Breaking News
dark_mode

Ironi Pun Boncel

  • account_circle Ahmad Gibson al-Bustomi, Dosen Filsafat dan Teologi
  • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PANAS TIRIS BASEUH TUHUR,
NGEUNAH TEU NGEUNAH NU AING,
NU KASORANG ULAH NYEMAH,
BISI PAJAR DIPILAIN,
HIJI BARANG DUA NGARAN,
BONGAN DUA NU NGALANDI.
(K.H. Hasan Mustapa)

Dulu, ceritera epik Pun Boncel bukan merupakan cerita asing. Entah sekarang. Anak desa yang meninggalkan kampung halaman dan ibunya, menjadi pengembala kuda dan akhirnya menjadi seorang bangsawan. Ketika kesuksesan telah diraihnya, ia mencampakkan dan tidak mengakui ibunya. Dan, sang ibu pun menghujat anaknya. Pun Boncel sakit keras.

Ceritanya mirip Malin Kundang yang dikutuk ibunya menjadi batu. Tampaknya kaum ibu di masyrakat Sunda lebih pemaaf, seperti dalam cerita Pun Boncel. Ia hanya di dihujat dan sakit, dan setelah Pun Boncel insap serta memohon ma’af, sang ibu memaafkannya dan Pun boncel pun sembuh dari sakitnya. Selanjutnya, mereka menjadi keluarga yang bahagia. Happy Ending.

Melihat alur dan setting suasananya, cerita Pun Boncel, bisa dipastikan lahir dari masa penaklukan (penjajahan) Mataram atas wilayah Priangan. Secara selintas, cerita ini hanya merupakan cerita yang berisi petuah tentang akibat dari kedurhakaan seorang anak terhadap ibunya. Akan tetapi, untuk konteks budaya ketika itu, sangat sulit diterima adanya kenyataan seorang anak mendurhakai ibunya, dengan tidak mengakuinya.

Dalam konteks kesekarangan; bila hal itu benar-benar terjadi, ada anak yang mengabaikan atau bahkan tidak mengakui atau menolak orang tuanya (khususnya ibunya), bisa dipastikan bukan hanya karena anak tersebut memang durhaka, akan tetapi bisa pula dipastikan karena orang tuanya sendiri yang tidak (bisa) memposisikan dirinya sebagai orang tua. Dan, fenomena itu tidak ditemukan pada cerita Pun Boncel. Lalu, ada apa di balik cerita Pun Boncel yang dulu sangat terkenal itu ? Wallahu’alam.

Fakta literal dari cerita Pun Boncel, adalah ironi. Seorang anak menolak ibunya karena ia seorang dusun yang miskin. Dalam kosmologi budaya Sunda, ibu adalah inti sari bumi (Dewi Sri) yang turun dari langit, dan ia adalah cahaya langit (Sunan Ambu), dan dunia (buana) adalah tempat bagi manusia untuk menemukan jati dirinya (Lutung Kasarung). Ibu adalah axis mundi (pusat dunia). Maka, bagi orang Sunda, tidak ada lagi dosa terbesar selain durhaka pada ibunya. Maka, cerita Pun Boncel menjadi cerita yang sangat berharga, mutiara paling berharga yang bisa diberikan sang ibu pada anak-anaknya ketika mengantarkan sang anak ke dalam mimpi malamnya yang paling indah.

Pun boncel, anak dusun, pada masa penaklukkan Mataram tidak mungkin berharap menjadi pembesar, bangsawan. Mimpi pun terlalu besar untuk itu. Dan, tanpa diduga, tarikan kehidupan menyeretnya ke ruang yang tidak pernah disentuh oleh mimpinya sekali pun. Ia menjadi bangsawan. Kecerdasan, keuletan dan kesabarannya, telah mengantarkannya ke sana. Dunia yang bersih dari lumpur kotor dan keringat pedusunan. Maka, ia campakkan pakaian lusuh yang ia bawa dari kampungnya, yang dulu ia terima sebagai warisan orang tuanya, yang ia terima dengan segenap jiwanya. Warisan yang menjadikannya hadir di muka bumi.

Budaya, kepribadian, moralitas. Itu yang ia warisi. Dan, kemudian dicampakkannya, karena ia telah mendapatkan budaya, kepribadian dan moralitas baru. Yang ia sandang dengan seluruh suka cita dan rasa bangga. Kenapa pun Boncel melepaskan warisannya setelah ia duduk di atas singgasana? Tidak bisakah ia duduk di atas singgasana dengan pakaian udiknya? Pakaian yang telah membangkitkan semangat hidupnya. Pakaian yang telah membuatnya menjadi manusia ulet dan sabar dan cerdas. Pakaian yang telah mengantarkan pada kesuksesan yang telah diraihnya?

Pun Boncel yang bangsawan itu, telah meninggalkan nilai-nilai primordialnya, telah meninggalkan axis mundi-nya. Meninggalkan, melupakan, bahkan menolak ibunya dengan rasa jijik. Menolak budayanya. Dan, akhirnya tanah, air dan nurani yang telah lama mengalir dalam darahnya, darah yang mengalir deras dari ibunya, berbalik meracuninya. Ia jatuh sakit. Ibu yang berwujud tanah dan air, ibu yang berwujud padi yang menjadi makanan pokoknya, ibu yang mewujud cahaya mata hari dan cahaya hatinya. Maka, mata hati dan mata bathin Pun Boncel pun menjadi gelap, tak ada cahaya yang bisa menyelinap ke dalam matanya. Tertutup baju kebesaran. Baju orang lain.

Fenomena Pun Boncel, adalah ironi yang berubah menjadi tragedi. Tragedi kultural, tragedi kepribadian. Tragedi yang terlahir dari budaya kolonialisme serta poskolonialisme dan mental inlander. Cerita Pun Boncel dalam konteks kesekarangan bisa dilihat sebagai kritik terhadap sikap radikal dari cara pandang orang pada budayanya. Cara pandang yang mengkutub secara radikal, cara pandang hitam putih terhadap kebudayaan.

Kebudayan, termasuk kebudayaan pribumi, bukanlah kitab suci yang harus diterima secara apriori, dan bukan pula pakaian yang bisa begitu saja ditanggalkan dan dibuang. Ia adalah badan kita sendiri, yang harus dipelihara dan perlu diamputasi serta dibersihkan bila terdapat penyakit di dalamnya.

Masyarakat Sunda, khususnya di kalangan generasi muda dan setengah tua, kini seperti anak ayam kehilangan induknya. Ia kehilangan identitas dirinya, karena terasing dari budaya primordialnya dan ia pun tidak pernah bisa menapakkan kakinya di atas kebudayaan “modern” yang tidak jelas bentuknya.

Di satu sisi ia “mengutuk” budaya modern, dan di sisi lain ia tidak punya referensi budaya lokal atau budaya lain tempatnya berlabuh, kembali. K.H. Hasan Mustapa menggambarkan kondisi sejenis :

MUPUNJUNG KA UWUNG-UWUNG
MIGUSTI KA KATUMBIRI
MANGERAN KA AWANG-AWANG
LAIN DEUI LAIN DEUI
NU AYA DISAHA-SAHA
ALING-ALING ROCH IDOFI

NU MATAK DIUGUNG-UGUNG
KUPANARIMANING ATI
NU DATANG DISAHA-SAHA
NU UNDUR DILEUNGIT-LEUNGIT
KOKOCEAKAN NEANGAN
MATANGANKEUN NU NGABUKTI

Rasa frustasi, termasuk dari kalangan budayawannya, telah melahirkan sikap mengkutub yang membuta. Mereka mencari-cari sesuatu dari catatan masa lampau yang belum tentu cocok, bahkan mungkin terasa asing. Karena apa yang dicarinya telah terlalu jauh dari titik dimana ia berdiri. Ia pun menolak nilai-nilai lokal “kontemporer” karena dicurigai sebagai sesuatu yang bukan miliknya. Dan sebagian lagi, menolak masa lalu dan budaya lokal dengan rasa nyinyir, sementara apa yang dipegang pun tak sepenuhnya ia pahami. Mereka seperti “Nu pundung di Bandung ka Cikapundung” yang diungkap dalam Uga Bandung.

Masyarakat Sunda kini mengalami neurosis, karena frustasi. Neurosis pula yang menyebabkan masyarakat Sunda terpecah-pecah. Mereka mencari akar historis bangsanya, sambil menolak-nolak dan memilah sebagian dari fakta pengalaman sejarahnya. K.H. Hasan Mustapa menyindir perilaku menyebelah ini dangding-nya :

KIAINA DEUI KITU,
TEPI KA MELETIK BUDI,
HIDAYAT KA PANGERANAN,
HERAN KU BASA KIAI,
NAHA BÊT NYÊMBAH NYABEULAH,
KUMAHA JADINA HIJI.

Kini, masyarakat Sunda hanya bisa berharap ibunya yang telah dilupakan tidak mengutuknya, walau rasa sakit telah merasuki seluruh bagian tubuhnya. Bahkan, borok dan benjolan-benjolan telah muncul di sana-sini. Lebih dari sebagaian tubuh telah ada yang diamputasi. Ia hanya bisa meratap, setelah bagian dari tubuh itu terpisah dari badannya. Kalau pun supata (kutuk) sang Ibu telah diucapkan, hanya ada satu harapan, Sang Ibu masih mau memafkan dan menerimanya. Itu pun, bila ia segera menyadari kesalahan dan penyakit yang dideritanya, dan “Nu pundung di Bandung ka Cikapundung geus balik deui”. Wallahu’alam.

Ahmad Gibson Al-Bustomi, Dosen Filsafat dan Teologi UIN Sunan Gung Djati Bandung
Ketua Divisi HHM Society (Masyarakat Haji Hasan Mustapa) Yayasan Pasamoan Sophia Bandung.

Komentar

Rekomendasi

  • Belajar Memahami Realita

    Belajar Memahami Realita

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Akhir-akhir ini lagi kepikiran lagi soal program BK…belum benar-benar disusun, masih di tahap mikir dan “nyicil latihan” sedikit-sedikit. Dan di proses itu, saya malah keingat fase lama saya— fase yang terlalu terpaku pada “template”.   Dulu, setiap bikin program BK, rasanya semua aspek (ke-11 bidang itu) harus masuk, yang penting lengkap, yang penting sesuai […]

  • Deklarasi Gerakan Rukun Sama Teman di Garut

    Deklarasi Gerakan Rukun Sama Teman di Garut

    • calendar_month Minggu, 11 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti bersama ratusan murid di SMPN 1 Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat mendeklarasikan Gerakan Rukun Sama Teman sebagai upaya menumbuhkan budaya sekolah yang aman dan nyaman. “Pendidikan nasional bertujuan untuk membangun generasi bangsa yang unggul, membentuk sumber daya manusia hebat, dan generasi muda yang […]

  • Asyik! Garut Siapkan Jalur Mudik Lintas Selatan

    Asyik! Garut Siapkan Jalur Mudik Lintas Selatan

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Untuk melayani dan demi kelancaran arus mudik, Pemerintah Kabupaten Garut, Jawa Barat (Jabar) segera melakukan perbaikan infrastruktur jalan Singajaya-Cibalong yang menghubungkan dengan jalur lintas selatan Jabar. Langkah ini diambil untuk memudahkan masyarakat dalam berbagai aktivitas pendidikan dan perekonomian seperti pendistribusian hasil pertanian dan pariwisata.   “Itu l salah satu jalur prioritas pengembangan wilayah […]

  • Suka dan Cinta

    Suka dan Cinta

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saudaraku, apa bedanya “aku menyukaimu” dan “aku mencintaimu”?   Ketika engkau menyukai bunga, kau petik ia sekejap—rupanya memikat, semerbaknya kau hirup diam-diam, lalu ia gugur bersama waktu yang engkau abaikan.   Ketika engkau mencintai bunga, kau sirami ia setiap hari, kau rawat tanahnya, kau jaga akarnya, kau temani tumbuhnya—dan dari kuncup yang perlahan merekah, […]

  • Nah Ini Dia! 5 Kopi Lokal Khas Garut yang Wajib Kamu Coba

    Nah Ini Dia! 5 Kopi Lokal Khas Garut yang Wajib Kamu Coba

    • calendar_month Kamis, 1 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut tidak hanya dikenal dengan dodol dan keindahan alamnya, tetapi juga memiliki kekayaan kopi lokal dengan karakter rasa yang khas. Berada di kawasan pegunungan dengan tanah vulkanik yang subur, Garut menjadi rumah bagi berbagai varietas kopi berkualitas tinggi. Berikut adalah 5 kopi lokal dari Garut yang patut mendapat perhatian para pecinta kopi. 1. […]

  • Yuk Tingkatkan Disiplin dan Etos Kerja di Bulan Ramadan

    Yuk Tingkatkan Disiplin dan Etos Kerja di Bulan Ramadan

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, melaksanakan salat tarawih pertama bulan Ramadan 1447 Hijriah di Masjid Agung Garut, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, pada Rabu malam (18/02/2026). Salat tarawih pertama di Masjid Agung Garut sendiri dipimpin oleh imam yaitu Ketua DKM Masjid Agung Garut, K.H Muhammad Sufina. Momen ini dimanfaatkan Bupati Garut untuk menyampaikan pesan […]

expand_less