Breaking News

Misi Rahasia Gen Z di Muka Bumi, Tetap Survive Pokoknya mah!

  • account_circle Sukron Abdilah
  • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
  • visibility 866
  • print Cetak

Salah satu ciri khas Gen Z adalah idealisme. Kita percaya dunia bisa diselamatkan—asal sinyalnya stabil. Tapi ketika masuk dunia kerja, realitas datang dengan notifikasi keras: gaji UMR, target berlipat, dan atasan yang masih minta laporan diketik di Word, bukan Notion.

Kita ingin kerja bermakna, tapi tagihan listrik dan cicilan iPhone tetap menagih. Di sinilah dilema eksistensial Gen Z terjadi: ingin hidup autentik, tapi harus tetap adaptif. Kita hidup dalam dunia yang memuji inovasi, tapi masih menilai orang dari gelar. Kita ingin fleksibilitas kerja, tapi juga stabilitas finansial. Dan tentu saja, semua itu harus dibungkus dengan caption Instagram yang filosofis: “Still figuring things out, but grateful.”

Beberapa angka bisa membuat kita merenung sejenak (atau overthinking lagi): 21 persen Gen Z di Indonesia masih menganggur atau bekerja tidak sesuai bidangnya (BPS, 2024). 1 dari 3 Gen Z mengaku mengalami burnout sebelum usia 25 (Survei Katadata Insight, 2023). Sementara itu, 80 persen Gen Z percaya bahwa pendidikan formal saja tidak cukup untuk sukses di era AI.

Kita hidup di dunia yang bergerak terlalu cepat. Skill yang hari ini relevan bisa usang tahun depan. Profesi baru bermunculan setiap bulan—dari “AI Prompt Engineer” sampai “Virtual Influencer Manager.” Dunia kerja sudah berubah jadi arena gladiator digital: siapa yang cepat belajar, dia bertahan.

Tapi jangan salah, di tengah kekacauan itu, Gen Z juga sedang mengubah paradigma kerja. Kita mempopulerkan konsep remote work, side hustle, dan mental health day. Kita menolak norma lama yang menganggap kerja keras harus berarti lembur tanpa henti. Kita percaya bahwa produktivitas dan kebahagiaan tidak harus berseberangan.

Menjadi agen bonus demografi bukan berarti harus jadi pahlawan nasional yang muncul di buku sejarah. Terkadang, itu berarti berani mengambil langkah kecil tapi berkelanjutan: belajar skill baru, membangun jaringan, menjaga kesehatan mental, atau bahkan sekadar belajar berkata “tidak” pada ekspektasi yang tidak realistis.

Kita tidak sedang hidup di era “satu jalan menuju sukses”. Dunia kini adalah labirin peluang. Ada yang sukses lewat coding, ada yang lewat stand-up comedy, ada pula yang lewat jualan tautan sambal di TikTok. Intinya bukan di mana kita memulai, tapi bagaimana kita terus beradaptasi.

Bahkan, menurut laporan McKinsey (2024), setiap investasi di pendidikan keterampilan digital menghasilkan peningkatan produktivitas hingga 25 persen. Jadi, jika bonus demografi ingin benar-benar jadi bonus, bukan beban, maka investasi terbesar adalah pada manusia—yakni kita sendiri.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Nah Ini Dia! 5 Tradisi Membangun Sahur di Garut

    Nah Ini Dia! 5 Tradisi Membangun Sahur di Garut

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 250
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Selama bulan Ramadan, masyarakat di Garut memiliki berbagai cara unik untuk membangunkan warga agar sahur tepat waktu. Tradisi-tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai pengingat waktu sahur, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan budaya dan kebersamaan antarwarga. Berikut lima tradisi membangun sahur yang masih hidup di Garut: 1. Ngadulag (Mukul Bedug Keliling) Tradisi ini […]

  • Pandangan Hukum Partai Koptagul terhadap Kasus Nadiem Makarim

    Pandangan Hukum Partai Koptagul terhadap Kasus Nadiem Makarim

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 146
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Banyak netizen minta saya ikut membahas kasus hukum Nadiem Makarim. Saya memang fokus menuntaskan kisruh LCC 4 Pilar MPR. Baiklah, saya coba memberikan pandangan hukum ala Partai Koptagul. Izin untuk para ahli hukum negeri ini kalau nanti ada yang ngawur. Tulisan ini agak panjang, asyik kalau dinikmati sambil seruput Koptagul, wak!   Indonesia itu […]

  • Datang, Curhat, Joget, Buka Baju, Pulang

    Datang, Curhat, Joget, Buka Baju, Pulang

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Nury Sybli, Alumni UIN Jakarta
    • visibility 162
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — “Don’t Judging” — Catatan Pagi dari Obrolan Anak SD   Pagi ini di sela-sela ribetnya siap berangkat sekolah, Ni Luh tiba-tiba nanya, “Mom, waktu aku bayi gendut ya?” “Iya… tapi cantik dan menggemaskan,” jawabku cepat.   Dia diam sebentar, lalu lanjut, “Nanti pas aku Junior High School, aku nggak tahu wajahku jadi gimana. […]

  • Bakal Seru Ni, Pemilik SPPG Ancam Lakukan Gembok Nasional

    Bakal Seru Ni, Pemilik SPPG Ancam Lakukan Gembok Nasional

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 111
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Waktu libur sekolah kemarin, para pemilik dapur SPPG mengerahkan pasukan paling ditakuti di muka bumi, mak-mak. Demo pro-MBG digelar berkali-kali. Mereka berharap Badan Gizi Nasional (BGN) melirik. Ternyata yang melirik cuma kamera wartawan.   Karena merasa suara mereka lebih cepat sampai ke awan dari ke telinga pengambil kebijakan, jurus terakhir pun dikeluarkan. Namanya sangar, […]

  • Jejak Kereta Api Cibatu Garut

    Jejak Kereta Api Cibatu Garut

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Hevi Abu Fauzan, pecinta kereta api,
    • visibility 440
    • 0Komentar

    “Saya ingin mengembalikan budaya naik kereta. Saya ingin Jawa Barat seperti Eropa, masyarakat ke mana-mana bisa naik kereta karena nyaman dan terintegrasi,” – Ridwan Kamil, Gubernur Provinsi Jawa Barat[1]. TIGARUT.COM — Jalur kereta api antara Cibatu dan Garut merupakan salah satu jalur yang diaktifkan kembali oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan PT Kereta Api Indonesia (PT […]

  • Psikologi Islam dan Paradigma Keilmuan Konseling Islam

    Psikologi Islam dan Paradigma Keilmuan Konseling Islam

    • calendar_month Rabu, 8 Apr 2026
    • account_circle S. Miharja, Dosen Pascasarjana UIN Bandung
    • visibility 205
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM —   Buku Psikologi Islami: Sejarah, Corak dan Model karya Sekar Ayu Aryani (2018) memberikan kontribusi penting dalam membangun fondasi epistemologis psikologi berbasis Islam yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga metodologis dan ilmiah. Pemikiran dalam buku ini memiliki relevansi kuat terhadap perkembangan paradigma keilmuan Konseling Islam, terutama dalam merumuskan pendekatan integratif antara wahyu, […]

expand_less