepemimpinan mendadak naik seperti roket Elon Musk, tapi tanpa tiket kembali. Rakyat sekarang punya pembanding nyata. Bukan janji kampanye, bukan baliho senyum tiga jari, tapi aksi. Itu mematikan bagi para pemimpin yang selama ini hidup dari pencitraan dan rapat tanpa ujung.

 

Dulu, kepala daerah itu seperti dewa kecil. Bicara sekali, bawahannya manggut sepuluh kali. Proyek jalan? Yang penting tanda tangan. Kualitas? Nanti saja, toh yang lewat cuma rakyat. Tapi sekarang? Satu lubang di jalan bisa berubah jadi lubang kubur karier. Satu video warga jatuh dari motor bisa menjelma jadi sidang rakyat versi digital, lengkap dengan jaksa, hakim, dan algojo bernama komentar.

 

Yang selama ini hobi meras anak buah, nunggu fee proyek, main mata dengan kontraktor, sekarang mulai gelisah. Bukan karena takut hukum, itu urusan nanti. Mereka takut satu hal, viral. Karena di zaman ini, viral lebih cepat dari surat panggilan. Lebih kejam dari vonis.

 

Ada yang masih santai, merasa aman di balik laporan manis dan media yang bisa dibeli. Mereka pikir realitas bisa disetting seperti konferensi pers. Mereka lupa, satu video warga dengan kamera retak bisa menghancurkan narasi yang dibangun miliaran. Media bisa kalian bayar, tapi algoritma tidak punya rekening.

 

Lalu muncullah tipe kepala daerah pelarian. Lebih sering nongkrong di Jakarta dari di wilayahnya sendiri. Rakyatnya mungkin hafal nama, tapi lupa wajah. Sekali pulang, bukannya disambut, malah disergap, “Pak, ini jalan depan kantor bapak sudah kayak bekas perang dunia.” Kamera hidup. Rakyat bicara. Selesai. Tidak perlu oposisi, rakyat sendiri sudah jadi oposisi permanen.

 

Ada juga yang mencoba meniru gaya KDM. Pakai rompi, turun ke lapangan, marah-marah ke bawahan. Sayangnya, akting kaku. Lebih mirip sinetron azab dari kepemimpinan. Rakyat sekarang tidak bodoh. Mereka bisa bedakan mana pemimpin yang kerja, mana yang syuting. Sekali ketahuan settingan, tamat. Dicibir habis-habisan, disayat pakai komentar yang lebih tajam dari silet warung.

 

Jangan coba-coba pakai jurus klasik, pencemaran nama baik. Itu bukan solusi, itu bunuh diri sosial. Rakyat yang tadinya cuma kecewa berubah jadi beringas. Dari kritik jalan rusak, melebar ke bongkar-bongkar gaya hidup. Dari lubang di aspal, merembet ke lubang di laporan kekayaan. Netizen itu kalau sudah marah, arsip lima tahun lalu pun bisa digali seperti fosil dinosaurus.

 

Ini efek KDM. Standar dinaikkan, kemalasan dibuka, kebusukan dipamerkan. Yang selama ini nyaman dalam gelap, tiba-tiba disorot lampu stadion. Tidak ada lagi tempat sembunyi. Tidak ada lagi alasan klasik. Rakyat sudah terlalu lama diam, dan sekarang mereka menemukan suaranya, dan suaranya bising, pedas, dan tak kenal ampun.

 

Pilihan bagi kepala daerah sekarang cuma dua, kerja benar atau siap dirujak. Bukan dirujak pakai sambal belacan, tapi dirajam pakai fakta, video, dan komentar tanpa rem. Karena di era ini, jabatan mungkin masih bisa diselamatkan dengan jaringan, tapi reputasi? Sekali hancur di tangan rakyat, tak ada tender yang bisa memperbaikinya.

 

Ingat baik-baik, wak…Rakyat sekarang bukan lagi penonton. Mereka sudah jadi sutradara.

Lalu, kalian yang sedang memimpin? Kalau tidak becus, cuma jadi badut di panggung sendiri.

 

“Efek KDM, lalu gimana efek Koptagul, Bang?”

 

“Efek Koptagul, otak encer dan waras, wak.” Ups

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

 

  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Psikologi Islam dan Paradigma Keilmuan Konseling Islam

    Psikologi Islam dan Paradigma Keilmuan Konseling Islam

    • calendar_month Rabu, 8 Apr 2026
    • account_circle S. Miharja, Dosen Pascasarjana UIN Bandung
    • visibility 205
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM —   Buku Psikologi Islami: Sejarah, Corak dan Model karya Sekar Ayu Aryani (2018) memberikan kontribusi penting dalam membangun fondasi epistemologis psikologi berbasis Islam yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga metodologis dan ilmiah. Pemikiran dalam buku ini memiliki relevansi kuat terhadap perkembangan paradigma keilmuan Konseling Islam, terutama dalam merumuskan pendekatan integratif antara wahyu, […]

  • 5 Cara Nelayan Garut Selatan Menangkap Ikan, Masih Andalkan Konvensional

    5 Cara Nelayan Garut Selatan Menangkap Ikan, Masih Andalkan Konvensional

    • calendar_month Rabu, 2 Sep 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 38
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM – Laut selatan Garut bukan sekadar hamparan biru yang membentang sejauh mata memandang. Di balik debur ombak Pantai Santolo, Rancabuaya, Cijeruk, Cicalobak hingga Cimarimuara, tersimpan cerita panjang tentang nelayan yang menggantungkan kehidupan dari laut.   Pagi-pagi sekali, ketika sebagian orang masih terlelap, perahu-perahu kecil mulai bergerak meninggalkan tepian. Jaring, pancing, perahu sederhana, serta pengalaman […]

  • 8 Tips Aman Lewat Tanjakan Panganten Garut. Simak Baik-baik Ya!

    8 Tips Aman Lewat Tanjakan Panganten Garut. Simak Baik-baik Ya!

    • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 320
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Tanjakan Panganten di Garut dikenal sebagai salah satu jalur pegunungan paling menantang. Jalan curam, tikungan tajam, jurang di sisi jalan, serta kabut yang sering turun bikin pengendara wajib ekstra waspada. Biar perjalanan tetap aman, perhatikan tips berikut ini. 1. Pastikan Kendaraan dalam Kondisi Prima Sebelum melintas, cek rem, kopling, ban, dan mesin. Untuk […]

  • 5 Pantai Indah di Garut yang Layak Dikunjungi

    5 Pantai Indah di Garut yang Layak Dikunjungi

    • calendar_month Sabtu, 29 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 47
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut bukan hanya soal pegunungan dan wisata alam di dataran tinggi. Garut Selatan juga menyimpan deretan pantai yang menghadap langsung ke Samudra Hindia, dengan karakter alam yang beragam—mulai dari pasir, karang, tebing, hingga panorama matahari terbenam. 1. Pantai Santolo — Ikon Wisata Bahari Garut Pantai Santolo menjadi salah satu pantai paling populer di Garut […]

  • 5 Tokoh Asal Garut yang Menginspirasi, dari Pendopo hingga Panggung Nasional

    5 Tokoh Asal Garut yang Menginspirasi, dari Pendopo hingga Panggung Nasional

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 249
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut selalu punya cara untuk membuat orang rindu. Bukan hanya karena dodol, gunung, dan hamparan kebun tehnya, tetapi juga karena tanah ini melahirkan banyak sosok besar yang jejaknya melampaui batas kota. Dari kaki Gunung Cikuray hingga hiruk-pikuk Alun-alun Garut, lahir nama-nama yang memberi warna bagi pendidikan, budaya, musik, hingga pemerintahan nasional. Di setiap sudut […]

  • Merawat Makna

    Merawat Makna

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Teddy Yusuf, Penulis Lepas
    • visibility 158
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Bagi kita, ada batas yang perlu dijaga: pemaknaan boleh berkembang, tetapi praktik yang sudah menjadi tradisi kolektif tidak otomatis bisa dibatalkan hanya oleh satu tafsir; dari sebuah pemaknaan baru. Tradisi ibadah itu lahir dari akumulasi waktu; tidak datang ujug ujug, tapi dari pembacaan teks yang panjang, praktik “urf generasi awal, lalu dilanjutkan dengan penerimaan […]

expand_less