Breaking News
dark_mode

Yuk Kenali Filosofi dan Rahasia Dodol yang Manis Legit Warisan Leluhur 

  • account_circle Agung Prawibowo
  • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIGARUT.COM Di balik teksturnya yang kenyal dan rasanya yang manis legit, dodol bukan sekadar kudapan tradisional. Makanan yang sering hadir dalam perayaan besar seperti Lebaran, Imlek, hingga hajatan adat ini menyimpan sejarah panjang dan filosofi mendalam tentang kebersamaan masyarakat Indonesia.

Jejak Sejarah dan Penyebaran

Dodol diperkirakan telah ada sejak zaman kerajaan di Nusantara. Meskipun setiap daerah memiliki klaim sejarahnya masing-masing, Dodol Garut seringkali menjadi ikon paling populer di Indonesia sejak era kolonial.

Dikutib dari disparbud.jabarprov.go.id Menurut catatan sejarah, popularitas dodol mulai meningkat pesat di Garut sekitar tahun 1926 melalui tangan industri rumah tangga. Seiring berjalannya waktu, variasi dodol menyebar ke seluruh penjuru negeri dengan nama dan karakteristik berbeda, seperti Lempok Durian di Sumatera, Dodol Betawi di Jakarta, hingga Jenang di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Filosofi di Balik Kuali Besar

Proses pembuatan dodol bukanlah perkara mudah. Di daerah Betawi, misalnya, membuat dodol adalah simbol gotong royong. Karena membutuhkan waktu pengadukan selama 8 hingga 12 jam di atas tungku kayu bakar, proses ini biasanya dilakukan secara bergantian oleh para pria di kampung.

“Dodol adalah simbol kesabaran dan ketekunan. Jika api tidak dijaga atau pengadukan berhenti sebentar saja, tekstur dodol akan rusak atau gosong di bagian bawah,” ujar salah satu perajin dodol tradisional.

Ketekunan ini melambangkan nilai musyawarah dan silaturahmi yang erat, karena hasilnya nanti akan dibagikan kepada tetangga dan sanak saudara.

Bahan Baku dan Rahasia Tekstur Sempurna

Berdasarkan standar kuliner tradisional, dodol yang berkualitas tinggi hanya menggunakan bahan-bahan alami tanpa pengawet buatan. Komposisi utamanya meliputi:

Tepung Beras Ketan: Memberikan tekstur kenyal dan elastis.

Gula Merah/Gula Aren: Menentukan aroma khas dan warna cokelat gelap yang mengkilap.

Santan Kelapa: Memberikan rasa gurih (creamy) dan kandungan minyak alami yang membuat dodol tahan lama secara organik.

Dodol adalah bukti nyata bagaimana kuliner mampu bertahan melintasi zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Menikmati sepotong dodol bukan hanya soal rasa, tapi juga menghargai warisan budaya yang diolah dengan keringat dan kesabaran.

 

 

Komentar
  • Penulis: Agung Prawibowo
  • Sumber: RRI

Rekomendasi

  • 5 Kaulinan Barudak di Tatar Sunda yang Sebentar Lagi Punah!

    5 Kaulinan Barudak di Tatar Sunda yang Sebentar Lagi Punah!

    • calendar_month Sabtu, 24 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Suku Sunda memiliki beragam permainan tradisional unik yang dikenal dengan sebutan kaulinan barudak. Berikut di bawah ini adalah 5 permainan tradisional Sunda yang populer:  1. Cingciripit Permainan ini biasanya dilakukan untuk menentukan siapa yang menjadi “kucing” atau penjaga dalam permainan selanjutnya. Cara mainnya, para pemain melingkar dan meletakkan satu jari telunjuk di telapak […]

  • Kemenangan Netizen

    Kemenangan Netizen

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Terus terang saya lega. Lega seperti habis memenangkan perang besar. Bukan perang pakai tank, rudal, atau pasukan elite. Ini perang pakai jempol, komentar nyinyir, share brutal, dan rasa sakit hati kolektif rakyat internet. Tiga hari lamanya lini masa berubah jadi medan tempur. Tidak ada sirene perang, yang ada notifikasi tanpa henti. Tidak ada pasukan […]

  • Amerika Kalah dalam Systemic War?

    Amerika Kalah dalam Systemic War?

    • calendar_month Minggu, 26 Apr 2026
    • account_circle Budhiana Kartawijaya, geopolitics enthusiast.
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Siapa pemenang perang ini? AS-Israel? Atau Iran? Menurut saya, pertanyaan hitam-putih seperti itu didasarkan pada asumsi bahwa perang adalah sesuatu yang langsung (direct), satu atau dua front, dan simetri. Taktik perang langsung untuk meraih strategi. Siapa yang kalah di medan front tempur (battle), dia kalah juga di peperangan (war).   Tapi sekarang ini perang […]

  • Jalan Maju Norwegia

    Jalan Maju Norwegia

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saudaraku, Norwegia bukan negeri yang lahir dalam kemewahan. Ia berdiri di tepi utara dunia, di antara fjord yang dalam, laut yang dingin, dan musim dingin yang panjang. Gunung-gunung membelah daratannya, sementara lahan subur terbatas. Alam tidak memberi kemudahan; alam memberi tantangan.   Sebelum dikenal sebagai negara kaya minyak, Norwegia hanyalah bangsa kecil di pinggir […]

  • Dulu Lapangan Kerkhof Garut, Eks Makam Belanda. Kini Jadi Sarana Olahraga dan Wisata Kuliner

    Dulu Lapangan Kerkhof Garut, Eks Makam Belanda. Kini Jadi Sarana Olahraga dan Wisata Kuliner

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Warga Garut pastinya sudah tidak asing dengan lapangan Kerkhof Garut, namun siapa sangka sarana olahraga ini dulunya merupakan makam Belanda.   Garut merupakan Kabupaten yang terletak di Jawa Barat dimana terkenal di kalangan wisatawan memiliki banyak destinasi yang seru untuk dikunjungi.   Salah satu yang mungkin bisa membuat penasaran ada lapangan Kerkhof Garut yang […]

  • Inilah Keindahan Curug Sanghyang Taraje di Balik Hutan Garut

    Inilah Keindahan Curug Sanghyang Taraje di Balik Hutan Garut

    • calendar_month Minggu, 11 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kabupaten Garut memang selalu menunjukkan pesona alamnya. Bentang alamnya unik, di utara terdiri dari pegunungan sedangkan selatan berhadapan dengan lautan. Gunung Papandayan dan berbagai pantainya yang menawan. Kota Dodol ini juga punya berbagai macam curug, salah satunya Curug Sanghyang Taraje. Curug yang berada di Kampung Kombongan, Desa Pakenjeng, Kecamatan Pamulihan, Garut, Jawa Barat […]

expand_less