Hasan Mustofa: Penghulu, Pujangga, dan Jiwa Sunda yang Berpikir
- account_circle Redaksi Tigarut
- calendar_month Senin, 29 Des 2025
- visibility 755
- print Cetak

Hasan Mustofa hidup di masa peralihan: kolonialisme, modernitas, dan kebangkitan intelektual pribumi. Ia bahkan tercatat memiliki korespondensi dan kedekatan intelektual dengan Snouck Hurgronje, orientalis Belanda. Hubungan ini sering diperdebatkan, namun menunjukkan satu hal penting: Hasan Mustofa adalah pemikir yang berani berdialog, tanpa kehilangan identitas.
Ia tidak anti dunia luar, tapi juga tidak silau. Ia berdiri tegak sebagai orang Sunda yang berislam, membaca dunia dengan kacamata sendiri.
Nama Hasan Mustofa mungkin tak sering disebut dalam buku pelajaran, namun jejaknya hidup dalam denyut sastra Sunda dan pemikiran Islam Nusantara. Ia mewariskan satu pesan penting:
bahwa agama bisa bersahabat dengan budaya, dan pemikiran besar bisa lahir dari bahasa daerah.
Di Garut, tanah kelahirannya, angin masih membawa gema kata-katanya. Kata-kata yang tidak ingin menang, tapi ingin mengerti. Tidak ingin menggurui, tapi menemani.
Hasan Mustofa telah tiada, namun pikirannya tetap berjalan—pelan, dalam, dan setia pada akarnya. Seperti orang Sunda yang bijak: tidak banyak bicara, tapi sekali bicara, mengendap lama di rasa.
- Penulis: Redaksi Tigarut
- Editor: SAB

Saat ini belum ada komentar