Breaking News

Yuk Kenali Filosofi dan Rahasia Dodol yang Manis Legit Warisan Leluhur 

  • account_circle Agung Prawibowo
  • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
  • visibility 309
  • print Cetak

TIGARUT.COM Di balik teksturnya yang kenyal dan rasanya yang manis legit, dodol bukan sekadar kudapan tradisional. Makanan yang sering hadir dalam perayaan besar seperti Lebaran, Imlek, hingga hajatan adat ini menyimpan sejarah panjang dan filosofi mendalam tentang kebersamaan masyarakat Indonesia.

Jejak Sejarah dan Penyebaran

Dodol diperkirakan telah ada sejak zaman kerajaan di Nusantara. Meskipun setiap daerah memiliki klaim sejarahnya masing-masing, Dodol Garut seringkali menjadi ikon paling populer di Indonesia sejak era kolonial.

Dikutib dari disparbud.jabarprov.go.id Menurut catatan sejarah, popularitas dodol mulai meningkat pesat di Garut sekitar tahun 1926 melalui tangan industri rumah tangga. Seiring berjalannya waktu, variasi dodol menyebar ke seluruh penjuru negeri dengan nama dan karakteristik berbeda, seperti Lempok Durian di Sumatera, Dodol Betawi di Jakarta, hingga Jenang di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Filosofi di Balik Kuali Besar

Proses pembuatan dodol bukanlah perkara mudah. Di daerah Betawi, misalnya, membuat dodol adalah simbol gotong royong. Karena membutuhkan waktu pengadukan selama 8 hingga 12 jam di atas tungku kayu bakar, proses ini biasanya dilakukan secara bergantian oleh para pria di kampung.

“Dodol adalah simbol kesabaran dan ketekunan. Jika api tidak dijaga atau pengadukan berhenti sebentar saja, tekstur dodol akan rusak atau gosong di bagian bawah,” ujar salah satu perajin dodol tradisional.

Ketekunan ini melambangkan nilai musyawarah dan silaturahmi yang erat, karena hasilnya nanti akan dibagikan kepada tetangga dan sanak saudara.

Bahan Baku dan Rahasia Tekstur Sempurna

Berdasarkan standar kuliner tradisional, dodol yang berkualitas tinggi hanya menggunakan bahan-bahan alami tanpa pengawet buatan. Komposisi utamanya meliputi:

Tepung Beras Ketan: Memberikan tekstur kenyal dan elastis.

Gula Merah/Gula Aren: Menentukan aroma khas dan warna cokelat gelap yang mengkilap.

Santan Kelapa: Memberikan rasa gurih (creamy) dan kandungan minyak alami yang membuat dodol tahan lama secara organik.

Dodol adalah bukti nyata bagaimana kuliner mampu bertahan melintasi zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Menikmati sepotong dodol bukan hanya soal rasa, tapi juga menghargai warisan budaya yang diolah dengan keringat dan kesabaran.

 

 

  • Penulis: Agung Prawibowo
  • Sumber: RRI

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Antara Bisa Membaca Kitab dan Layak Menjadi Pewaris Pondok

    Antara Bisa Membaca Kitab dan Layak Menjadi Pewaris Pondok

    • calendar_month Minggu, 12 Apr 2026
    • account_circle Lubab Zaman, Pemilik Channel Drama @lindtivi
    • visibility 174
    • 0Komentar

    Prompt:   Modal bisa baca kitab, sudah sah jadi “pewaris pondok”. Karena sealim-alimnya calon kiai, sia-sia saja mengajar kitab kalau masih “translit Jawa sentris”. Maka, dengarkan ketika “anak kiai” mulai mengajar kitab! Pertama, apakah hanya fokus translit? Kedua, apakah bisa menerjemahkan dalam bahasa lisannya sendiri? Ketiga, tanpa melihat kitab, apakah mampu menyampaikan matan-matan kitab?   […]

  • Puncak Prestasi Seorang Muslim 

    Puncak Prestasi Seorang Muslim 

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • visibility 164
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Inilah Puncak Prestasi Seorang Muslim 1. Amal-amal kebaikannya lebih banyak dari dosa-dosa dan kesalahannya.   2. Tidak termasuk golongan yang amalnya banyak di hadapan manusia dan banyak menuai pujian manusia, tapi di akhirat hanya debu beterbangan karena tidak bermakna, yang pahalanya dilemparkan ke wajahnya sambil Allah berkata: “Cari pujian manusia dari amal-amalmu!! Kamu […]

  • Pak Presiden yang Terhormat,

    Pak Presiden yang Terhormat,

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • visibility 145
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Jarang saya mendengar reaksi positif pada program MBG. Yang saya dengar dan baca, selalu negatif. Niatnya bagus, tapi caranya ganjil. Ada negara besar di zaman modern “memberi makan langsung rakyatnya.” Memberikan makan langsung adalah kewajiban orang tua di keluarga pada anak-anaknya.   Yang merasakan positif, bukan rakyat yang diberi makan, karena banyak masalah, tapi […]

  • Cara Warga Desa “Dipaksa” Belanja ke Kopdes Merah Putih

    Cara Warga Desa “Dipaksa” Belanja ke Kopdes Merah Putih

    • calendar_month Senin, 20 Jul 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 73
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Satu kelebihan pemerintah, ia punya power memaksa. Mungkin selama ini Kopdes Merah Putih atau KDMP banyak jadi lelucon. “Wah, bakal jadi kopdes rumah hantu tu.” Pemerintah lalu mengeluarkan jurus mematikan, memaksa warga desa untuk belanja di Kopdes walau jaraknya jauh. Caranya? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak! Nuan bayangkan suatu pagi di desa. […]

  • Mendidik dengan Kelembutan

    Mendidik dengan Kelembutan

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle Yayat Rohayati, M.Pd
    • visibility 238
    • 0Komentar

    Mendidik dengan kelembutan merupakan pendekatan yang menekankan kasih sayang, kesabaran, dan empati dalam proses pendidikan. Teori humanistic learning dari Carl Rogers menekankan bahwa setiap anak memiliki potensi berkembang bila ia merasa diterima, dihargai, dan dipahami. Dalam konteks anak usia Madrasah Tsanawiyah (MTs), fase remaja awal yang sedang mencari jati diri, kelembutan guru dan orang tua […]

  • Jati Diri Manusia Sunda Sejati ala Haji Hasan Mustofa

    Jati Diri Manusia Sunda Sejati ala Haji Hasan Mustofa

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Ibn Ghifarie, Penulis dan Peneliti Agama dan Media
    • visibility 595
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Diakui atau tidak, keberadaan Ki Sunda (bahasa, aksara, sastra, agama) tinggal menanti sang penjemput ajal tiba. Ibarat pepatah, hidup enggan mati tak mau. Pasalnya, kehadiran mojang-jajaka selaku generasi penerus sekaligus penjaga khazanah kesundaan tak mau belajar kesundaan. Sekadar contoh, kawula muda bangga berkomunikasi dengan memakai bahasa persatuan (Indonesia ala Betawi) di Tanah Pasundan. […]

expand_less