Breaking News

Tradisi Buka Puasa Bersama Semakin Membumi

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
  • visibility 239
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Ramadan itu unik. Siangnya kita menahan lapar, haus, dan godaan. Malamnya kita menahan diri untuk tidak menambah dua piring lagi. Di antara dua kutub itu, lahirlah satu tradisi yang makin hari makin sakral, buka puasa bersama. Bukber. Sebuah ritual sosial yang kadang lebih heboh dari rapat paripurna, lebih ramai dari seminar nasional, dan lebih strategis dari lobi politik kelas kakap.

 

Dalam dua hari terakhir, saya ikut dua episode “drama kolosal” itu.

 

Pertama, di Hotel Orchardz Pontianak. Diundang oleh H. Ahmad Kholil, bos Muzdalifah Tour and Travel. Saya melangkah masuk dengan perasaan seperti mahasiswa baru nyasar ke ruang dosen besar. Di ruangan itu berkumpul para pemilik travel umrah ternama. Orang-orang yang tiap musim bisa memberangkatkan ribuan jamaah ke Tanah Suci. Mereka berbicara tentang kuota, visa, tiket, hotel, regulasi. Bukan obrolan receh. Itu obrolan yang kalau dikonversi ke rupiah, mungkin bunyinya bisa bikin dompet saya minta perlindungan saksi.

 

Saya? Kang ngopi. Duduk manis. Nyempil di belakang. Berada di tengah orang-orang tajir yang mungkin omzetnya bisa bikin grafik ekonomi naik sendiri tanpa bantuan doa qunut. Tapi di situlah letak keindahannya. Saya belajar, bisnis umrah bukan sekadar spanduk pelepasan dan koper seragam. Di baliknya ada manajemen rapi, kalkulasi kurs dolar yang bisa naik-turun seperti emosi netizen, ada strategi menghadapi regulasi, ada seni menjaga kepercayaan jamaah. Mengantar orang beribadah ternyata butuh kecerdasan finansial, kecermatan hukum, dan ketahanan mental. Saya kagum. Ternyata dunia ini digerakkan oleh orang-orang yang bekerja dalam sunyi, tapi dampaknya sampai ke langit.

 

Bukber kedua tak kalah mengguncang batin. Undangan datang dari jajaran Kementerian Kehutanan yang menjalankan Forest Programme di Kabupaten Sanggau, Kalbar. Lokasinya di Kafe Periok, Jalan Sungai Raya Dalam, Kubu Raya. Awalnya saya tak kenal siapa-siapa. Saya datang dengan niat sederhana, silaturahmi dan jangan salah ambil minuman orang.

 

Ternyata yang mengundang adalah Pak Julmansyah. Beliau ingin kenalan. Katanya, beliau penggemar tulisan-tulisan saya. Saya senyum, antara terharu dan takut geer. Lebih mengejutkan lagi, ada anak buahnya yang hafal istilah “Koptagul”. Saya pikir istilah itu cuma berseliweran di kepala pembaca setia. Ternyata sudah menembus dinding kantor kementerian. Dunia literasi memang tak kenal sekat.

 

Pak Julmansyah sendiri seorang penulis buku. Di momen itu beliau menghadiahi saya buku tebal berjudul Sumbawa-Masyarakat dan Budaya. Tebalnya seperti skripsi yang tidak mengenal kata ringkas. Isinya tentang masyarakat dan budaya, tentang denyut kehidupan yang sering luput dari headline. Saya menerimanya dengan rasa hormat. Di meja bukber itu, ilmu pengetahuan duduk berdampingan dengan es buah dan gorengan. Peradaban memang sering lahir di antara remah-remah makanan.

 

Lalu ada Dr. Desy Ekawati, S.Hut., M.Sc., yang menjalankan Forest Programme. Ia dan Pak Jul menginginkan saya menuliskan proyek perhutanan sosial dalam bentuk buku, dengan gaya camanewak. Ringan, renyah, asyik. Nuan bayangkan, hutan yang biasanya dibahas dengan bahasa teknis penuh terminologi, ingin diterjemahkan menjadi bacaan yang bisa dipahami orang kampung sampai profesor. Saya langsung berpikir, ini bukan sekadar proyek menulis. Ini jembatan. Menghubungkan kebijakan dengan rakyat, teori dengan dapur rumah tangga, karbon dengan kehidupan sehari-hari.

 

Mereka mengenal saya lewat Pak Jumtani, sesama anggota Pokja REDD+ Kalbar. Lagi-lagi terbukti, rezeki sering datang lewat kawan. Bukan lewat status galak, bukan lewat sindiran tajam, tapi lewat jaringan persahabatan. Dalam satu meja bukber, bisa lahir kolaborasi. Dalam satu gelas jeruk hangat, bisa muncul gagasan buku. Dalam satu undangan sederhana, bisa terbuka pintu masa depan.

 

Orang boleh saja menyindir bukber sebagai ajang pamer outfit atau lomba foto paling estetik. Silakan. Tapi bagi yang mau melihat lebih dalam, bukber adalah ruang belajar sosial. Tempat ekonomi, budaya, kehutanan, literasi, dan spiritualitas berpelukan tanpa canggung. Ia bukan sekadar makan setelah azan. Ia adalah simpul pertemuan takdir.

 

Sudah dua kali saya bukber. Biasanya menjelang Idulfitri, jadwal makin padat. Kafe, hotel, rumah makan penuh. Orang-orang datang membawa lapar dan pulang membawa cerita. Saya semakin yakin, di balik riuh sendok beradu dan suara azan magrib, Tuhan sedang menulis skenario yang jauh lebih indah dari yang kita rencanakan.

 

Bukber bukan cuma tradisi. Ia adalah laboratorium kehidupan. Kadang, di sanalah kita sadar, yang membuat kita besar bukan hanya apa yang kita makan, tapi siapa yang duduk semeja dengan kita.

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

 

  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Penguatan Resiliensi Remaja Melalui Kisah Nabi

    Penguatan Resiliensi Remaja Melalui Kisah Nabi

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 195
    • 0Komentar

    Tema: “Dari Sumur di Kanaan ke Istana Mesir” Terinspirasi dari kisah Nabi Yusuf (Masuk perlahan. Turunkan suara.)   “Ini adalah postingan lanjutan dari modul BK dengan judul serupa”   Pernah nggak sih… kamu merasa sendirian, padahal lagi ada di tempat yang ramai? Teman-teman kamu ngobrol. Grup jalan terus. Story mereka rame, tapi nama kamu nggak […]

  • Dulu Lapangan Kerkhof Garut, Eks Makam Belanda. Kini Jadi Sarana Olahraga dan Wisata Kuliner

    Dulu Lapangan Kerkhof Garut, Eks Makam Belanda. Kini Jadi Sarana Olahraga dan Wisata Kuliner

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 352
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Warga Garut pastinya sudah tidak asing dengan lapangan Kerkhof Garut, namun siapa sangka sarana olahraga ini dulunya merupakan makam Belanda.   Garut merupakan Kabupaten yang terletak di Jawa Barat dimana terkenal di kalangan wisatawan memiliki banyak destinasi yang seru untuk dikunjungi.   Salah satu yang mungkin bisa membuat penasaran ada lapangan Kerkhof Garut yang […]

  • Nah Ini Dia! 5 Rekomendasi Toko Fesyen Muslim Merek Ternama di Garut

    Nah Ini Dia! 5 Rekomendasi Toko Fesyen Muslim Merek Ternama di Garut

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 1.411
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut bukan hanya dikenal dengan dodol dan pemandangan alamnya, tetapi juga perlahan tumbuh sebagai kota yang mengikuti dinamika gaya hidup generasi muda. Dalam beberapa tahun terakhir, tren fesyen Muslim modern mengalami lonjakan signifikan, terutama di kalangan Gen Z dan Milenial. Mereka tidak hanya mencari busana yang syar’i, tetapi juga stylish, nyaman, dan relevan […]

  • Mengapa USD Tembus Rp18.000 Padahal Fundamental Ekonomi Kuat 

    Mengapa USD Tembus Rp18.000 Padahal Fundamental Ekonomi Kuat 

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • account_circle Denny JA
    • visibility 134
    • 0Komentar

    – Apa Bedanya dengan Krisis 1998? TIGARUT.COM — Seorang ibu di Pasar Senen memegang kalkulator kecil di tangannya. Pagi itu ia baru menerima pesan dari anaknya yang sedang kuliah di Australia. Tidak ada kabar buruk dari kampus. Tidak ada kenaikan uang kuliah. Tidak ada masalah akademik. Namun biaya semester berikutnya melonjak puluhan juta rupiah hanya dalam […]

  • Jalur Berkelok dan Menanjak, 5 Tips Aman dan Nyaman Melintasi Pegunungan Garut Selatan

    Jalur Berkelok dan Menanjak, 5 Tips Aman dan Nyaman Melintasi Pegunungan Garut Selatan

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 166
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut Selatan menyimpan pesona alam yang memikat. Hamparan perbukitan hijau, lembah yang menawan, hingga pantai selatan yang eksotis menjadi daya tarik bagi wisatawan maupun para perantau yang hendak pulang kampung. Namun, keindahan tersebut kerap diiringi tantangan berupa jalan pegunungan yang berkelok, menanjak, dan menurun tajam. Bagi pengendara, melintasi jalur pegunungan bukan sekadar soal sampai […]

  • Siapakah Raden Moehammad Moesa? Ini Biografi Singkatnya

    Siapakah Raden Moehammad Moesa? Ini Biografi Singkatnya

    • calendar_month Selasa, 24 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 227
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Raden Moehammad Moesa adalah seorang sastrawan dan tokoh penting dalam perkembangan sastra Sunda pada abad ke-19. Ia lahir sekitar tahun 1822 di Garut, Jawa Barat, dan dikenal sebagai salah satu pelopor penggunaan bahasa Sunda dalam karya tulis modern. Moesa bekerja sebagai pegawai pemerintahan kolonial Belanda (pangreh praja), yang memberinya akses pada pendidikan dan […]

expand_less