Breaking News
dark_mode

5 Konsekuensi Bila Jabar Berganti Nama Menjadi Tatar Sunda atau Pasundan

  • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
  • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIGARUT.COM — Sebagai warisan dan identitas budaya, orang Sunda pasti suka kesundaan disebutkan sebagai nama propinsi ketimbang “Jawa Barat” sebagai warisan administrasi kolonial. Saya saja suka walaupun bukan Sunda pituin alias blasteran Sunda-Makasaar, apalagi yang Sunda asli.

 

Tapi, mengganti nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Tatar Sunda atau Provinsi Pasundan memiliki konsekuensi yang luas, bukan sekadar mengganti papan nama. Dampaknya bisa dilihat dari beberapa sisi.

 

Pertama, Konsekuensi historis

 

Nama Jawa Barat adalah nama administratif yang lahir setelah kemerdekaan Indonesia. Nama itu bersifat geografis, bagian barat Pulau Jawa. Sedangkan Tatar Sunda adalah nama wilayah kebudayaan Sunda sejak berabad-abad lalu. Pasundan juga merupakan nama historis yang telah digunakan sejak masa kolonial, bahkan dikenal dalam istilah “Priangan dan Pasundan.” Artinya, perubahan nama akan mengembalikan identitas historis yang lebih tua daripada “Jawa Barat”.

 

Kedua, Konsekuensi identitas budaya

 

Ini mungkin dampak paling besar. Keuntungannya adalah identitas Sunda menjadi jauh lebih kuat. Bahasa, sejarah, dan budaya Sunda memperoleh pengakuan simbolik yang lebih tinggi. Generasi muda akan lebih sadar bahwa mereka tinggal di tanah budaya Sunda, bukan sekadar “Jawa bagian barat.”

 

Namun, sebagian kelompok bisa merasa khawatir bahwa nama tersebut terlalu menonjolkan etnis Sunda, padahal provinsi ini juga dihuni oleh masyarakat Jawa, Betawi, Cirebon, Tionghoa, Arab, dan berbagai etnis lainnya. Padahal secara faktual, mayoritas wilayah dan budaya dominan memang Sunda.

 

Ketiga, Konsekuensi politik

 

Ini bisa jadi yang paling sensitif. Nama “Pasundan” pernah dipakai dalam sejarah Negara Pasundan (1948–1950) bentukan Belanda. Walaupun konteksnya berbeda, sebagian kalangan mungkin mengaitkannya dengan sejarah federalisme sehingga memunculkan perdebatan politik. Sementara Tatar Sunda relatif lebih netral karena lebih merupakan istilah budaya daripada nama negara.

 

Keempat, Konsekuensi administratif

 

Ini yang akan menelan biaya besar. Sebab, perubahan nama berarti perubahan seluruh dokumen pemerintah, papan nama, lambang instansi, dokumen pertanahan, peraturan daerah, data statistik, hingga identitas digital pemerintahan. Biayanya bisa mencapai ratusan miliar rupiah dan dilakukan bertahap selama beberapa tahun.

 

Kelima, Konsekuensi psikologis masyarakat

 

Nama itu memiliki kekuatan simbolik. Misalnya: Yogyakarta bukan lagi “Jawa Tengah Selatan”. Aceh bukan “Sumatera Utara Barat”. Bali bukan “Nusa Tenggara Barat Timur.” Demikian pula, jika memakai nama Pasundan atau Tatar Sunda, masyarakat Sunda kemungkinan akan merasa identitas daerahnya lebih terwakili daripada nama geografis “Jawa Barat”.

 

Mana yang lebih tepat?

 

Menurut saya, bila tujuan utamanya adalah menguatkan identitas budaya tanpa memunculkan beban sejarah politik, maka Provinsi Tatar Sunda lebih aman secara akademik dan historis.

 

Namun jika ingin menghidupkan nama yang sudah sangat dikenal dalam literatur sejarah, sastra, dan budaya, maka Provinsi Pasundan lebih kuat secara historis dan lebih singkat diucapkan. Kata “Pasundan” juga sudah lama menjadi simbol kebudayaan Sunda, misalnya pada nama universitas, organisasi, dan berbagai lembaga budaya.

 

Jadi, perdebatan ini pada dasarnya bukan soal mengganti nama semata, melainkan memilih apakah identitas resmi provinsi tetap berbasis orientasi geografis (“Jawa Barat”) atau berbasis identitas sejarah dan kebudayaan (“Pasundan” atau “Tatar Sunda”). Keduanya memiliki landasan yang dapat diperdebatkan secara rasional, sehingga keputusan akhirnya akan bergantung pada pertimbangan historis, politik, hukum, dan aspirasi masyarakat Jawa Barat sendiri.

 

Tong seurieus teuing, bari uduuud Maang ….😊☕🚬

Komentar
  • Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung

Rekomendasi

  • Korban Tinggal Sama Taufik Karena Cinta atau Manipulasi?

    Korban Tinggal Sama Taufik Karena Cinta atau Manipulasi?

    • calendar_month Selasa, 30 Jun 2026
    • account_circle Nurul Indra, Mantan Jurnalis, Asisten Peneliti
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ada satu misteri tentang kasus Taufik yang masih jadi tanda tanya besar di kepalaku : detik pertama korban tinggal bersama Taufik itu karena cinta, atau karena manipulasi?   Setelah aku susun 3 versi cerita dari keluarga, polisi, dan rekan kerja kayak kepingan puzzle, ada beberapa titik yg janggalnya nggak manusiawi. aku tau, paling […]

  • Pasangan Abadi

    Pasangan Abadi

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Alimudin Garbiz, Share Creator, Pemerhati Sosial Politik
    • 0Komentar

    Anies Baswedan – Dedi Mulyadi, Duet Rasional Menuju Pilpres 2029 TIGARUT.COM — Menjelang Pemilihan Presiden 2029, berbagai spekulasi mengenai figur dan pasangan calon mulai menjadi perbincangan publik. Dalam dinamika tersebut, muncul satu kombinasi yang menarik untuk dikaji secara rasional dan objektif, yakni duet antara Anies Baswedan dan Dedi Mulyadi. Pasangan ini dinilai memiliki fondasi yang cukup […]

  • 5 Alasan Tour Asia Finis Makkah Ala Garut

    5 Alasan Tour Asia Finis Makkah Ala Garut

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Belakangan ini, muncul tren unik di kalangan masyarakat Garut dan sekitarnya: melakukan perjalanan wisata ke berbagai negara Asia yang kemudian ditutup dengan ibadah umrah di Makkah. Konsep “Tour Asia Finis Makkah” dianggap sebagai perpaduan antara wisata, refleksi diri, dan perjalanan spiritual. Berikut lima alasannya:   1. Menjadikan Perjalanan Berakhir dengan Ibadah Setelah menikmati destinasi […]

  • Asyiknya Ngabuburit di Cimanuk Garut

    Asyiknya Ngabuburit di Cimanuk Garut

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Menjelang waktu berbuka puasa, kawasan Cimanuk selalu dipadati warga yang ingin menikmati suasana sore Ramadan. Sungai yang membelah kota ini menjadi salah satu titik favorit untuk ngabuburit bersama keluarga, sahabat, maupun komunitas. Hamparan tepian sungai yang kini lebih tertata membuat masyarakat nyaman duduk santai sambil menikmati semilir angin sore. Anak-anak tampak bermain, remaja berburu […]

  • Inilah Pasar Ceplak, Pusatnya Jajanan dan Kuliner Urang Garut

    Inilah Pasar Ceplak, Pusatnya Jajanan dan Kuliner Urang Garut

    • calendar_month Kamis, 1 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saat berkunjung ke Garut Jawa Barat, tak lengkap jika belum datang ke pusatnya kuliner dan jajanan masyarakat setempat. Terletak di tengah kota, tepatnya di Jalan Siliwangi, Pasar Ceplak menjadi tujuan utama bagi Anda yang menyukai wisata kuliner. Mulai beroperasi mulai dari pukul 16.00-22.00 WIB, Pasar Ceplak merupakan pasar malam yang selalu ramai tiap […]

  • Asyik!  Garut Jadi Calon Percontohan Kabupaten/Kota Anti Korupsi 2026

    Asyik! Garut Jadi Calon Percontohan Kabupaten/Kota Anti Korupsi 2026

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut menerima kunjungan Tim Observasi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI dalam rangka Observasi Calon Percontohan Kabupaten/Kota Anti Korupsi Tahun 2026. Pertemuan ini berlangsung di Ruang Rapat Sekretariat Daerah Kabupaten Garut, Jalan Pembangunan, Kecamatan Tarogong Kidul, Kamis (9/4/2026). Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, menyambut hangat kehadiran tim observasi yang didampingi […]

expand_less