Breaking News

Burayot dari Lélés Garut

  • account_circle T. Bachtiar, Penulis dan Geolog
  • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
  • visibility 743
  • print Cetak

 

TIGARUT.COMM — MENYEBUT nama geografi Lélés di Kabupaten Garut, Jawa Barat, seolah identik dengan penganan manis khas Lélés, yaitu burayot. Disebut burayot karena bentuknya menyerupai kantung elastis sebesar buah sawo yang menggantung berat. Camilan ini bentuknya ngaburayot. Dibuat dari tepung beras dan gula merah/kawung. Camilan khas dari Kampung Kaum, Lèlès ini pada mulanya dirintis oleh Emak Ijah, yang semula sebagai pemilik rumahmakan di Lélés.

Karena usianya sudah sepuh, maka Emak Ijah (almarhumah) mencoba usaha yang dagangannya bisa dijajakan di rumah. Dicobalah membuat penganan manis, yang kemudian terkenal dengan sebutan burayot. Semula burayot ini dijajakan ke kantor Kecamatan Lélés, dan ternyata disukai. Kini seperti harapan perintisnya, para pembelilah yang berdatangan ke rumahnya.

Setiap hari, penerus Emak Ijah membuat adonan burayot sebanyak 40 kg. Borayot tidak akan berhentu sampai generasi kedua, karena usaha keluarga membuat burayot diteruskan oleh putra dan cucunya. Penganan khas Kecamatan Lélés itu bukan hanya burayot, tetap juga ada dodol inol di Desa Cangkuang, Salamnunggal, dan di Desa Ciburial.

Jarak dari pusat kota Kecamatan Lélés ke kota Garut sekitar 20 km atau ditempuh selama 45 menit dengan kendaraan. Lélés pun dilewati rel keretaapi dan ada stasiun kecil Lélés. Oleh para pemburu fotografi keretaapi, stasiun Lélés menjadi titik henti untuk kemudian berjalan ke tikungan besar rel keretaapi. Di tikungan besar ini, fotografer dapat memotret keretaapi secara utuh dari kepala sampai ekornya dalam bentuk yang melengkung setengah lingkaran.

Luas kawasan Kecamatan Lélés adalah 6.524.502 Ha persegi, membawahi 12 Desa, sebelah utara dibatasi oleh Kecamatan Kadungora, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Leuwigoong, sebelah selatan dengan Kecamatan Banyuresmi, dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Bandung.

Dalam tulisan Sejarah Kecamatan Leles Kabupaten Garut http://sejarahkecleles.blogspot.co.id/ (diakses tanggal 12/1/2018), nama geografi Lélés berasal dari kata polés. Dalam laman itu ditulis: “Leles merupakan penyangga Ibukota Kabupaten dimana tamu-tamu penting pada saat itu masuk melalui jalan raya maupun kereta api (dapat dilihat stasiun kereta api yang ada di Kadungora sampai saat ini namanya stasiun Leles ). Sehingga Bupati Garut pada saat itu dan DN Rafles menganggap bahwa infrastruktur Leles harus diperbaiki dan dibenahi maka terlontarlah kata-kata dengan menggunakan bahasa Sunda yang tidak pasih berulang-ulang mengatakan LES dengan maksud dipoles, maka sejak itulah Leles (pada saat Kewedanaan), kini menjadi Kecamatan Leles.”

Tentu, asal-usul nama geografi ini masih perlu didiskusikan, misalnya, diuji dengan pertanyaan: 1. Apakah dalam peta-peta sebelum dibuat rel keretaapi yang melewati Lélés, sudah ada nama geografi Lélés atau tidak? 2. Apakah sebelum adanya rel keretaapi, atau sebelum ibu Kota Kabupaten Garut dipindahkan dari Baluburlimbangan, apakah ada nama geografi Lélés yang tercantum dalam arsip kolonial?

Dalam A Dictionary of the Sunda Language of Java karya Jonathan Rigg. (Batavia, 1862), laman lélés artinya sama dengan kondang (Ficus subrasemosa BL). Ini artinya, pada mulanya kawasan ini banyak ditumbuhi raksasa hutan yang bernama pohon kondang. Di Jawa Barat, banyak juga nama geografi yang memakai kata kondang, seperti di Garut, Purwakarta, Sumedang, Sukabumi, Cianjur, dll.

Dalam buku karya K Heyne (1927), pohon kondang merupakan raksasa rimba yang tingginya mencapai 40 meter dengan garis tengah batang mencapai 1,75 cm. Kondang tersebar dari pantai sampai hutan di ketinggian 1.500 m.dpl. Dalam catatan Rumphius, seperti dikutip K Heyne, akar kondang dapat dimakan sebagai anti racun bila keracunan setelah makan ikan. Kayunya yang sudah kering, sangat bagus sebagai kayuapi, karena sekali menyala tak akan padam, sehingga banyak digunakan dalam pembuatan kapur atau menyuling arak. Kayunya kondang itu berat tapi lunak, tidak baik untuk pertukangan, namun sangat kuat bila dibuat tiang di laut atau pantai.

K Heyne melanjutkan, bila dikunyah, kulitnya terasa manis, dapat dipakai sebagai pengganti pinang muda dan rebusan kulitnya dapat menghentukan sakit murus darah. Setelah diuapkan, getahnya yang putih, dapat berfungsi sebagai lilin/malam dalam proses membatik, seperti banyak dilakukan di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Daunnya, atau pucuknya dapat dimakan mentah sebagai lalaban atau dimasak dengan kacang ijo. Buahnya yang setengah matang dimakan setelah dibelah dan diberi olesan garam. Menurut Rumphius, buah kondang ini banyak dimakan dengan kenari dan ikan kering.

Kini, pohon kondang sudah jarang ditemui, namun masih ada di beberapa tempat mulai dari pantai sampai hutan di lereng gunung. Oleh karena itu perlu ada usaha yang sungguh-sungguh untuk menanam kembali pohon kondang, mulai dari pantai sampai lereng gunung, karena manfaatnya yang baik bagi konstruksi bangunan di pantai, kuliner, dan kesehatan bila diolah dan dikembangkan dengan baik.

Apakah di Desa Lélés dan di Kecamatan Lélés, masih ada pohon kondang? Inilah alternatif lain dari tafsir nama geografi Lélés. Semoga bermanfaat.***

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Reduksi Makna Pendidikan

    Reduksi Makna Pendidikan

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung
    • visibility 131
    • 0Komentar

    Kritik Epistemologis terhadap Statemen “Kebijakan Penutupan Prodi Berbasis Kebutuhan Industri” TIGARUT.COM — Wacana yang digulirkan oleh petinggi salah satu kementerian terkait penutupan program studi yang dianggap tidak selaras dengan kebutuhan industri merupakan sebuah simplifikasi yang berbahaya atas makna pendidikan. Karena dilontarkan oleh pejabat publik (sekalipun plt), narasi ini mencerminkan kegagalan pengelola negara dalam memahami amanat UUD […]

  • Misteri Tato di Tubuh Korban: Kunci Motif Perbuatan Taufik?

    Misteri Tato di Tubuh Korban: Kunci Motif Perbuatan Taufik?

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • account_circle Nurul Indra, Mantan Jurnalis, Asisten Peneliti
    • visibility 103
    • 0Komentar

    Misteri yang masih berputar-putar di kepalaku dari kasus Taufik Hidayat ini tentu saja soal MOTIF. Kenapa Taufik melakukan itu? Aku yakin, banyak dari kita juga penasaran. Karena semakin banyak detail kasus ini terungkap, semakin sulit dipahami dengan logika orang kebanyakan. Mengetahui motif Taufik ini sangat penting. Nanti aku kasih tahu apa saja hal penting itu, […]

  • Jalan Maju Norwegia

    Jalan Maju Norwegia

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
    • visibility 100
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saudaraku, Norwegia bukan negeri yang lahir dalam kemewahan. Ia berdiri di tepi utara dunia, di antara fjord yang dalam, laut yang dingin, dan musim dingin yang panjang. Gunung-gunung membelah daratannya, sementara lahan subur terbatas. Alam tidak memberi kemudahan; alam memberi tantangan.   Sebelum dikenal sebagai negara kaya minyak, Norwegia hanyalah bangsa kecil di pinggir […]

  • Indahnya Leuwi Jurig, Pemandian Alami nan Misterius di Bungbulang Play Button

    Indahnya Leuwi Jurig, Pemandian Alami nan Misterius di Bungbulang

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 368
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Bagi Anda yang suka menantang adrenalin dan belum mengetahui akan liburan kemana akhir tahun ini, bisa mengunjungi Leuwi Jurig. Leuwi Jurig berada di Kampung Rupit, Desa Bojong, Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Bagi Anda yang berasal dari Jakarta, Anda bisa menuju Bandung via tol Cileunyi, kemudian ke Kota Garut. Dari sana, dibutuhkan 2-3 […]

  • Jalan Cerita Sukses Kiki Gumelar, Owner Chocodot dari Garut

    Jalan Cerita Sukses Kiki Gumelar, Owner Chocodot dari Garut

    • calendar_month Sabtu, 24 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 551
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Siapa yRang tak kenal Chocodot Garut? Perpaduan antara cokelat dan dodol buatan Kiki Gumelar berhasil membuat nama Garut naik kelas dengan cara yang baru dan berbeda. Kiki berhasil menggabungkan makanan modern tanpa meninggalkan ciri khas yang melekat pada Kota Garut. Dari tangan kreatifnya, nama Chocodot sebagai brand cokelat lokal dari Garut kini makin […]

  • Bupati Garut Lantik PNS Baru, Jaga Integritas dan Semangat Melayani

    Bupati Garut Lantik PNS Baru, Jaga Integritas dan Semangat Melayani

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 166
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, memimpin Apel Gabungan yang dirangkaikan dengan Pelantikan dan Penyerahan Petikan Surat Keputusan (SK) Bupati Garut tentang Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut Tahun 2026.   Acara yang berlangsung di Lapangan Sekretariat Daerah (Setda) Garut, Jalan Pembangunan, Kecamatan Tarogong Kidul, Senin (06/04/2026) ini, menandai […]

expand_less