Breaking News
dark_mode

Malam Jumat Kita Bahas Hamil di Luar Nikah

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month 11 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIGARUT.COM — Kita ketemu lagi dengan malam Jumat. Kelambunya jangan dipasang dulu. Inilah malam punya banyak nama panggilan. Ada menyebut malam penuh berkah. Ada yang menyebut malam sunnah Rasul. Saatnya membaca Surah Alkahfi. Ada juga menyebut malam ketika diplomasi tingkat tinggi antara dua pihak yang telah memiliki stempel halal biasanya meningkat tajam.

Bahasa kerennya hubungan bilateral. Bahasa ekonominya investasi jangka panjang. Bahasa biologinya… ya sudahlah, kita semua sudah cukup umur. Siapkan kopi, siapkan Koptagul, simak narasinya, wak.

Pokoknya kalau sudah malam Jumat, sebagian pasangan suami istri biasanya mendadak romantis seperti politisi menjelang pemilu. Perhatian meningkat. Komunikasi lancar. Janji manis keluar semua. Bedanya, kalau politik menghasilkan baliho. Kalau hubungan bilateral sukses bisa menghasilkan dedek.

Nah, karena ini malam Jumat, kita bahas topik yang masih ada hubungannya dengan urusan bilateral tadi, yaitu fenomena hamil di luar nikah. Tenang. Kita bahas santai. Tidak perlu tegang atas bawah. Cukup kendalikan ketegangannya.

Soalnya angka kehamilan remaja di Indonesia memang bukan cerita receh. Ini bukan lagi sekadar gosip tetangga. Ini sudah masuk kategori fenomena nasional.

Data menunjukkan angka kehamilan remaja usia 15-19 tahun mencapai 48 per 1.000 perempuan. Sekitar 20 persen dari seluruh kehamilan terjadi pada kelompok remaja.

Kalau diterjemahkan ke bahasa warung kopi, ketika pemerintah sedang sibuk merancang Generasi Emas 2045, sebagian anak muda ternyata sudah membuka pabrik Generasi 2065 tanpa izin operasional.

Di Kalbar, kampung halaman saya ini wak, terdapat 24,4 persen kehamilan yang tergolong tidak diinginkan. Kabupaten Sintang mencatat proporsi kehamilan remaja tertinggi sebesar 9,85 persen. Kapuas Hulu sepanjang 2025 mencatat 31 anak di bawah umur mengajukan dispensasi nikah.

Artinya ada remaja belum hafal cara mengurus BPJS, tetapi sudah harus menghitung biaya persalinan. Ada masih bingung membedakan obligasi dan organisasi, tetapi sudah harus memikirkan harga susu formula.

Masuk ke Jawa Barat, wilayah kekuasaan KDM, ceritanya lebih ramai lagi. Pada 2019 terdapat 21.499 remaja usia 16-19 tahun yang menikah. Dari jumlah itu, 56,92 persen pernah hamil dan 26,87 persen sedang hamil.

Di Indramayu sampai Januari 2023 terdapat 572 pelajar mengajukan dispensasi nikah karena hamil di luar nikah. Memang turun dibanding 721 kasus pada 2020 dan 625 kasus pada 2021. Tetapi kalau angka segitu dianggap kabar menggembirakan, itu seperti melihat kapal bocor lalu berkata, “Alhamdulillah, yang tenggelam baru ruang tamunya.”

Jawa Tengah juga tidak mau kalah. Kabupaten Semarang mencatat 158 pengajuan dispensasi kawin pada 2024. Sebanyak 98 kasus atau 62 persen karena hamil duluan. Jepara mencatat rata-rata 49 pengajuan per bulan. Hampir dua kasus setiap hari.

Kalau begini terus, petugas pengadilan agama bisa membuka layanan baru bernama “Paket Kilat Menuju Pelaminan Sebelum Bayi Datang.”

Sementara Jawa Timur tampil seperti juara bertahan Liga Champions Dispensasi Nikah Nasional. Mohon izin Bu Khofifah. Tahun 2022 terdapat 15.212 kasus dispensasi nikah. Yang membuat kalkulator berkeringat dingin, sekitar 80 persen atau 12.170 kasus dipicu kehamilan di luar nikah.

Jember mencatat 1.388 kasus. Malang mencatat 547 permohonan hingga September 2025. Kalau dispensasi nikah dijadikan cabang olahraga SEA Games, Jawa Timur mungkin sudah minta tambahan lemari medali.

Lalu apa penyebabnya? Kalau kata netizen, karena cinta. Kalau kata hormon, karena kesempatan. Kalau kata peneliti, ceritanya lebih panjang dari sinetron yang tidak tamat-tamat.

Ada kurangnya pendidikan reproduksi. Pengawasan keluarga lemahlah, pengaruh media sosial, suka akses pornografi. Macam-macam alasannya. Dijawab tante, “Ah dasar otak cabul aja.” Ups.

Masa remaja memang unik. Mesin biologis sudah menyala seperti pembangkit listrik tenaga nuklir. Tetapi rem logika kadang masih menggunakan teknologi kentang. Ibarat punya Ferrari dengan rem sepeda ontel.

Indonesia berada di peringkat kedua dunia dengan sekitar 765,40 juta kunjungan per bulan ke situs dewasa. Ayo ngaku wak. Jangan pura-pura kaget. Server situsnya mungkin sudah lebih hafal kebiasaan pengguna Indonesia dari petugas RT mengenal warganya.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid pada Februari 2025 menyebut 50,3 persen anak Indonesia pernah mengakses konten seksual di internet. Yang lebih mencengangkan, data historis Kominfo pernah menyebut 97,2 persen siswa SMA diperkirakan pernah mengakses konten dewasa.

Situasinya kadang lucu sekaligus tragis. Pendidikan reproduksi dianggap tabu. Tetapi internet menggelar festival reproduksi internasional 24 jam sehari tanpa tiket masuk.

Di sekolah, guru takut menjelaskan terlalu detail. Di internet, algoritma menjelaskan terlalu detail, lengkap dengan trailer, episode spesial, dan rekomendasi tontonan berikutnya. Hafal anega gayanya ala kamasutra. Bahkan, kakek Sugiono pun mereka lebih hafal dari nama menteri. Akibatnya banyak remaja belajar hubungan biologis dari sumber yang kualitas akademiknya setara belajar fisika kuantum dari tukang ramal.

Yang menarik, Indonesia berbeda dengan Amerika dan Eropa. Di Prancis lebih dari 60 persen anak lahir di luar nikah. Di Amerika sekitar 40 persen. Mereka tetap menganggap kehamilan remaja sebagai masalah serius. Tetapi fokus mereka adalah kesehatan ibu, pendidikan, dan masa depan anak. Kalau ada siswi hamil, sekolah mencari cara agar ia tetap bisa belajar. Ada konseling, bantuan sosial, dan ada pendampingan.

Kalau di negeri kekuasaan Prabowo? Kadang yang lebih cepat bergerak justru tetangga. Karena di sini yang hamil satu orang. Yang malu satu keluarga. Yang panik satu RT. Yang membuat teori konspirasi satu kompleks. Yang membuat status WA sindiran bisa satu kecamatan.

Budaya kita memang unik. Kalau anak juara olimpiade, satu keluarga bangga. Kalau anak bikin masalah, satu keluarga ikut sidang moral. Maka muncullah solusi favorit bangsa, menikahkan secepat mungkin.

Kadang pasangan belum punya pekerjaan. Belum punya rumah. Belum punya tabungan. Belum punya penghasilan. Tetapi sudah punya jadwal akad. Ibarat pemain Mobile Legends yang baru level 3 tetapi langsung menantang bos terakhir.

Padahal menikah bukan tombol reset. Setelah pesta selesai, justru permainan baru dimulai. Kemarin masih minta uang jajan. Besok membeli susu bayi. Kemarin masih rebutan charger. Besok rebutan giliran begadang. Kemarin masih belajar hukum Newton. Besok belajar hukum kehidupan.

Karena itu, malam Jumat ini ada satu kesimpulan sederhana. Hubungan bilateral memang indah. Sunnah Rasul memang mulia. Tetapi semua ada waktunya, ada ilmunya, ada tanggung jawabnya.

Sebab burung merpati boleh terbang ke mana saja. Tetapi kalau terbang terlalu cepat sebelum memiliki peta, kompas, dan bekal perjalanan, jangan kaget kalau akhirnya mendarat darurat di kantor pengadilan agama. Percayalah wak, suara bayi jam dua pagi jauh lebih keras dari suara notifikasi Mobile Legends.

Foto AI hanya ilustrasi.

Komentar
  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Rekomendasi

  • Nah Ini Dia! 5 Cara Nyeduh Kopi dari Garut

    Nah Ini Dia! 5 Cara Nyeduh Kopi dari Garut

    • calendar_month Sabtu, 24 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kopi Garut, khususnya dari wilayah pegunungan seperti Papandayan, Cikuray, dan Kamojang, dikenal memiliki profil rasa buah (fruity) dan aroma yang kuat. Berikut adalah 5 cara menyeduh kopi Garut untuk hasil maksimal di tahun 2026:  1. Metode Tubruk (Tradisional) Cara paling sederhana untuk menikmati keaslian rasa kopi Garut.  Takaran: 1–2 sdm kopi bubuk halus/medium untuk […]

  • Bukan Siswa yang Keras… tapi Belum Tahu Cara Menenangkan Diri

    Bukan Siswa yang Keras… tapi Belum Tahu Cara Menenangkan Diri

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saya pernah mendampingi seorang siswa laki-laki.   Kalau dilihat sekilas, orang akan cepat memberi label: “emosian”, “pembangkang”, bahkan “bermasalah”.   Dia mudah sekali meledak. Hal kecil bisa jadi besar.   Pernah suatu kali, hanya karena temannya ingkar janji, dia langsung marah besar… bahkan sampai mengancam lewat pesan.   Di waktu lain, dia terlibat perkelahian— […]

  • Sah! Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    Sah! Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1447 H/2026 M jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Penetapan ini didasarkan pada hasil Sidang Isbat (penetapan) 1 Ramadan 1447 H yang dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (17/2/2026).   “Sidang Isbat menyepakati bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026,” […]

  • Umat Islam dan Kesadaran Ekologi yang Minimalis

    Umat Islam dan Kesadaran Ekologi yang Minimalis

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Ahmad Gibson al-Bustomi, Dosen Filsafat dan Teologi
    • 0Komentar

    “Dan tidaklah aku utus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (al-anbiya:107) TIGARUT.COM — Tidaklah perlu untuk membuka dan membolak-balik lembaran al-Qur’an untuk memastikan “doktrin” Islam tentang kemestian untuk memperhatikan dan perduli terhadap kelestarian lingkungan hidup (alam). Karena, salah satu tujuan utama kehadiran Islam di muka bumi ini adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam. Lebih dari sekedar […]

  • Harlah NU ke-103 di Pasirwangi, Warga Nahdliyin Sinergi Bangun Daerah

    Harlah NU ke-103 di Pasirwangi, Warga Nahdliyin Sinergi Bangun Daerah

    • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM, Pasirwangi – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut mengapresiasi peran strategis Nahdlatul Ulama (NU) sebagai garda terdepan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan merawat tradisi Islam yang moderat (wasathiyah). Hal ini disampaikan dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) NU yang dilaksanakan di Lapangan Desa Pasirwangi, Kabupaten Garut, Jum’at (23/1/2026). Staf Ahli Bupati Garut, Maskut […]

  • Digital Hustle Muslim Fesyen Garut, Nasibnya di Tangan Milenial dan Gen Z

    Digital Hustle Muslim Fesyen Garut, Nasibnya di Tangan Milenial dan Gen Z

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di Jalan Pramuka dan seantero Jalan Raya Tarogong, dari plang toko kecil hingga butik kekinian di Garut Plaza, satu hal mulai terasa progresif: fashion muslim bukan lagi sekadar kain dan syariat, tapi bahasa ekspresi jutaan milenial dan Gen Z yang melebur antara identity, style, dan digital hustle. Setiap sore, etalase butik dan pop-up […]

expand_less