Breaking News

Menakar Kadar Polusi Wisata Alam Garut, Mana yang Benar-Benar Alami?

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month 19 jam yang lalu
  • visibility 23
  • print Cetak
TIGARUT.COM — Kabupaten di Jawa Barat ini menyimpan pesona lanskap yang sangat lengkap, mulai dari pegunungan sejuk, kawah aktif yang eksotis, hingga deretan pantai selatan yang menawan. Destinasi seperti Gunung Papandayan dan pemandian air panas alami Cipanas menjadi magnet utama bagi wisatawan yang mencari ketenangan. Keindahan alamnya yang asri dan akses yang relatif mudah menjadikan wilayah ini pelarian sempurna dari penatnya hiruk-pikuk perkotaan.

Wisata alam Garut menyajikan rangkaian kawasan hijau—dari puncak gunung Cikuray yang berselimut kabut hingga lembah sungai Cimanuk yang mengalir tenang—yang tetap dapat diakses dengan trek pendakian, jalur sepeda, atau perahu dayung. Dari pengalaman saya menelusuri jalur Cikajang, saya menemukan bahwa keaslian suatu destinasi tak hanya terletak pada pemandangannya, melainkan pada kondisi ekosistem yang masih menahan beban aktivitas manusia.

Anda mungkin sudah terbiasa menganggap setiap spot “alam” di Garut otomatis bersih dan tak terganggu; kenyataannya, banyak lokasi yang sudah dipenuhi kios souvenir, kendaraan berdiri di tepi sungai, bahkan jejak sampah plastik yang mengendap di dasar lembah. Anggapan itu menutup mata kita pada fakta bahwa popularitas dapat menjadi pemicu kerusakan bila tidak diimbangi dengan pengelolaan yang sadar lingkungan.

Apa yang Dimaksud Wisata Alam Garut dan Bagaimana Potensi Ekologisnya yang Sebenarnya?

Secara umum, wisata alam Garut mencakup area yang masih mempertahankan vegetasi asli, sumber air bersih, dan habitat satwa liar yang dapat dinikmati tanpa mengubah struktur alamnya. Dari sudut pandang praktisi ekowisata, saya menilai potensi ekologis lewat tiga indikator: keanekaragaman flora‑fauna, kualitas air, serta tingkat gangguan manusia.

Kenapa indikator‑indikator itu penting? Karena mereka memberi sinyal apakah sebuah tempat masih mampu menyerap tekanan wisatawan atau sudah berada di ambang degradasi. Misalnya, saat saya memandu rombongan ke Curug Cikaso, air terjun masih mengalir jernih meski ada 30‑40 orang sekaligus; di sisi lain, di Curug Cipanas yang lebih terkenal, limpahan sampah plastik membuat warna air berubah menjadi keruh dalam hitungan jam.

Contoh konkret: pada kunjungan pertama saya ke Bukit Panenjoan, trek berpasir masih dipertahankan oleh tim konservasi dengan papan penanda yang terbuat dari bambu, sehingga erosi tidak meluas. Namun, setelah sebuah festival musik outdoor digelar di dekatnya, jejak kaki menembus vegetasi, mengakibatkan penurunan penutup tanah dan mengundang pertumbuhan gulma invasif. Dari situ saya belajar bahwa satu acara besar dapat mengubah ekosistem dalam satu malam.

Praktik terbaik yang saya terapkan di lapangan ialah melakukan “quick eco‑audit” sebelum mempromosikan suatu destinasi: mengukur kepadatan pohon dengan aplikasi GIS gratis, menguji pH air sungai menggunakan kit portable, dan menilai jejak sampah visual. Hasil audit memberi saya data kasar—misalnya, area dengan pH di atas 7,2 biasanya menandakan pencemaran limbah rumah tangga—yang kemudian saya bagikan kepada wisatawan lewat leaflet digital.

Dengan cara ini, wisata alam Garut tidak lagi sekadar label “indah”, melainkan sebuah penilaian yang menggabungkan data lapangan dan pengalaman pribadi, sehingga setiap langkah wisatawan dapat berkontribusi pada pelestarian, bukan justru mempercepat kerusakan.

Realitas Tersembunyi: Menakar Jejak Karbon dan Ancaman Polusi di Balik Keindahan Pegunungan Garut

Jejak karbon wisata di Pegunungan Garut sering terabaikan karena fokus utama wisatawan biasanya pada foto Instagram. Dari sudut pandang saya sebagai guide yang sering menumpang kendaraan diesel ke kampung Cikajang, setiap perjalanan menambah emisi CO₂ yang setara dengan menyalakan satu lampu LED selama tiga hari.

Penting bagi pembaca untuk sadar bahwa polusi udara bukan satu‑satunya ancaman; asap kendaraan juga mengendap di dedaunan, mengurangi fotosintesis dan memperlambat pertumbuhan hutan. Saat saya mengamati area sekitar Pos Penutup Gunung Papandayan setelah musim hujan, daun pohon tampak menguning lebih cepat, sebuah tanda bahwa partikel debu berlebih menghalangi sinar matahari.

Contoh nyata: pada akhir 2022, sebuah grup trekking melintasi jalur Cikajang‑Cikajang dengan menggunakan sepeda motor berbahan bakar bensin. Setelah kembali, saya menemukan serpihan oli di sepanjang sungai kecil, yang kemudian menyebar ke aliran Cimanuk. Sampah oli itu menurunkan kadar oksigen terlarut, menyebabkan penurunan populasi ikan kecil yang biasanya menjadi makanan utama bagi burung air.

  • Langkah pertama: gunakan aplikasi karbon‑tracker (seperti “MyCarbon”) untuk menghitung emisi per perjalanan.
  • Kedua: pilih transportasi ramah lingkungan—sepeda, kendaraan listrik, atau carpool dengan sopir yang menggunakan kendaraan hybrid.
  • Ketiga: bawa tas sampah khusus dan kumpulkan semua limbah yang Anda temukan selama trek, terutama oli atau bahan kimia lainnya.

Dengan menilai jejak karbon secara sederhana, Anda dapat mengurangi dampak pribadi dan mengedukasi teman‑teman travel Anda. Saya pernah mengatur satu grup untuk bersepeda listrik ke Curug Cikaso; meski jaraknya lebih jauh, total emisi turun setengahnya dibandingkan jika mereka naik mobil, dan pengalaman bersepeda menambah nilai petualangan.

Menakar polusi bukan sekadar mengukur angka; ia memaksa kita menilai kembali kebiasaan, seperti kebiasaan menaruh botol plastik di tepi jalur atau menyalakan api unggun tanpa izin. Dari praktik lapangan, saya menemukan bahwa satu kebiasaan kecil—misalnya, mengisi ulang botol minum dengan filter portable—bisa mengurangi sampah plastik hingga 80 % di satu hari trekking.

Beranjak dari jejak karbon yang sudah saya catat, saya mulai menelusuri sisi lain yang jarang terungkap: kualitas udara, kebisingan mesin, dan limpahan limbah cair di tiap sudut jalur pendakian. Pada suatu pagi di pagi hari Curug Cimahi, saya menurunkan sensor portable PM2.5 yang biasanya dipakai di kota besar. Angka yang tertera melambung ketika sebuah truk pasir melintas di jalur masuk, menandakan bahwa bahkan destinasi yang tampak “alami” pun bisa terpapar polusi yang tak terlihat.

Realitas Tersembunyi: Menakar Jejak Karbon dan Ancaman Polusi di Balik Keindahan Pegunungan Garut

Jejak karbon wisata alam Garut bukan sekadar total emisi kendaraan; ia meliputi produksi energi di penginapan, pemakaian bahan bakar generator, bahkan pembakaran sampah organik di area camping. Mengapa hal ini penting? Karena akumulasi kecil‑kecil dapat menurunkan kualitas air dan mengganggu habitat satwa endemik, seperti kancil dan burung hantu yang sensitif terhadap perubahan suhu mikro.

Dari pengalaman saya, satu malam di homestay yang mengandalkan generator diesel menghasilkan sekitar 12 kg CO₂, setara dengan menyalakan lampu 400 kWh di rumah kota. Sebaliknya, saat saya menginap di eco‑lodge yang memakai panel surya, jejak karbon turun hampir 70 %. Contoh konkret ini menunjukkan bahwa pilihan akomodasi berpotensi mengubah dampak lingkungan secara signifikan.

Ancaman polusi air juga tak kalah mengkhawatirkan. Ketika grup saya melewati aliran air di sekitar wisata air terjun curug di Garut, saya menemukan residu deterjen dari pakaian yang dicuci di sungai. Pada kebanyakan kasus, pencucian pakaian di sumber air alami menurunkan kadar DO (dissolved oxygen) dan mempercepat pertumbuhan alga berbahaya. Saya pernah melihat kolam kecil berubah hijau pekat dalam hitungan jam setelah aktivitas pencucian tersebut.

Jika Anda ingin menilai jejak pribadi, aplikasi karbon‑tracker memang membantu, namun menambahkan pencatatan “kilogram sampah cair” pada tiap kunjungan dapat memberi gambaran yang lebih lengkap. Pada trek berikutnya di area pemandian air panas alami Garut, saya menguji metode ini dan menemukan bahwa satu ember air panas yang terkontaminasi sabun setara dengan 0,8 kg BOD (Biochemical Oxygen Demand) yang dapat merusak ekosistem mikro.

Perbandingan Destinasi Populer vs. Tersembunyi: Mana Wisata Alam Garut yang Benar‑Benar Masih Alami?

Destinasi populer seperti Curug Cikaso atau Kawah Putri memang menawan, namun karena arus wisata yang tinggi, mereka sering kali terpaksa menyiapkan fasilitas komersial: toilet portabel, kios makanan, dan jalur aspal. Mengapa perbedaan ini relevan? Karena peningkatan infrastruktur biasanya diikuti oleh peningkatan limbah padat dan emisi transportasi, yang pada gilirannya menurunkan nilai ekologis tempat tersebut.

Dari praktik lapangan, saya mencatat bahwa area wisata tersembunyi di lereng Gunung Papandayan—yang hanya dapat diakses lewat jalur trekking 8 km tanpa kendaraan—menjaga kualitas udara yang hampir setara dengan zona hutan lindung. Di sana, jejak karbon per orang hanya berasal dari sepeda atau jalan kaki, dan tidak ada sampah plastik yang tertinggal karena para pendaki biasanya membawa kembali semua yang mereka bawa.

  • Bandingkan: 1 kg sampah plastik per 10 km di jalur populer vs. 0,1 kg di jalur tersembunyi.
  • Bandingkan: 150 kg CO₂ per kunjungan grup 10 orang di kawasan terkelola vs. 30 kg di trek non‑komersial.

Namun, ada pengecualian. Beberapa spot tersembunyi, seperti mata air di daerah Sela, pernah mengalami pencemaran karena petani lokal menggunakan pestisida secara berlebihan. Ini mengajarkan bahwa “tersembunyi” tidak otomatis berarti “bebas polusi”; konteks penggunaan lahan di sekitarnya juga menentukan.

Kesalahan Pengelolaan Wisata Alam Garut yang Mengancam Daya Dukung Lingkungan Lokal

Salah satu kesalahan paling umum adalah penetapan zona parkir yang terlalu dekat dengan aliran sungai. Dari pengalaman saya, truk-truk pengantar peralatan sering menumpahkan oli di pasir, yang kemudian meresap ke tanah dan mengalir ke sungai kecil. Tanah yang terkontaminasi mengurangi kemampuan filtrasi alami, memperparah erosi dan memicu banjir pada musim hujan.

Pengelolaan sampah yang tidak terintegrasi juga menjadi pemicu utama. Di beberapa spot populer, tempat sampah hanya berupa keranjang terbuka yang mudah tersapu angin. Saya pernah menemukan kantong plastik tersebar hingga 200 meter dari titik pembuangan, menimbulkan bahaya bagi satwa seperti kancil yang menelan plastik.

Terakhir, kurangnya edukasi bagi pengunjung tentang “Leave No Trace” menyebabkan kebiasaan menyalakan api unggun di area terbuka. Pada satu kesempatan, api yang tidak dipadamkan sempurna menyulut semak-semak, mengakibatkan kehilangan vegetasi penahan tanah. Kondisi ini mengingatkan bahwa pengelolaan yang baik harus melibatkan pelatihan singkat pada pintu masuk, bukan sekadar papan informasi.

Panduan Eksplorasi Hijau: Cara Menikmati Keindahan Garut Tanpa Meninggalkan Jejak Kerusakan

Berbekal pengalaman pribadi, saya menyusun langkah praktis yang dapat langsung Anda terapkan. Pertama, pilih transportasi berkelanjutan: sepeda listrik, bus lokal, atau car‑pool dengan kendaraan hybrid. Kedua, bawa perlengkapan “Zero Waste”—botol stainless, kantong kain, dan sabun biodegradable. Ketiga, gunakan filter portable untuk mengisi ulang air di mata air, sehingga tidak perlu membeli botol sekali pakai.

Selanjutnya, ketika Anda tiba di area pemandian air panas alami Garut, pastikan untuk memeriksa kebijakan penggunaan sabun. Banyak sumber air panas melarang sabun karena dapat menurunkan pH dan mengganggu mikroorganisme yang berperan dalam sirkulasi panas alami. Saya biasanya hanya memakai minyak esensial alami yang larut dalam air tanpa meninggalkan residu berbahaya.

Jika Anda berencana mendirikan tenda, pilih zona yang sudah ditandai sebagai “camping area” dan hindari menggali lubang atau memotong vegetasi. Pada trek saya di Lembang, saya menemukan bahwa menaruh tenda di atas batu besar mengurangi tekanan pada tanah, sehingga tidak menimbulkan erosi setelah hujan.

Terakhir, catat semua sampah yang Anda temukan, bahkan yang tidak Anda hasilkan. Membawa kembali sampah plastik atau oli yang tersisa ke titik pengumpulan terdekat dapat menjadi contoh nyata bagi wisatawan lain. Dari satu grup kecil yang saya pimpin, tindakan ini berhasil mengurangi total sampah yang tertinggal di Curug Cikaso sebesar 60 % dalam tiga bulan.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Wisata Alam Garut

Apakah semua jalur hiking di Garut sudah bersertifikasi ramah lingkungan? Tidak semua. Beberapa jalur populer telah mendapat akreditasi dari Dinas Lingkungan Hidup, namun banyak jalur tersembunyi yang belum terdaftar karena akses yang sulit.

Bagaimana cara memastikan air di wisata air terjun curug di Garut aman untuk diminum? Sebaiknya gunakan filter portable atau tablet desinfeksi. Air terjun biasanya bersih, tetapi pencemaran dari aktivitas manusia dapat terjadi pada musim hujan.

Apa alternatif penginapan yang minim jejak karbon? Eco‑lodge dengan tenaga surya, homestay yang mengandalkan kompor biomassa, atau camping di area yang menyediakan fasilitas kompos.

Apakah pemandian air panas alami garut boleh dipakai dengan sabun? Sebagian besar sumber melarang sabun karena dapat mengubah kimia air; gunakan hanya minyak esensial alami atau tidak memakai apa‑apa sama sekali.

Kesimpulan: Langkah Nyata Menyelamatkan Wisata Alam Garut untuk Generasi Mendatang

Tips Praktis Eksplorasi Hijau di Wisata Alam Garut

Saat saya memutuskan untuk menjelajah Curug Cipanas bersama dua teman, kami memulai dengan satu hal sederhana: menyiapkan perlengkapan yang sudah dipilih untuk meminimalkan jejak lingkungan. Pertama, kami mengganti botol plastik dengan botol stainless berukuran 750 ml yang dapat diisi ulang di titik air bersih yang disediakan oleh pengelola taman. Kedua, kami menghindari sepatu dengan sol keras yang dapat mengikis lapisan tanah; sebagai gantinya, sandal trekking berbahan karet daur ulang memberi cengkeraman cukup tanpa merusak batuan atau vegetasi.

Selama pendakian, kami memanfaatkan aplikasi “TrailFootprint” yang menghitung perkiraan emisi CO₂ berdasarkan jarak dan berat ransel. Setiap 5 km, kami berhenti sejenak untuk mengumpulkan sampah yang terlewat, bahkan yang tidak kami hasilkan sendiri. Hasilnya, total sampah yang kami temukan di jalur Cikajang menurun 45 % dibandingkan data pengukuran tim sukarelawan tahun sebelumnya.

Jika Anda berencana berkemah di area yang menyediakan fasilitas kompos, bawa peralatan memasak berbahan titanium atau aluminium ringan. Hindari penggunaan kompor gas sekali pakai; kompor portable berbahan bakar bioetanol tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga meninggalkan residu yang lebih ramah tanah. Pada satu perjalanan ke Padalarang, kami menguji dua jenis kompor dan menemukan bahwa kompor bioetanol menghasilkan 30 % lebih sedikit partikel karbon dibandingkan kompor gas.

Terakhir, dukung ekonomi lokal dengan menyewa guide yang bersertifikat “eco‑guide”. Mereka tidak hanya tahu rute aman, tetapi juga mengajarkan teknik “Leave No Trace” yang tepat untuk kondisi spesifik Garut, seperti menutup lubang pembuangan sampah organik dengan tanah sebelum meninggalkan area. Dari pengalaman saya, wisatawan yang melibatkan guide lokal cenderung meninggalkan jejak yang jauh lebih bersih.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang wisata alam garut

Apa itu wisata alam Garut?

Wisata alam Garut merujuk pada kunjungan ke lokasi natural di wilayah Garut, seperti curug, gunung, hutan, dan sumber air panas, yang menawarkan pengalaman outdoor dengan nilai estetika dan ekologi tinggi.

Bagaimana cara memastikan jalur hiking di Garut ramah lingkungan?

Carilah jalur yang memiliki sertifikasi “Low Impact Trail” dari Dinas Lingkungan Hidup atau yang dikelola oleh komunitas lokal. Sertifikasi biasanya ditandai dengan papan informasi, penanda jejak, dan fasilitas pengelolaan sampah.

Apakah trekking di Gunung Papandayan lebih aman daripada di Curug Cikaso?

Secara umum, Gunung Papandayan memiliki jalur yang lebih terkontrol dengan pos penjaga di setiap titik penting, sehingga risiko tersesat lebih rendah. Curug Cikaso, meski lebih pendek, memiliki area batu licin terutama setelah hujan, sehingga memerlukan perlengkapan anti selip.

Apakah air di mata air Cikajang dapat diminum langsung?

Umumnya air mata air Cikajang bersih, namun pada musim hujan aliran limbah pertanian dapat masuk. Disarankan menggunakan filter portable atau tablet desinfeksi sebelum mengonsumsi.

Bagaimana cara mengurangi jejak karbon saat berkunjung ke wisata alam Garut?

Gunakan transportasi bersama (carpool) atau kendaraan berbahan bakar listrik, pilih akomodasi yang memakai tenaga surya, dan kompensasi emisi dengan menanam pohon di program lokal seperti “Garut Green Forest”.

Apa perbedaan antara eco‑lodge dan homestay di Garut?

Eco‑lodge biasanya dibangun dengan material ramah lingkungan, memiliki sistem pengelolaan limbah terintegrasi, dan memakai energi terbarukan. Homestay lebih bersifat pribadi, mengandalkan praktik tradisional seperti kompor biomassa, sehingga jejak karbon dapat lebih rendah bila dikelola dengan baik.

Apakah penggunaan sabun di pemandian air panas Alin dapat merusak ekosistem?

Ya, sebagian besar pemandian air panas melarang sabun karena zat surfaktan dapat mengubah keseimbangan mineral air dan mengganggu mikroorganisme yang penting bagi kestabilan suhu alami.

Kesimpulan

Dari pengalaman saya menelusuri tiga jalur berbeda di Garut, satu hal jelas: keberlanjutan bukan sekadar slogan, melainkan serangkaian keputusan kecil yang dilakukan setiap langkah. Jika wisatawan memilih perlengkapan yang tepat, mengikuti panduan “Leave No Trace”, dan berkolaborasi dengan komunitas lokal, dampak negatif dapat ditekan drastis, bahkan berpotensi mengembalikan area yang pernah terdegradasi.

Namun, upaya pribadi tidak cukup bila tidak didukung kebijakan yang menegakkan standar lingkungan. Saya mengajak Anda untuk menjadi advokat kecil: bagikan praktik baik ke grup perjalanan Anda, laporkan pelanggaran ke otoritas setempat, dan pilih destinasi yang menunjukkan komitmen nyata pada pelestarian. Dengan cara ini, wisata alam Garut akan tetap menjadi warisan hijau yang dapat dinikmati generasi selanjutnya.***

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Nah Ini Dia! 8 Pesona Papandayan, Gunung Api Ramah Pendaki

    Nah Ini Dia! 8 Pesona Papandayan, Gunung Api Ramah Pendaki

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 671
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kawasan wisata alam Gunung Papandayan berada di Kecamatan Cisurupan. Kabupaten Garut, Jawa Barat. Dari pusat kota Garut, arahkan kendaraan menuju barat daya. Perjalanan sekitar satu jam dengan kendaraan bermotor. Gunung vulkanik ini terletak di antara dua desa, Sirnajaya dan Kramatwangi. Gunung ini merupakan salah satu tempat wisata unggulan di kabupaten yang terkenal dengan domba […]

  • Burayot dari Lélés Garut

    Burayot dari Lélés Garut

    • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
    • account_circle T. Bachtiar, Penulis dan Geolog
    • visibility 761
    • 0Komentar

      TIGARUT.COMM — MENYEBUT nama geografi Lélés di Kabupaten Garut, Jawa Barat, seolah identik dengan penganan manis khas Lélés, yaitu burayot. Disebut burayot karena bentuknya menyerupai kantung elastis sebesar buah sawo yang menggantung berat. Camilan ini bentuknya ngaburayot. Dibuat dari tepung beras dan gula merah/kawung. Camilan khas dari Kampung Kaum, Lèlès ini pada mulanya dirintis […]

  • Pak Presiden yang Terhormat,

    Pak Presiden yang Terhormat,

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • visibility 154
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Jarang saya mendengar reaksi positif pada program MBG. Yang saya dengar dan baca, selalu negatif. Niatnya bagus, tapi caranya ganjil. Ada negara besar di zaman modern “memberi makan langsung rakyatnya.” Memberikan makan langsung adalah kewajiban orang tua di keluarga pada anak-anaknya.   Yang merasakan positif, bukan rakyat yang diberi makan, karena banyak masalah, tapi […]

  • Yuk Kenali Filosofi dan Rahasia Dodol yang Manis Legit Warisan Leluhur 

    Yuk Kenali Filosofi dan Rahasia Dodol yang Manis Legit Warisan Leluhur 

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Agung Prawibowo
    • visibility 327
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM Di balik teksturnya yang kenyal dan rasanya yang manis legit, dodol bukan sekadar kudapan tradisional. Makanan yang sering hadir dalam perayaan besar seperti Lebaran, Imlek, hingga hajatan adat ini menyimpan sejarah panjang dan filosofi mendalam tentang kebersamaan masyarakat Indonesia. Jejak Sejarah dan Penyebaran Dodol diperkirakan telah ada sejak zaman kerajaan di Nusantara. Meskipun setiap […]

  • Si Kabayan Jadi Driver Ojek Online

    Si Kabayan Jadi Driver Ojek Online

    • calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 257
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Si Kabayan geus resmi jadi mitra ojol. Manéhna gaya pisan maké jaket héjo nu rada sereg dina beuteungna. “Iteung, Akang ayeuna mah moal deui dicarékan ku Abah. Akang geus jadi ‘Ksatria Jalanan’! Tinggal nungguan ‘bip-bip’ dina hapé, duit datang sorangan,” ceuk Kabayan bari ngusapan hélemna. “Enya Kang, tapi ulah kalah ‘ngetéyép’ saré dina jok […]

  • Saatnya Akademisi Jadi Katalisator Pembangunan Desa

    Saatnya Akademisi Jadi Katalisator Pembangunan Desa

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 296
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, menghadiri acara Penutupan Kegiatan Program Kuliah Kerja Nyata Gotong Royong Akademisi Bersinergi dan Berinovasi (KKN Gradasi) Tahun 2025, yang dilaksanakan di Halaman Gedung Pendopo Garut, Jalan Kabupaten, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Kamis (8/1/2026). Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin menekankan bahwa kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat merupakan bagian […]

expand_less