Takzim pada Kyai
- account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
- calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TIGARUT.COM — Saya takzim pada Pak Kyai ini. Self-awareness, tahu diri, meneduhkan dan memanusiawikan diri. Fokusnya ke diri.
Begitu pun semestinya dengan semua ormas Islam. Banyak dari kita suka sok-sok an, ingin memperbaiki ini itu, padahal mungkin kebanyakan kita hanya menitipkan diri untuk hidup didalamnya dan justru kitalah yang diuntungkan oleh organisasi itu. Kalau semua aktivis ormas seperti Pak Kyai ini, maka semuanya akan rendah hati, damai untuk saling memberikan jabatan dan kedudukan pada yang lebih berhak. Memperbaiki lingkungan hanya akan bisa setelah kita memperbaiki diri sendiri. Memperbaiki lingkungan akan lebih berpengaruh dengan pancaran diri ketimbang oleh teriakan dan kutukan menyalahkan orang lain.
Begitupun dengan bernegara. Selama kita suka nyelip seenaknya kendaraan orang lain di jalan raya, gak mau kalah dan lebih mementingkan diri sendiri, selama kita belum terbiasa tertib antri mendapat giliran, selama bagian kita ingin lebih dari yang lain, selama belum bisa menghargai hak orang lain atau sebelum bisa lebih mementingkan orang lain, selama kita masih seenaknya membuang sampah di jalan raya, selama kita tak suka mempertanyakan uang yang kita terima dari mana, halal atau tidaknya dll, jangan dulu teriak-teriak menyalahkan orang lain, kritik para pejabat, mengkritik korupsi, karena kita juga tanpa sadar adalah koruptor lain di level yang berbeda.
Kita tahu, korupsi itu sudah jadi budaya, artinya kita juga bagiannya, kita juga adalah koruptor dalam bentuk lain: Mengambil hak orang, ego mementingkan diri sendiri, rendah kesadaran
menghargai orang lain dsb. “Tapi kan koruptor itu pejabat publik? Harus dikritik!!” Iya benar, silahkan, tapi teriakan kita gak akan ngaruh selama kita adalah saudaranya.
Kritik sosial, kritik pemerintah, kritik kekuasaan dll, semuanya harus dan benar. Tapi memperbaiki diri dulu adalah lebih harus dan lebih benar. Kita tingkatkan bobot dan kualitas kritik sosial kita dengan kritik dan penyadaran pada diri sendiri dulu. ‘Ibda binnafsika!” Salam akal sehat.
- Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
