Breaking News

Dodol Garut Aja Picnic, Yuk Liburan Ke Sini

  • account_circle Redaksi Tigarut
  • calendar_month Senin, 29 Des 2025
  • visibility 936
  • print Cetak

Di Saung Sampireun, pelajaran itu terasa makin jelas. Tempat ini tidak memaksa jadi mewah dengan cara kota besar. Ia elegan dengan caranya sendiri. Kayu, air, saung, dan kesunyian yang ramah. Sama seperti dodol yang tidak perlu topping aneh-aneh untuk merasa cukup.

Dalam keheningan itu, saya sering refleksi: mungkin kita terlalu sering ingin jadi “bukan diri sendiri”. Padahal dodol Garut saja, dengan segala kesederhanaannya, bisa bertahan puluhan tahun tanpa rebranding berlebihan.

Pengalaman jadi urang Garut membuat saya percaya bahwa dodol adalah semacam kurikulum tak tertulis. Ia mengajarkan bahwa proses itu penting. Bahwa hasil tidak selalu instan. Bahwa kebersamaan—ngaduk dodol rame-rame—lebih berharga daripada hasil akhirnya. Dan ini paralel sekali dengan suasana Sampireun, di mana orang datang bukan untuk dikejar aktivitas, tapi untuk hadir sepenuhnya. Hadir dengan pikiran, hadir dengan rasa.

Ada ironi lucu juga. Banyak orang kota datang ke Garut, ke Sampireun, untuk “healing”. Mereka mencari ketenangan yang sejak awal dimiliki oleh urang Garut, tapi sering kami anggap biasa. Kami justru kadang ingin ke kota, cari hiruk-pikuk. Padahal, dodol dan saung sudah cukup jadi pengingat bahwa hidup tidak harus ribet. Bahwa pelan-pelan itu bukan kalah, tapi sadar.

Dodol Garut, dalam konteks ini, bukan cuma oleh-oleh. Ia adalah oleh-oleh nilai. Ia mengajarkan kita untuk tidak buru-buru menilai sesuatu dari tampilan. Untuk menikmati proses. Untuk menerima bahwa lengket pun bisa manis, asal dijalani dengan sabar. Saung Sampireun menyediakan panggung yang sempurna untuk pesan itu—tempat di mana kita bisa duduk, diam, dan mendengar diri sendiri.

Pada akhirnya, membahas dodol Garut tanpa menyebut Sampireun rasanya timpang. Karena keduanya berbicara tentang hal yang sama: ketenangan, kesederhanaan, dan kejujuran. Dodol adalah rasa Garut. Sampireun adalah suasana Garut. Keduanya saling melengkapi, seperti urang Garut yang sederhana tapi dalem kalau diajak ngobrol.

Jadi, kalau suatu hari kamu duduk di saung, kaki hampir nyentuh air, sore turun pelan-pelan, lalu ada dodol di meja—jangan buru-buru makan. Lihat dulu. Hirup suasananya. Karena bisa jadi, yang sedang kamu kunyah bukan cuma dodol, tapi sepotong cara hidup urang Garut: pelan, jujur, dan penuh rasa.

  • Penulis: Redaksi Tigarut
  • Editor: SAB

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Nah Ini Dia! 5 Fakta Unik Kampung Amsterdam di Garut

    Nah Ini Dia! 5 Fakta Unik Kampung Amsterdam di Garut

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 261
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Deretan fakta unik Kampung Amsterdam di Garut ini tidak boleh kamu lewatkan. Berada di kaki Gunung Cikuray, Kampung Amsterdam ini menyimpan bukti sejarah kehidupan bangsa Belanda di Kabupaten Garut. Kini, Kampung Amsterdam ini masuk dalam jajaran obyek wisata favorit yang ada di Kabupaten Garut. Simak fakta unik Kampung Amsterdam di Garut berikut ini. Fakta […]

  • 5 Alasan Pergi ke Pantai Taman Manalusu Garut, Hidden Gem di Selatan Garut yang Wajib Dikunjungi

    5 Alasan Pergi ke Pantai Taman Manalusu Garut, Hidden Gem di Selatan Garut yang Wajib Dikunjungi

    • calendar_month Minggu, 2 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 127
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM – Garut Selatan menyimpan banyak destinasi wisata alam yang memikat. Selain Pantai Santolo, Sayang Heulang, dan Rancabuaya, ada satu tempat yang masih tergolong hidden gem, yakni Pantai Taman Manalusu di Desa Cigadog, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut. Pantai ini menawarkan hamparan pasir putih kecokelatan, gugusan karang yang eksotis, hingga suasana yang masih alami dan belum […]

  • Jihad

    Jihad

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • visibility 240
    • 0Komentar

    Saya menemukan kutipan ini di sebuah postingan. Gak tahu, bener tidaknya itu ucapan Gus Baha. Saya ingin membahas kutipan itu.   Semua tahu dan sudah banyak dijelaskan, makna asli “jihad” adalah berjuang bersungguh-sungguh, mencurahkan segala potensi diri untuk mengatasi masalah dan kesulitan.   Kesulitan itu banyak bentuknya dari masalah diri sehari-hari hingga menaklukkan ketakutan memperjuangkan […]

  • Om Zein, Jangan Buka Lagi Aib yang Sudah Allah Tutupi

    Om Zein, Jangan Buka Lagi Aib yang Sudah Allah Tutupi

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Adrian | Perdana.Asia
    • visibility 100
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Tidak banyak pejabat yang berani meminta maaf. Karena itu, sikap Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein yang menyampaikan permohonan maaf patut dihargai.   Beliau juga telah menjelaskan bahwa lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat merupakan refleksi atas masa lalunya, bukan dimaksudkan untuk merendahkan perempuan. Penjelasan itu penting agar publik memahami konteks lahirnya lagu […]

  • Ngangon, Kurikulum Langit dari Universitas Padang Rumput

    Ngangon, Kurikulum Langit dari Universitas Padang Rumput

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • account_circle Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung
    • visibility 213
    • 0Komentar

    Pada halaqah kali ini, sepenggal kilas balik mengingatkan pada tradisi “ngangon” (menggembala) yang biasa dijalankan anak-anak pedesaan mala lalu. Mungkin kebiasaan ini masih dijalankan oleh anak-anak masa kini. Kebiasaan ini yang nampak “rendahan” dan “sederhana”, namun makna di baliknya memiliki enigma berharga yang kokoh dan solid. Kadang kita lupa, “ngangon” itu merupakan kurikulum pendidikan paling […]

  • Muhammad MBG Subianto

    Muhammad MBG Subianto

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Saking Ngefannya, Ibu Ini Kasih Nama Anaknya “Muhammad MBG Subianto” TIGARUT.COM — Untuk menghibur fans Prancis yang baru saja disingkirkan Spanyol 2-0, ada baiknya baca narasi ini. Kalian boleh ngefan sama Mbappe. Tapi, ibu ini malah ngefan sama MBG dan Prabowo Subianto. Begitu anaknya lahir dinamai dengan Muhammad MBG Subianto. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak! […]

expand_less