Breaking News

Membaca Jejak “Ba’dul Ikhwan”

  • account_circle Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung
  • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
  • visibility 197
  • print Cetak

Transmisi Teks al-Bajuri dan Simpul Tiga Ulama dari Tatar Sunda Abad ke-19

TIGARUT.COM — ​Menelusuri jejak para sarjana Sunda di Kairo pada paruh pertama abad ke-19 sering kali membentur dinding ketiadaan arsip yang utuh. Sebelum Terusan Suez beroperasi pada 1869, perjalanan ke Mesir bukanlah rute lazim bagi para penuntut ilmu dari Nusantara yang umumnya memusatkan diri di Makkah.

Namun, pembacaan yang teliti atas transmisi teks keislaman di Tatar Sunda mengisyaratkan keberadaan sebuah lingkaran pertemanan intelektual yang sangat spesifik di “Riwaq al-Jawi” (asrama Nusantara), Al-Azhar. Tiga nama muncul secara beriringan dalam memori kolektif dan silsilah pengajaran: Syeikh Nawawi dari Banten (k. 1815–1897 M), Mama Muhammad Shoheh dari Bunikasih, Cianjur (w. 1885 M), dan Mama Muhammad Adzro’i dari Bojong, Garut.

​Kunci untuk merajut ketiganya dalam satu latar waktu bertumpu pada satu figur sentral: Syeikh Burhanuddin Ibrahim al-Bajuri (1784–1860 M). Al-Bajuri memangku jabatan Syekh al-Azhar semenjak 1847 M. Jika kita menerima premis bahwa Nawawi, Shoheh, dan Adzro’i sempat melakukan talaqqi secara langsung kepadanya—sebagaimana diyakini dalam riwayat transmisi sanad di pesantren-pesantren Priangan—maka pertemuan ketiganya di Mesir niscaya terjadi dalam rentang waktu antara 1847 hingga akhir dekade 1850-an, persis sebelum al-Bajuri wafat dan sebelum Shoheh kembali ke Cianjur.

Titi mangsa ini sekaligus menuntut pembacaan kritis atas sejumlah catatan sekunder belakangan yang menaksir tahun kelahiran Adzro’i pada 1845 M. Agaknya mustahil seorang anak belasan tahun dapat duduk setara berdiskusi membedah syarah fikih tingkat lanjut dengan Nawawi di majelis sang Grand Syeikh; secara logis, Adzro’i pastilah lahir jauh lebih awal, setidaknya pada dekade 1810-an atau awal 1820-an, sezaman dengan kedua sahabatnya.

​Sayangnya, sejauh ini belum ditemukan catatan harian atau korespondensi pribadi di antara ketiganya yang terselamatkan. Bukti empiris mengenai persinggungan mereka justru terekam bisu dalam sirkulasi teks di kemudian hari. Interaksi akademis dengan al-Bajuri membuahkan hasil yang berbeda namun saling melengkapi. Nawawi mengabadikan otoritas gurunya melalui Tijan al-Darari, sebuah syarah ringkas atas risalah tauhid al-Bajuri. Penulisan syarah ini dalam tradisi filologi bukan sekadar penghormatan, melainkan afirmasi penguasaan atas gagasan sang guru yang kemudian diakui luas.

​Sementara itu, jejak Shoheh dan Adzro’i lebih terbaca sebagai agen transmisi teks. Melalui tangan merekalah naskah-naskah babon karya al-Bajuri, khususnya Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib, mengalir ke pedalaman Jawa Barat. Jika kita memeriksa salinan-salinan manuskrip kitab tersebut yang didaras di Priangan pada paruh kedua abad ke-19, kerap dijumpai istilah ba’dul ikhwan (sebagian saudara) pada catatan pinggirnya (taqrirat). Istilah ini sering kali merupakan rujukan terselubung terhadap hasil tukar pikiran antar kawan sejawat. Sangat mungkin ba’dul ikhwan yang dimaksud dalam anotasi naskah-naskah turunan di Bunikasih dan Bojong adalah gema dari perdebatan masa muda antara Shoheh, Adzro’i, dan Nawawi di serambi Al-Azhar.

​Fenomena ini membuktikan bahwa pesatnya perkembangan institusi pendidikan Islam di Priangan pasca-1860-an tidak tumbuh dari kekosongan silsilah. Melalui simpul Shoheh dan Adzro’i, kerangka keilmuan Al-Azhar yang direpresentasikan oleh al-Bajuri berhasil dicangkokkan dengan rapi ke dalam tradisi intelektual lokal di Jawa Barat, mendahului gelombang ide-ide pembaruan Timur Tengah pada awal abad ke-20.

Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung 

  • Penulis: Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • 5 Tradisi Unik Lebaran di Garut. Apa Aja?

    5 Tradisi Unik Lebaran di Garut. Apa Aja?

    • calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 201
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Lebaran di Garut bukan sekadar momen saling memaafkan, tetapi juga ruang hidup bagi tradisi yang sarat makna. Di tengah suasana pegunungan yang sejuk dan budaya Sunda yang kental, masyarakat Garut merayakan Idulfitri dengan cara-cara khas yang diwariskan turun-temurun. Berikut lima tradisi unik Lebaran di Garut yang menarik untuk disimak:   1. Ngaliwet Bareng […]

  • 5 Madrasah Pilihan di Garut, Lengkap dengan Alamatnya

    5 Madrasah Pilihan di Garut, Lengkap dengan Alamatnya

    • calendar_month Senin, 10 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 105
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut memiliki banyak pilihan lembaga pendidikan berbasis Islam yang bisa menjadi pertimbangan orang tua untuk melanjutkan pendidikan putra-putrinya. Madrasah tidak hanya memberikan pembelajaran akademik, tetapi juga memadukannya dengan pendidikan agama dan pembentukan karakter. Karena itu, madrasah menjadi salah satu pilihan menarik bagi keluarga di Garut. Berikut lima madrasah negeri di Garut yang bisa menjadi […]

  • Kisah Dermaga Santolo

    Kisah Dermaga Santolo

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 174
    • 0Komentar

    Jejak Lengkap Kejayaan Rempah Zaman Belanda di Garut TIGARUT.COM — Sebuah dermaga tua peninggalan kolonial masih berdiri di kawasan Pantai Santolo, Kabupaten Garut. Keberadaannya bukan sekadar bangunan tua, tetapi bagian dari sejarah panjang jalur perdagangan rempah di pesisir selatan Jawa Barat. Berdasarkan laporan dari Merdeka com, dermaga ini dibangun pada awal abad ke-20, sekitar tahun […]

  • Menghormati Hak Alam

    Menghormati Hak Alam

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
    • visibility 144
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saudaraku, bumi terlalu lama hadir di ruang sidang manusia hanya sebagai benda mati—tanah yang dibagi, sungai yang dibendung, hutan yang ditebang, laut yang diukur dengan angka keuntungan. Ia diperlakukan seperti properti tanpa suara, padahal manusialah yang hidup dari napasnya.   Dalam A Barrister for the Earth (2025), Monica Feria-Tinta menghadirkan gagasan yang mengguncang fondasi […]

  • 5 Rumah Subsidi di Tarogong Kaler, Harga Mulai Rp150 Jutaan

    5 Rumah Subsidi di Tarogong Kaler, Harga Mulai Rp150 Jutaan

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 249
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kebutuhan hunian terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Kabupaten Garut terus meningkat. Di Kecamatan Tarogong Kaler, sejumlah pengembang menawarkan rumah subsidi dengan harga mulai Rp150 jutaan per unit. Berikut lima pilihan perumahan subsidi yang dapat menjadi alternatif bagi calon pembeli rumah pertama di wilayah Garut: Perumahan Bukit Dfayu Residence Berlokasi di Desa […]

  • Asal-Usul Kandang Wesi Garut: Antara Sejarah dan Cerita Rakyat

    Asal-Usul Kandang Wesi Garut: Antara Sejarah dan Cerita Rakyat

    • calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • visibility 131
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di wilayah selatan Kabupaten Garut terdapat sebuah kawasan yang dikenal dengan nama Kandang Wesi. Nama ini telah dikenal sejak lama dan masih menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat. Namun, hingga kini belum ditemukan sumber sejarah primer yang secara pasti menjelaskan bagaimana nama Kandang Wesi pertama kali muncul. Oleh karena itu, asal-usulnya lebih banyak hidup […]

expand_less