Breaking News
dark_mode

20 Juta Pelayat Bukti Pemimpin Dicintai dan Selalu Didoakan

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIGARUT.COM — Ada satu kenyataan yang tak pernah bisa dikalahkan oleh kekuasaan. Jabatan memiliki masa jabatan. Istana memiliki pintu keluar. Kekayaan memiliki ahli waris. Tetapi nama baik… bisa hidup jauh melampaui usia pemiliknya. Itulah yang tampak dalam prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei.

 

Kita lanjutkan prosesi pemakaman jenazah Ali Khamenei yang menggerakkan jutaan rakyat Iran. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak.

 

Lautan manusia memenuhi jalan-jalan Iran. Diperkirakan lebih dari 20 juta orang hadir mengantarkan kepergian sosok yang selama 37 tahun memimpin Republik Islam Iran. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah kisah tentang bagaimana seorang pemimpin akhirnya diantar oleh rakyatnya menuju perjalanan terakhir.

 

Media Iran berulang kali menggambarkan kehidupan pribadi almarhum sebagai sosok sederhana. Rumah yang ditempatinya disebut hanya sekitar 60 meter persegi. Tidak ada vila-vila megah, tidak ada kompleks istana pribadi, tidak ada kemewahan dipamerkan kepada dunia. Dalam berbagai catatan publik, harta pribadinya disebut sekitar 50 ribu dolar Amerika, berupa tabungan dan barang-barang sederhana. Terlepas dari berbagai perdebatan politik yang selalu mengiringi setiap tokoh besar dunia, kesederhanaan itulah yang diyakini para pendukungnya menjadi salah satu alasan mengapa jutaan orang rela berdiri berjam-jam hanya untuk mengucapkan selamat tinggal.

 

Lalu sejarah pun kembali berbicara.

 

Tidak banyak manusia wafatnya mampu menghentikan aktivitas jutaan orang sekaligus. Sebelum Khamenei, dunia mengenal pemakaman Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989. Diperkirakan dihadiri sekitar 10 juta pelayat.

 

India pernah mencatat pemakaman C.N. Annadurai dengan sekitar 15 juta orang. Ini salah satu terbesar menurut Guinness World Records. Mahatma Gandhi diantar sekitar 1 hingga 2 juta pelayat. Kemudian, Paus Yohanes Paulus II sekitar 4 juta umat. Sedangkan Jawaharlal Nehru sekitar 1,5 juta orang. Jika angka lebih dari 20 juta benar adanya, maka prosesi pemakaman Ali Khamenei menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah modern.

 

Namun sesungguhnya, pelajaran terbesar bukanlah tentang angka. Dua puluh juta orang tidak bisa membeli kehidupan seseorang kembali. Dua puluh juta orang tidak mampu mengulang satu detik pun waktu yang telah berlalu.

 

Dua puluh juta orang hanya menjadi saksi, pada akhirnya manusia akan diingat bukan karena apa yang dibawa saat lahir, melainkan apa yang ditinggalkan saat pergi. Di sinilah sejarah sering menyampaikan nasihat paling keras kepada setiap penguasa.

 

Ketika sirene pengawalan berhenti berbunyi. Ketika mobil dinas telah menjadi milik pejabat berikutnya. Ketika ruang kerja berganti nama. Ketika foto resmi diturunkan dari dinding. Apa yang masih tersisa?

 

Apakah rakyat datang karena cinta? Ataukah mereka datang karena sekadar memenuhi undangan resmi?

 

Tidak ada warisan lebih mahal dari kepercayaan rakyat. Jabatan dapat diperoleh melalui pemilu, penunjukan, kekuatan politik. Namun penghormatan tulus hanya lahir dari kehidupan yang dianggap memberi manfaat bagi orang lain.

 

Ironinya, banyak manusia menghabiskan seluruh hidupnya mengejar kekayaan. Ini seolah rekening bank dapat dibawa ke alam kubur. Ada membangun istana megah, mengumpulkan kendaraan mewah, mempertaruhkan amanah demi memperkaya diri. Padahal ketika perjalanan hidup berakhir, peti jenazah tetap memiliki ukuran sama bagi semua orang.

 

Sejarah tidak pernah menghafal saldo rekening. Sejarah menghafal jejak.

 

Karena itu, setiap pemimpin sesungguhnya sedang menulis epitafnya sendiri setiap hari. Dengan setiap keputusan yang dibuat, dengan setiap amanah yang dijaga atau dikhianati, dengan setiap rupiah yang diselamatkan atau dikorupsi, ia sedang menentukan bagaimana kelak rakyat akan mengenangnya.

 

Mungkin inilah renungan paling berharga dari sebuah pemakaman besar. Bukan tentang siapa paling berkuasa, melainkan tentang siapa paling memberi arti. Sebab pada akhirnya, manusia tidak akan dikenang karena lamanya memegang jabatan, melainkan karena besarnya manfaat yang ditinggalkan. Ketika hari terakhir itu tiba, tidak ada penghormatan lebih agung dari doa tulus lahir dari hati rakyat, bukan karena perintah, melainkan karena rasa hormat yang tumbuh dari keteladanan.

 

“Bang, jangan sampai nanti kita mati, lalu warga bilang, untunglah cepat mati, dari pada hidup nyusahkan rakyat.”

 

“Aamin, wak. Kuncinya, orang baik dikenang baik. Kalau suka khianat, rakyat pun mengingatnya.”

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

 

Komentar
  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Rekomendasi

  • 5 Alasan Festival Seni Budaya Sayang Heulang Jadi Pesona Garut Selatan

    5 Alasan Festival Seni Budaya Sayang Heulang Jadi Pesona Garut Selatan

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM –Festival Seni Budaya Sayang Heulang bukan sekadar panggung hiburan, tetapi menjadi wajah baru kebangkitan pariwisata Garut Selatan. Digelar di kawasan Bukit Teletubbies Pantai Sayang Heulang, Pameungpeuk, festival ini memadukan panorama laut selatan dengan kekayaan seni tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Kehadirannya menjadi bukti bahwa pesona Garut Selatan tidak hanya terletak pada alam, tetapi […]

  • Inilah Mitos Kejantanan Pria dan Sejarah Situ Sarkanjut

    Inilah Mitos Kejantanan Pria dan Sejarah Situ Sarkanjut

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Sebuah situ atau danau bernama Sarkanjut terkenal di Kabupaten Garut. Situ Sarkanjut kerap dikaitkan dengan mitos soal kejantanan pria. Situ Sarkanjut terletak di Kampung Sarkanjut, Desa Dungusiku, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut. Lokasinya, berada sekitar 20 kilometer di arah Utara perkotaan Garut. Situ Sarkanjut, memang tak biasa. Namanya, tak lazim didengar dan terkesan jorok. […]

  • Cerpen “Air Keras di Tengah Malam Jakarta”

    Cerpen “Air Keras di Tengah Malam Jakarta”

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Malam Jakarta sering terlihat biasa saja. Lampu jalan berdiri seperti penjaga yang kelelahan, angin membawa bau aspal, dan kota raksasa itu pura-pura tidur. Padahal Jakarta jarang benar-benar tidur. Ia hanya menunggu tragedi berikutnya muncul di tikungan jalan.   Kamis malam, 12 Maret 2026.   Sekitar pukul 23.37 WIB, Andrie Yunus melaju sendirian dengan motor […]

  • Mangkuk Hangat yang Menyatukan, 5 Keseruan di Festival Baso Aci Garut

    Mangkuk Hangat yang Menyatukan, 5 Keseruan di Festival Baso Aci Garut

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ada aroma yang sulit ditolak ketika semangkuk baso aci baru saja diangkat dari panci. Uapnya mengepul, kuahnya menggoda, sementara aroma bawang goreng, daun bawang, dan jeruk limau seolah memanggil siapa saja untuk segera menyendoknya. Di Garut, aroma itu tidak hanya berasal dari satu warung, melainkan berkumpul dalam satu perayaan besar: Festival Baso Aci Garut. […]

  • Asyik! Garut Siapkan Jalur Mudik Lintas Selatan

    Asyik! Garut Siapkan Jalur Mudik Lintas Selatan

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Untuk melayani dan demi kelancaran arus mudik, Pemerintah Kabupaten Garut, Jawa Barat (Jabar) segera melakukan perbaikan infrastruktur jalan Singajaya-Cibalong yang menghubungkan dengan jalur lintas selatan Jabar. Langkah ini diambil untuk memudahkan masyarakat dalam berbagai aktivitas pendidikan dan perekonomian seperti pendistribusian hasil pertanian dan pariwisata.   “Itu l salah satu jalur prioritas pengembangan wilayah […]

  • Nah Ini Dia! 8 Pesona Papandayan, Gunung Api Ramah Pendaki

    Nah Ini Dia! 8 Pesona Papandayan, Gunung Api Ramah Pendaki

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kawasan wisata alam Gunung Papandayan berada di Kecamatan Cisurupan. Kabupaten Garut, Jawa Barat. Dari pusat kota Garut, arahkan kendaraan menuju barat daya. Perjalanan sekitar satu jam dengan kendaraan bermotor. Gunung vulkanik ini terletak di antara dua desa, Sirnajaya dan Kramatwangi. Gunung ini merupakan salah satu tempat wisata unggulan di kabupaten yang terkenal dengan domba […]

expand_less