Breaking News

Guru Muda Maju, Guru Tua Mundur:

  • account_circle Wijaya Kusumah - omjay
  • calendar_month Kamis, 16 Jul 2026
  • visibility 98
  • print Cetak

Saatnya Memberi Ruang, Bukan Menghilang

 

“Guru muda maju, guru tua mundur.”

TIGARUT.COM — Kalimat itu saya dengar dalam sebuah pertemuan guru. Sebagian orang menafsirkannya sebagai tanda bahwa guru senior sudah waktunya menepi. Ada pula yang menganggapnya sebagai ajakan agar generasi muda mengambil alih panggung pendidikan.

 

Saya tersenyum mendengarnya.

 

Dalam hati saya berkata, “Guru tua memang boleh mundur, tetapi bukan untuk berhenti berkarya. Guru tua mundur agar guru muda memiliki ruang untuk tumbuh, berani mencoba, dan percaya diri memimpin masa depan.”

 

Selama lebih dari tiga dekade menjadi guru, saya menyaksikan pergantian generasi terjadi berkali-kali. Dahulu saya adalah guru muda yang penuh semangat. Saya datang ke sekolah dengan ide-ide baru, ingin mengubah banyak hal, bahkan terkadang merasa cara guru senior sudah tidak relevan lagi. Namun, seiring bertambahnya usia dan pengalaman, saya menyadari bahwa keberanian saya saat itu lahir karena ada guru-guru senior yang rela memberikan kesempatan.

 

Mereka tidak iri ketika kami tampil. Mereka tidak takut kehilangan nama. Mereka justru berdiri di belakang kami, menguatkan ketika kami salah melangkah dan menepuk bahu ketika kami berhasil.

 

Kini giliran kami menjadi guru senior.

 

Sudah saatnya kami belajar memberi panggung kepada generasi berikutnya. Jangan sampai pengalaman yang begitu panjang berubah menjadi tembok yang menghalangi kreativitas anak-anak muda. Pengalaman seharusnya menjadi jembatan, bukan penghalang.

 

Saya percaya setiap generasi memiliki kelebihan masing-masing. Guru muda memiliki energi yang luar biasa. Mereka cepat belajar, akrab dengan teknologi, berani bereksperimen, dan tidak takut mencoba pendekatan baru dalam pembelajaran. Mereka tumbuh bersama dunia digital sehingga lebih mudah memahami karakter peserta didik zaman sekarang.

 

Sebaliknya, guru senior memiliki sesuatu yang tidak dapat dibeli oleh siapa pun, yaitu pengalaman. Pengalaman menghadapi berbagai karakter siswa, menghadapi perubahan kurikulum, menghadapi tantangan dunia pendidikan, hingga menghadapi berbagai persoalan kehidupan yang tidak pernah tertulis di buku pelajaran.

 

Bayangkan jika energi guru muda bertemu dengan kebijaksanaan guru senior. Pendidikan akan melahirkan kekuatan yang luar biasa.

 

Sayangnya, dalam kenyataan, ego sering kali menjadi penghalang. Ada guru senior yang masih ingin menjadi pusat perhatian. Semua kegiatan ingin dipimpin sendiri. Semua keputusan ingin ditentukan sendiri. Semua penghargaan ingin diterima sendiri. Tanpa sadar, ruang bagi guru muda menjadi semakin sempit.

 

Akibatnya, banyak guru muda kehilangan keberanian. Mereka memiliki ide, tetapi takut menyampaikan. Mereka memiliki kemampuan, tetapi tidak pernah diberi kesempatan. Mereka hanya menjadi pelaksana, bukan penggerak.

 

Padahal seorang pemimpin sejati bukanlah orang yang selalu berada di depan. Pemimpin sejati adalah orang yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru.

 

Saya teringat pesan seorang guru yang sangat saya hormati. Beliau berkata, “Kalau suatu hari muridmu lebih hebat daripada dirimu, jangan sedih. Justru itulah keberhasilan seorang guru.”

 

Kalimat sederhana itu terus saya pegang sampai sekarang.

 

Begitu pula dalam dunia pendidikan. Ketika guru muda mampu berbicara di seminar, menjadi narasumber pelatihan, memimpin komunitas belajar, atau menghasilkan karya yang lebih baik daripada guru senior, jangan pernah merasa tersaingi. Bersyukurlah. Itu berarti estafet pendidikan berjalan dengan baik.

 

Guru tua tidak kehilangan kehormatan ketika memberi kesempatan kepada guru muda. Justru di situlah kehormatan itu semakin tinggi. Sebab kebesaran seseorang tidak diukur dari berapa lama ia berdiri di atas panggung, melainkan dari berapa banyak orang yang berhasil ia dorong naik ke atas panggung.

 

Saya sering melihat guru muda yang sebenarnya sangat berbakat, tetapi kurang percaya diri. Mereka takut salah. Takut dikritik. Takut dianggap belum berpengalaman.

 

Di sinilah peran guru senior menjadi sangat penting. Bukan mengambil alih pekerjaan mereka, melainkan mendampingi. Bukan menggantikan langkah mereka, melainkan menguatkan. Bukan memadamkan semangat mereka, melainkan meniupkan keberanian.

 

Percayalah, kepercayaan adalah hadiah terbesar yang dapat diberikan kepada seorang guru muda.

 

Ketika seorang guru senior berkata, “Silakan kamu yang memimpin rapat ini,” atau “Presentasi kali ini biar kamu yang menyampaikan,” sesungguhnya ia sedang menanamkan rasa percaya diri yang akan tumbuh sepanjang karier guru muda tersebut.

 

Begitulah seharusnya estafet kepemimpinan berlangsung.

 

Guru tua mundur bukan karena kalah. Guru tua mundur karena bijaksana. Guru tua mundur bukan karena tidak mampu. Guru tua mundur karena ingin melihat generasi berikutnya tumbuh lebih tinggi.

 

Pendidikan bukan perlombaan mencari siapa yang paling hebat. Pendidikan adalah perjalanan panjang menyiapkan penerus yang lebih baik daripada pendahulunya.

 

Saya membayangkan suatu hari nanti, ketika saya sudah tidak lagi aktif mengajar di kelas, saya ingin melihat murid-murid dan guru-guru muda yang pernah saya dampingi berdiri dengan penuh percaya diri. Mereka berbicara di depan ribuan peserta, menulis buku, menciptakan inovasi pembelajaran, dan menginspirasi banyak orang.

 

Saat itulah saya akan tersenyum.

 

Saya tidak merasa kehilangan panggung. Saya justru merasa berhasil.

 

Karena sesungguhnya kebahagiaan seorang guru bukan ketika namanya terus dikenang, melainkan ketika murid dan generasi penerusnya mampu melampaui segala pencapaiannya.

 

Mari kita jadikan sekolah sebagai taman yang memberi ruang bagi semua generasi untuk bertumbuh. Guru muda melangkah dengan semangat, guru senior mendampingi dengan kebijaksanaan. Yang muda membawa harapan, yang tua menebarkan pengalaman.

 

Jika keduanya berjalan bergandengan tangan, pendidikan Indonesia akan melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga rendah hati.

 

Guru muda, melangkahlah dengan penuh percaya diri.

 

Guru tua, mundurlah selangkah agar lahir seribu langkah kemajuan.

 

Sebab dalam dunia pendidikan, kemuliaan bukanlah tentang siapa yang paling lama berdiri di depan, melainkan siapa yang paling ikhlas menuntun orang lain hingga mampu berdiri lebih tinggi.Artikel ini cocok untuk Kompasiana karena memadukan refleksi pribadi, pesan moral, dan ajakan kolaborasi antargenerasi dengan gaya bertutur khas Kisah Omjay yang hangat dan menyentuh.

 

  • Penulis: Wijaya Kusumah - omjay

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Leuweung Sancang di Garut Dianggap Menakutkan? Ini Alasannya

    Leuweung Sancang di Garut Dianggap Menakutkan? Ini Alasannya

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle Hakim Ghani
    • visibility 1.299
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Sancang adalah sebuah nama yang bagi sebagian kalangan terasa sangat menakutkan untuk didengar. Di balik keindahan alamnya, Sancang menyimpan banyak misteri hingga terkesan angker dan menakutkan. Apa alasannya? Di antara beragam daerah yang ada di Kabupaten Garut, Sancang adalah salah satu yang paling menjadi sorotan. Letaknya yang jauh dari hingar-bingar perkotaan dan didominasi […]

  • 5 Rekomendasi Pantai di Garut Asyik Liburan Idul Fitri

    5 Rekomendasi Pantai di Garut Asyik Liburan Idul Fitri

    • calendar_month Minggu, 22 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 184
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Libur Idul Fitri selalu membawa kita pada satu kata yang sederhana namun dalam: pulang. Bukan sekadar kembali ke kampung halaman, tetapi kembali pada ketenangan yang sering hilang di tengah rutinitas. Di Garut, pulang bisa berarti menyusuri jalan menuju pantai selatan—tempat di mana debur ombak seolah menghapus penat, dan angin laut membawa rasa syukur […]

  • Simpang Lima Garut, Persimpangan yang Lebih Tua dari Ingatan Warganya

    Simpang Lima Garut, Persimpangan yang Lebih Tua dari Ingatan Warganya

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 367
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Jika persimpangan bisa berbicara, Simpang Lima Garut mungkin sudah lelah bercerita. Setiap hari ia menelan klakson, langkah kaki, teriakan pedagang, dan deru mesin kendaraan. Namun sedikit yang tahu, persimpangan ini adalah salah satu saksi paling setia perjalanan sejarah Kota Garut. Jauh sebelum lampu lalu lintas berdiri dan kemacetan menjadi rutinitas, Simpang Lima sudah […]

  • Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

    Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

    • calendar_month Rabu, 24 Jun 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 100
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kita lanjutkan cerita Taufik Hidayat yang ini (bukan yang itu). Saya sudah beberkan kekejaman monster berwajah manusia ini sebelumnya. Sekarang, ada baiknya kita mengenal psikopat ini lebih dalam lagi. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!   Taufik Hidayat, monster berwajah manusia berusia 30 tahun. Ia lahir 14 Juni 1996 di Bandung. Ia telah mengubah […]

  • Burayot dari Lélés Garut

    Burayot dari Lélés Garut

    • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
    • account_circle T. Bachtiar, Penulis dan Geolog
    • visibility 741
    • 0Komentar

      TIGARUT.COMM — MENYEBUT nama geografi Lélés di Kabupaten Garut, Jawa Barat, seolah identik dengan penganan manis khas Lélés, yaitu burayot. Disebut burayot karena bentuknya menyerupai kantung elastis sebesar buah sawo yang menggantung berat. Camilan ini bentuknya ngaburayot. Dibuat dari tepung beras dan gula merah/kawung. Camilan khas dari Kampung Kaum, Lèlès ini pada mulanya dirintis […]

  • Cuma Indonesia yang punya 4 “Choke Point” ini. Tapi So What?

    Cuma Indonesia yang punya 4 “Choke Point” ini. Tapi So What?

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle Budhiana Kartawijaya, geopolitics enthusiast.
    • visibility 87
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Selama ini, ketika mendengar istilah choke point, pikiran kita langsung tertuju pada Selat Hormuz, Selat Malaka, atau Terusan Suez. Dalam geopolitik klasik, choke point adalah jalur sempit yang mengendalikan arus perdagangan dan energi dunia. Siapa yang menguasainya memiliki daya tawar yang sangat besar.   Iran adalah contoh paling menarik. Negara itu tidak memiliki ekonomi […]

expand_less