Mitos Gunung Guntur dalam Ingatan Masyarakat Garut Zaman Dahulu
- account_circle Redaksi Tigarut
- calendar_month Senin, 14 Sep 2026
- visibility 33
- print Cetak

TIGARUT.COM — Gunung Guntur bukan hanya dikenal karena bentang alamnya yang khas dan sejarah letusannya. Bagi masyarakat Garut, terutama mereka yang tinggal di sekitar kawasan Tarogong, gunung ini juga menyimpan berbagai cerita turun-temurun tentang karuhun, guriang, harimau gaib, pantangan, dan dunia yang tidak kasatmata.
Cerita-cerita tersebut tidak semuanya berasal dari zaman yang sama. Sebagian merupakan tradisi Sunda yang lebih tua, sementara sebagian lainnya kemungkinan berkembang pada masa yang lebih kemudian.
Maung Bungkeuleukan, harimau yang dipercaya sebagai penampakan gaib
Salah satu mitos yang paling dikenal adalah Maung Bungkeuleukan.
Dalam bahasa Sunda, maung berarti harimau. Sementara bungkeuleuk berkaitan dengan sesuatu yang tiba-tiba memperlihatkan wujudnya. Dalam kepercayaan masyarakat, Maung Bungkeuleukan digambarkan sebagai harimau gaib yang dapat menampakkan diri secara tiba-tiba.
Cerita ini diwariskan secara lisan oleh orang-orang tua kepada anak-anak mereka di sekitar kawasan Gunung Guntur.
Salah satu pantangan yang berkaitan dengan cerita tersebut adalah larangan meniup suling ketika berada di Gunung Guntur. Menurut kepercayaan setempat, suara suling dapat mengundang Maung Bungkeuleukan.
Menariknya, tidak ada catatan sejarah yang membuktikan keberadaan Maung Bungkeuleukan. Sejarawan Garut Warjita juga menyebut bahwa cerita tersebut tidak tercatat dalam sejarah Gunung Guntur, tetapi memang beredar sebagai cerita turun-temurun di masyarakat.
Larangan meniup suling dan bayang-bayang DI/TII
Di balik pantangan tersebut terdapat kemungkinan lapisan sejarah yang menarik.
Menurut penuturan Ening Maidah, warga tua dari kawasan Pananjung, larangan membuat suara di sekitar Gunung Guntur berkaitan dengan situasi ketika DI/TII masih bergerak di wilayah pegunungan Jawa Barat.
Pada masa itu masyarakat, terutama anak-anak, diingatkan agar tidak membuat keributan. Kawasan hutan dan pegunungan digunakan sebagai tempat persembunyian dan pergerakan kelompok bersenjata.
Dari sinilah muncul kemungkinan bahwa sebuah pesan praktis:
“Ulah ribut di gunung.”
kemudian diwariskan dalam bentuk cerita:
“Ulah niup suling, engké datang Maung Bungkeuleukan.”
Dengan demikian, Maung Bungkeuleukan dapat dibaca bukan hanya sebagai makhluk gaib, tetapi juga sebagai simbol ketakutan masyarakat terhadap sesuatu yang tiba-tiba muncul dari dalam hutan.
Namun hubungan langsung antara mitos tersebut dan DI/TII tetap merupakan hipotesis berdasarkan ingatan lisan, bukan fakta sejarah yang telah terbukti secara dokumenter.
Guriang, penunggu gunung dalam kepercayaan Sunda
Jauh di luar cerita Maung Bungkeuleukan, terdapat konsep yang lebih luas dalam kebudayaan Sunda, yaitu guriang.
Guriang dikenal dalam tradisi Sunda sebagai sosok gaib yang berhubungan dengan gunung dan tempat-tempat tertentu. Dalam konteks Gunung Guntur, kepercayaan mengenai guriang bahkan masuk ke dalam karya seni Sunda.
Mang Koko menggambarkan Gunung Guntur sebagai tempat yang berkaitan dengan para guriang dan bunga melati dalam tembangnya. Hal tersebut memperlihatkan bahwa Gunung Guntur telah hadir dalam imajinasi budaya Sunda bukan sekadar sebagai gunung, melainkan sebagai tempat yang memiliki kehidupan spiritual tersendiri.
Karuhun dan tempat-tempat yang dianggap keramat
Cerita Gunung Guntur juga tidak dapat dilepaskan dari konsep karuhun atau leluhur.
Dalam tradisi masyarakat sekitar gunung terdapat cerita mengenai tokoh-tokoh leluhur dan tempat yang dianggap memiliki hubungan dengan mereka. Karena itu, gunung dalam pandangan tradisional tidak selalu diperlakukan seperti ruang kosong yang bebas dimasuki dan diperlakukan sesuka hati.
Ada aturan tidak tertulis:
jangan sompral, jangan merusak, jangan menantang alam, dan jangan merasa paling tahu.
Pantangan seperti ini sesungguhnya mengandung pesan sosial sekaligus ekologis: manusia harus menghormati tempat yang dianggap memiliki kekuatan dan menjaga perilakunya ketika memasuki alam.
Timbanganten dan jejak legenda lama Garut
Lapisan cerita yang lebih tua dapat ditemukan dalam Wawacan Babad Timbanganten.
Naskah tersebut menceritakan negeri Timbanganten yang berada di bawah kekuasaan Pajajaran. Tokoh penting di dalamnya antara lain Ratu Pasehan, Maraja Inten Dewata, Prabu Siliwangi, dan Sunan Burung Baok. Naskah dengan kode Plt. 37 tersimpan dalam koleksi Museum Nasional.
Balai Bahasa Jawa Barat menyebut bahwa kisah Babad Timbanganten merupakan legenda yang hidup di daerah Garut. Cerita tersebut bahkan pernah diadaptasi oleh Wahyu Wibisana menjadi gending karesmen berjudul Ratu Inten Dewata, yang dipentaskan secara kolosal di Garut pada 1964.
Namun perlu dibedakan antara legenda Timbanganten dengan mitos Gunung Guntur. Tidak semua cerita mengenai Timbanganten dapat secara otomatis dianggap sebagai sejarah Gunung Guntur.
Antara legenda, kepercayaan dan sejarah
Jika seluruh cerita tersebut disusun, tampak bahwa mitos Gunung Guntur sebenarnya merupakan lapisan ingatan masyarakat yang terbentuk dalam waktu panjang.
Ada kepercayaan mengenai guriang yang berakar dalam kebudayaan Sunda.
Ada kisah tentang karuhun dan tempat keramat.
Ada legenda Timbanganten dan Maraja Inten Dewata yang tercatat dalam tradisi naskah.
Kemudian ada cerita Maung Bungkeuleukan dan larangan meniup suling yang diwariskan secara lisan.
Dan pada lapisan yang lebih baru, terdapat ingatan masyarakat mengenai situasi DI/TII di pegunungan Garut dan Jawa Barat.
Karena itu, mitos Gunung Guntur sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai fakta sejarah. Tetapi juga tidak berarti cerita tersebut tidak memiliki nilai sejarah.
Mitos adalah bagian dari ingatan masyarakat.
Di dalamnya terkadang tersimpan jejak ketakutan, pengalaman, adat, kepercayaan, kondisi politik, dan cara masyarakat masa lalu menjelaskan sesuatu yang belum mereka pahami.
Mungkin karena itulah Gunung Guntur sampai sekarang bukan hanya berdiri sebagai gunung di atas tanah Garut.
Ia juga hidup sebagai gunung dalam ingatan orang Garut—tempat para karuhun, guriang, harimau gaib, legenda kerajaan, dan berbagai cerita turun-temurun bertemu.
—
Sumber
1. Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat — Babad Timbanganten, berdasarkan naskah Plt. 37 koleksi Museum Nasional.
2. Repositori Kemendikdasmen — Wawacan Babad Timbanganten, naskah Plt. 37.
3. Repositori Kemendikdasmen — Ensiklopedi Sastra Sunda, bagian Timbanganten/Wawacan Babad.
4. detikJabar — “Maung Bungkeuleukan, Mitos Harimau Gaib di Gunung Guntur Garut”, 3 Agustus 2025.
5. detikNews — “Misteri Maung Bungkeuleukan hingga Nenek Penjual Kol di Gunung Guntur Garut”, 2 Januari 2021.
6. detikJabar — “Mengenal Guriang, Sosok di Balik Mitos Hantu Gunung Guntur Garut”, 1 April 2026.
Catatan: bagian mengenai Maung Bungkeuleukan, guriang, dan hubungan pantangan meniup suling dengan DI/TII merupakan tradisi lisan dan interpretasi, sehingga sebaiknya tidak diperlakukan sebagai fakta sejarah yang sudah terverifikasi.
- Penulis: Redaksi Tigarut
- Sumber: GaroetTempoDoeloe

Saat ini belum ada komentar