Jihad
- account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
- calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Saya menemukan kutipan ini di sebuah postingan. Gak tahu, bener tidaknya itu ucapan Gus Baha. Saya ingin membahas kutipan itu.
Semua tahu dan sudah banyak dijelaskan, makna asli “jihad” adalah berjuang bersungguh-sungguh, mencurahkan segala potensi diri untuk mengatasi masalah dan kesulitan.
Kesulitan itu banyak bentuknya dari masalah diri sehari-hari hingga menaklukkan ketakutan memperjuangkan kebenaran dan menghilangkan ketakutan pada musuh saat perang. Itu juga berjuang bersungguh mengatasi kesulitan diri.
Jadi, kata “jihad” dipisahkan dari perang itu terlalu sederhana, memalingkan makna. Perang itu bukan hanya soal membunuh musuh tapi membunuh ketakutan diri karena hawa nafsu mengajaknya memilih pada kesenangan dan hidup yang enak.
Kesimpulannya, perang adalah bagian dari jihad, jihad fisabilillah. Berani perang adalah manifestasi dari mengatasi ketakutan diri. Jihad aslinya bersungguh-sungguh mengatasi masalah, diantara manifestasinya tak takut oleh musuh dalam perang. Maka, keduanya tak bisa dipisahkan.
Kalau jihad dipisahkan dari perang atau perang itu bukan jihad, selain menyalahi banyak ayat Qur’an tentang perintah berjihad melawan orang kafir, juga kontradiktif atau menyalahi sejarah panjang umat Islam berjihad berperang melawan musuh agama dari sejak masa Rasulullah SAW, para ulama di Nusantara melawan penjajah kolonial hingga sekarang berperang melawan kemungkaran, bahkan hingga perang Iran melawan penjajahan Israel dan agresi Amerika Serikat.
“Perang” hanya dilihat sebagai menghadapi “musuh luar” adalah pandangan sempit. Menghadapi “musuh dalam” yaitu menaklukkan diri dari ketakutan dan kelemahan iman juga adalah perang.***
- Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
