Breaking News
dark_mode

Burayot dari Lélés Garut

  • account_circle T. Bachtiar, Penulis dan Geolog
  • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

 

TIGARUT.COMM — MENYEBUT nama geografi Lélés di Kabupaten Garut, Jawa Barat, seolah identik dengan penganan manis khas Lélés, yaitu burayot. Disebut burayot karena bentuknya menyerupai kantung elastis sebesar buah sawo yang menggantung berat. Camilan ini bentuknya ngaburayot. Dibuat dari tepung beras dan gula merah/kawung. Camilan khas dari Kampung Kaum, Lèlès ini pada mulanya dirintis oleh Emak Ijah, yang semula sebagai pemilik rumahmakan di Lélés.

Karena usianya sudah sepuh, maka Emak Ijah (almarhumah) mencoba usaha yang dagangannya bisa dijajakan di rumah. Dicobalah membuat penganan manis, yang kemudian terkenal dengan sebutan burayot. Semula burayot ini dijajakan ke kantor Kecamatan Lélés, dan ternyata disukai. Kini seperti harapan perintisnya, para pembelilah yang berdatangan ke rumahnya.

Setiap hari, penerus Emak Ijah membuat adonan burayot sebanyak 40 kg. Borayot tidak akan berhentu sampai generasi kedua, karena usaha keluarga membuat burayot diteruskan oleh putra dan cucunya. Penganan khas Kecamatan Lélés itu bukan hanya burayot, tetap juga ada dodol inol di Desa Cangkuang, Salamnunggal, dan di Desa Ciburial.

Jarak dari pusat kota Kecamatan Lélés ke kota Garut sekitar 20 km atau ditempuh selama 45 menit dengan kendaraan. Lélés pun dilewati rel keretaapi dan ada stasiun kecil Lélés. Oleh para pemburu fotografi keretaapi, stasiun Lélés menjadi titik henti untuk kemudian berjalan ke tikungan besar rel keretaapi. Di tikungan besar ini, fotografer dapat memotret keretaapi secara utuh dari kepala sampai ekornya dalam bentuk yang melengkung setengah lingkaran.

Luas kawasan Kecamatan Lélés adalah 6.524.502 Ha persegi, membawahi 12 Desa, sebelah utara dibatasi oleh Kecamatan Kadungora, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Leuwigoong, sebelah selatan dengan Kecamatan Banyuresmi, dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Bandung.

Dalam tulisan Sejarah Kecamatan Leles Kabupaten Garut http://sejarahkecleles.blogspot.co.id/ (diakses tanggal 12/1/2018), nama geografi Lélés berasal dari kata polés. Dalam laman itu ditulis: “Leles merupakan penyangga Ibukota Kabupaten dimana tamu-tamu penting pada saat itu masuk melalui jalan raya maupun kereta api (dapat dilihat stasiun kereta api yang ada di Kadungora sampai saat ini namanya stasiun Leles ). Sehingga Bupati Garut pada saat itu dan DN Rafles menganggap bahwa infrastruktur Leles harus diperbaiki dan dibenahi maka terlontarlah kata-kata dengan menggunakan bahasa Sunda yang tidak pasih berulang-ulang mengatakan LES dengan maksud dipoles, maka sejak itulah Leles (pada saat Kewedanaan), kini menjadi Kecamatan Leles.”

Tentu, asal-usul nama geografi ini masih perlu didiskusikan, misalnya, diuji dengan pertanyaan: 1. Apakah dalam peta-peta sebelum dibuat rel keretaapi yang melewati Lélés, sudah ada nama geografi Lélés atau tidak? 2. Apakah sebelum adanya rel keretaapi, atau sebelum ibu Kota Kabupaten Garut dipindahkan dari Baluburlimbangan, apakah ada nama geografi Lélés yang tercantum dalam arsip kolonial?

Dalam A Dictionary of the Sunda Language of Java karya Jonathan Rigg. (Batavia, 1862), laman lélés artinya sama dengan kondang (Ficus subrasemosa BL). Ini artinya, pada mulanya kawasan ini banyak ditumbuhi raksasa hutan yang bernama pohon kondang. Di Jawa Barat, banyak juga nama geografi yang memakai kata kondang, seperti di Garut, Purwakarta, Sumedang, Sukabumi, Cianjur, dll.

Dalam buku karya K Heyne (1927), pohon kondang merupakan raksasa rimba yang tingginya mencapai 40 meter dengan garis tengah batang mencapai 1,75 cm. Kondang tersebar dari pantai sampai hutan di ketinggian 1.500 m.dpl. Dalam catatan Rumphius, seperti dikutip K Heyne, akar kondang dapat dimakan sebagai anti racun bila keracunan setelah makan ikan. Kayunya yang sudah kering, sangat bagus sebagai kayuapi, karena sekali menyala tak akan padam, sehingga banyak digunakan dalam pembuatan kapur atau menyuling arak. Kayunya kondang itu berat tapi lunak, tidak baik untuk pertukangan, namun sangat kuat bila dibuat tiang di laut atau pantai.

K Heyne melanjutkan, bila dikunyah, kulitnya terasa manis, dapat dipakai sebagai pengganti pinang muda dan rebusan kulitnya dapat menghentukan sakit murus darah. Setelah diuapkan, getahnya yang putih, dapat berfungsi sebagai lilin/malam dalam proses membatik, seperti banyak dilakukan di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Daunnya, atau pucuknya dapat dimakan mentah sebagai lalaban atau dimasak dengan kacang ijo. Buahnya yang setengah matang dimakan setelah dibelah dan diberi olesan garam. Menurut Rumphius, buah kondang ini banyak dimakan dengan kenari dan ikan kering.

Kini, pohon kondang sudah jarang ditemui, namun masih ada di beberapa tempat mulai dari pantai sampai hutan di lereng gunung. Oleh karena itu perlu ada usaha yang sungguh-sungguh untuk menanam kembali pohon kondang, mulai dari pantai sampai lereng gunung, karena manfaatnya yang baik bagi konstruksi bangunan di pantai, kuliner, dan kesehatan bila diolah dan dikembangkan dengan baik.

Apakah di Desa Lélés dan di Kecamatan Lélés, masih ada pohon kondang? Inilah alternatif lain dari tafsir nama geografi Lélés. Semoga bermanfaat.***

Komentar

Rekomendasi

  • Inilah 5 Alasan yang Bikin Toko Buku Sepi Pembeli

    Inilah 5 Alasan yang Bikin Toko Buku Sepi Pembeli

    • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Fenomena ini memang kontradiktif namun nyata. Meski data menunjukkan minat baca atau konsumsi literasi meningkat, toko buku fisik (konvensional) menghadapi tantangan besar karena perubahan perilaku konsumen di era digital. Berikut adalah 5 alasan mengapa minat baca naik tetapi toko buku tetap sepi: Migrasi ke E-commerce dan Marketplace Banyak pembaca beralih membeli buku secara […]

  • Inilah Makna Julukan Kota Pangirutan untuk Garut

    Inilah Makna Julukan Kota Pangirutan untuk Garut

    • calendar_month Sabtu, 24 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut Pangirutan merupakan salah satu julukan historis yang melekat pada Kabupaten Garut sejak masa lalu. Julukan ini tidak sekadar sebutan daerah, tetapi merekam perjalanan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Garut yang dikenal ulet, pekerja keras, dan menggantungkan hidup pada sektor pertanian serta sumber daya alam. Istilah Pangirutan berasal dari bahasa Sunda, dari kata […]

  • Serius Perbaikan Jalan Strategis, Bupati Kunjungi Kementerian PU Benahi Infrastruktur

    Serius Perbaikan Jalan Strategis, Bupati Kunjungi Kementerian PU Benahi Infrastruktur

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, melakukan kunjungan kerja strategis menemui Direktur Preservasi Jalan dan Jembatan Wilayah I, Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Hendro Satrio, di Jakarta, Selasa (3/2/2026). Pertemuan ini difokuskan pada sinkronisasi program pembangunan infrastruktur jalan di Kabupaten Garut guna mendongkrak ekonomi kerakyatan. Pada kesempatan ini, Bupati Garut didampingi […]

  • Dodol Garut Aja Picnic, Yuk Liburan Ke Sini

    Dodol Garut Aja Picnic, Yuk Liburan Ke Sini

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Siapa pun yang pernah lahir, tumbuh, atau sekadar ngan saukur ngopi bari ngaku-ngaku jadi urang Garut, pasti punya hubungan emosional dengan Dodol Garut. Hubungan yang aneh tapi sah. Lengket, manis, kadang bikin capek ngunyah, tapi selalu dicari. Dodol bukan cuma makanan; ia adalah arsip ingatan kolektif. Ia menyimpan bau dapur kampung, suara kayu […]

  • Mengenal Surak Ibra: Seni Perlawanan yang Menggetarkan dari Garut 

    Mengenal Surak Ibra: Seni Perlawanan yang Menggetarkan dari Garut 

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Surak Ibra merupakan kesenian tradisional asli dari Kampung Sindangsari, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut. Lebih dari sekadar tarian, kesenian ini adalah simbol keberanian, solidaritas, dan perlawanan masyarakat Garut terhadap kolonialisme. Kesenian ini diciptakan oleh Raden Ibra Gadug sekitar tahun 1910. Pada masa itu, Surak Ibra digunakan sebagai alat diplomasi budaya untuk menyindir kesewenang-wenangan […]

  • Asyiknya Ngabuburit di Cimanuk Garut

    Asyiknya Ngabuburit di Cimanuk Garut

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Menjelang waktu berbuka puasa, kawasan Cimanuk selalu dipadati warga yang ingin menikmati suasana sore Ramadan. Sungai yang membelah kota ini menjadi salah satu titik favorit untuk ngabuburit bersama keluarga, sahabat, maupun komunitas. Hamparan tepian sungai yang kini lebih tertata membuat masyarakat nyaman duduk santai sambil menikmati semilir angin sore. Anak-anak tampak bermain, remaja berburu […]

expand_less