Breaking News

Menghidupkan Kartini

  • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
  • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
  • visibility 195
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Saudaraku, menghidupkan Kartini bukan sekadar mengenang nama, melainkan menyalakan lentera jiwa. Ia hidup dalam hasrat belajar tanpa henti—dari buku, dari kehidupan, dari luka bangsanya, dari cahaya dunia. Pengetahuan menyulutnya keberanian menjawab tantangan zaman.

 

Ia hadir dalam daya juang yang tenang namun teguh—menembus derita, melampaui batas, merajut relasi, menempa diri. Dari sana tumbuh emansipasi bermartabat: kecakapan yang bertanggung jawab, kehormatan yang menggerakkan peradaban, cinta yang mengangkat sesama dan meluaskan kemanusiaan.

 

Kartini adalah suara nurani yang gelisah. Menatap bahtera oleng, ia menulis: “Andaikata aku anak laki-laki, aku tak akan berpikir dua kali untuk menjadi pelaut… Kami tak ingin berlayar di kapal yang tenggelam; keberanian tangan memegang kemudi dan memompa kebocoran akan menyelamatkan kita.” Keselamatan baginya bukan penantian, melainkan buah tindakan.

 

Ia pun menyelami kasih yang lebih dalam. Dengan lirih ia bertanya: “Agama dimaksudkan sebagai karunia bagi manusia… Kita semua adalah saudara… tetapi sepanjang abad-abad yang telah lewat menjadi biang-keladi peperangan dan perpecahan.” Kegelisahan itu tak meruntuhkan iman, justru meluaskan persaudaraan melampaui sekat.

 

Seruannya tetap bergema: bangkitlah—dari lumpuhnya jiwa dan kebiasaan menunggu. Sebab negeri ini tampak tumbuh, namun rapuh di dalam; arah kabur, nilai goyah, langkah berjalan tanpa haluan.

 

Di tengah gelombang, banyak yang menyelamatkan diri, sementara yang lain terabaikan. Bahaya terbesar bukan badai, melainkan sikap menyerah—mentalitas menunggu penyelamat. Tanpa keberanian, retakan kecil menjurus kehancuran.

 

Menghidupkan Kartini berarti menolak jadi penonton. Ia memanggil kita menyalakan etos kepahlawanan: hadir utuh, melawan ketidakadilan, merawat harapan dengan kerja nyata—bukan keluhan.

 

Di tengah ombak ganas, kita tak dipanggil untuk lari, melainkan mencinta, memperbaiki, menjadi terang. Kita pun tak lupa berdoa: “Ya Tuhan, lautan ini luas dan bergelora, bahtera kami terombang-ambing; jangan biarkan kami hanya memohon selamat, ajari kami berani memegang kemudi agar arah diluruskan dan harapan menemukan pelabuhan.”

 

  • Penulis: Yudi Latif, Direktur Reform Institute

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Aproval Rating Sang Gubernur Konten 

    Aproval Rating Sang Gubernur Konten 

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Ridhazia, Wartawan Senior
    • visibility 179
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — KDM masuk bursa bakal calon pemimpin nasional. Bahkan digadang-gadang menjadi presiden/wakil presiden. Tingkat kepuasan publik (approval rating) di Jawa Barat terhadap kinerjanya sangat tinggi, dan hampir sempurna hingga mencapai 95,5% per Februari 2026.   Tokoh Sunda Dekat Rakyat   Tingginya apresiasi publik terhadap kinerja Gubernur Jawa Barat berdasarkan hasil survei terbaru hingga awal 2026 […]

  • Asyik! Garut Siapkan Jalur Mudik Lintas Selatan

    Asyik! Garut Siapkan Jalur Mudik Lintas Selatan

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 222
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Untuk melayani dan demi kelancaran arus mudik, Pemerintah Kabupaten Garut, Jawa Barat (Jabar) segera melakukan perbaikan infrastruktur jalan Singajaya-Cibalong yang menghubungkan dengan jalur lintas selatan Jabar. Langkah ini diambil untuk memudahkan masyarakat dalam berbagai aktivitas pendidikan dan perekonomian seperti pendistribusian hasil pertanian dan pariwisata.   “Itu l salah satu jalur prioritas pengembangan wilayah […]

  • Cuma Indonesia yang punya 4 “Choke Point” ini. Tapi So What?

    Cuma Indonesia yang punya 4 “Choke Point” ini. Tapi So What?

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
    • account_circle Budhiana Kartawijaya, geopolitics enthusiast.
    • visibility 86
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Selama ini, ketika mendengar istilah choke point, pikiran kita langsung tertuju pada Selat Hormuz, Selat Malaka, atau Terusan Suez. Dalam geopolitik klasik, choke point adalah jalur sempit yang mengendalikan arus perdagangan dan energi dunia. Siapa yang menguasainya memiliki daya tawar yang sangat besar. Iran adalah contoh paling menarik. Negara itu tidak memiliki ekonomi sebesar […]

  • Pelantikan MUI Garut 2025-2030, Jadikan Awal Baru dan Semangat Pengembang Amanah

    Pelantikan MUI Garut 2025-2030, Jadikan Awal Baru dan Semangat Pengembang Amanah

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 253
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Barat, Aang Abdullah Zein, Melantik dan Pengukuhan Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut Masa Khidmat 2025-2030, yang dilaksanakan di Gedung Pendopo Garut, Jalan Kabupaten, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Rabu (7/1/2026). Kegiatan ini di hadiri juga oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Garut, Forkopimda, Anggota DPRD Kabupaten Garut, […]

  • Dedi Mulyadi dan Wacana Bayar Jalan: Rakyat Jangan Terus Diperas

    Dedi Mulyadi dan Wacana Bayar Jalan: Rakyat Jangan Terus Diperas

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Alimudin Garbiz, Share Creator, Pemerhati Sosial Politik
    • visibility 136
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Dedi Mulyadi melempar wacana penghapusan pajak kendaraan bermotor lalu menggantinya dengan sistem bayar jalan provinsi. Sekilas terdengar modern dan inovatif. Dibungkus dengan istilah “keadilan”: siapa yang sering memakai jalan, dia yang lebih banyak membayar.   Tetapi rakyat tidak hidup dari istilah. Rakyat hidup dari pengeluaran sehari-hari.   Hari ini masyarakat sudah dibebani: harga sembako […]

  • Lima Sila sebagai Lima Luka

    Lima Sila sebagai Lima Luka

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
    • visibility 177
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saudaraku, Pancasila tidak terancam oleh mereka yang membencinya. Ia lebih terluka oleh mereka yang mengaku paling mencintainya.   Setiap 1 Juni, kita mengenang kelahirannya. Namun jarang memeriksa nasibnya.   Pancasila terpajang di dinding; korupsi berakar dalam sistem. Pancasila dibacakan dalam upacara; keadilan mengantre di pintu kuasa. Pancasila menjadi slogan pidato; rakyat kerap hanya […]

expand_less