Dodol Garut Aja Picnic, Yuk Liburan Ke Sini
- account_circle Redaksi Tigarut
- calendar_month Senin, 29 Des 2025
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dan ketika dodol hadir di meja—entah sebagai kudapan atau oleh-oleh—ia tidak lagi berdiri sebagai makanan, tapi sebagai simbol. Simbol bahwa hidup memang tidak perlu selalu cepat.
Dodol di Saung Sampireun rasanya “lebih dodol”. Bukan karena resepnya berubah, tapi karena kondisi batin kita yang berubah. Kita makan dengan duduk tenang, tanpa notifikasi, tanpa target harian. Kita mengunyah sambil melihat pantulan air, sambil mendengar suara alam yang teu maksa.
Di situ saya sering berpikir: jangan-jangan dodol selama ini bukan masalah rasa, tapi masalah konteks. Di kota besar, dodol dimakan sambil macet dan stres. Di Sampireun, dodol dimakan sambil damai. Jelas beda hasilnya.
Sebagai urang Garut, saya melihat dodol itu seperti karakter orang-orang kampung saya. Tidak suka pamer. Bentuknya sederhana. Warnanya tidak Instagramable. Tapi begitu kenal, susah move on. Dodol tidak menawarkan sensasi kejut. Ia tidak meledak-ledak di lidah. Ia konsisten. Dan justru di situlah kejujurannya. Sama seperti Garut: bukan kota yang teriak “datanglah!”, tapi sekali datang, orang sering bilang, “kok betah, ya?”
Humornya, dodol sering diremehkan. Dibilang makanan orang tua. Dibilang lengket di gigi. Dibilang kuno. Tapi mari jujur: hidup modern juga lengket—lengket sama deadline, lengket sama cicilan, lengket sama ekspektasi.
Bedanya, dodol lengketnya jujur. Ia tidak menyamar jadi apa-apa. Ia dodol, ya dodol. Tidak berpura-pura jadi brownies, tidak ngaku-ngaku dessert Eropa. Ini pelajaran intelektual juga, sebenarnya: autentisitas.
- Penulis: Redaksi Tigarut
- Editor: SAB
