Breaking News

Datang, Curhat, Joget, Buka Baju, Pulang

  • account_circle Nury Sybli, Alumni UIN Jakarta
  • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
  • visibility 163
  • print Cetak

TIGARUT.COM — “Don’t Judging” — Catatan Pagi dari Obrolan Anak SD

 

Pagi ini di sela-sela ribetnya siap berangkat sekolah, Ni Luh tiba-tiba nanya, “Mom, waktu aku bayi gendut ya?”

“Iya… tapi cantik dan menggemaskan,” jawabku cepat.

 

Dia diam sebentar, lalu lanjut, “Nanti pas aku Junior High School, aku nggak tahu wajahku jadi gimana. Gemuk atau nggak…”

 

Aku tersenyum, “Yang penting kamu sehat and don’t judge people.”

 

Dia langsung nyaut, kritis khas anak kecil :

“What about the President, Mom? Are we allowed to judge him if he’s wrong because he doesn’t build good schools for children in Aceh and Sumatra, also he does something bad like MBG?. You know MBG make a children poisoning.”

 

Macam obrolan anak kuliahan. Aku terdiam sebentar mencari kata yang pas untuk jawaban anak anak. “Iya. Boleh.” Sebagai masyarakat, kita justru harus berani bersuara. Membantah ketidakadilan. Mengkritik pembiaran. Apalagi kalau itu menyangkut pendidikan dan kemanusiaan.

 

Anakku menyimak dengan teliti. Ternyata anak kecil saja tahu bedanya antara menghakimi orang dan mengkritik kekuasaan. Nah, kita yang dewasa, masih bisa bedain?

 

Jadi kalau ada ASN atau pegawai negeri kritis pada kebijakan pemerintah itu justru karena dia cinta pada negaranya, dan bukan budak pemerintah.

 

Sebab, yang kita kritisi itu bukan hal-hal pribadi. Bukan urusan sensasi atau seksual yang menyimpang. Tapi penyalahgunaan wewenang.

 

Karena Presiden bukan sekadar individu, hidup di Istana untuk dirinya dan kekasihnya. Dia pemegang mandat rakyat. Setiap keputusan berdampak pada jutaan hidup. MBG misalnya. Dari keputusan arogan berkedok gizi berujung pada bangsal bangsal Rumah Sakit. Pamer pesta ulang tahun ajudan special bernama Teddy di tengah kunjungan kenegaraan. Sementara pada saat yang sama, keberpihakan untuk guru dan anak sekolah nyaris tak terlihat.

 

Saat kampanye joget joget dan gebrak meja tapi saat anak-anak menyebrang sungai dg tali besi dia tak terlihat.

 

Ini baru satu catatan kecil. Di luar sana, mata rakyat menyimpan lebih banyak lagi bahkan lebih mengerti dari para Menteri-menterinya.

 

Thanks to my sunshine.

  • Penulis: Nury Sybli, Alumni UIN Jakarta

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • 5 Rekomendasi Rumah Makan ala Pedesaan di Garut, Nikmatnya Kuliner Sunda dalam Suasana Lembur

    5 Rekomendasi Rumah Makan ala Pedesaan di Garut, Nikmatnya Kuliner Sunda dalam Suasana Lembur

    • calendar_month Jumat, 28 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 53
    • 0Komentar

    TIGARUT – Garut bukan hanya dikenal karena dodol, domba, dan panorama pegunungannya. Kabupaten di selatan Jawa Barat ini juga memiliki kekayaan kuliner Sunda yang semakin menarik ketika dinikmati dalam suasana khas pedesaan. Bagi pencinta kuliner yang ingin merasakan sensasi dahar di saung, lesehan, ditemani kolam ikan, sawah, atau udara sejuk, sejumlah rumah makan di Garut […]

  • 5 Makam Keramat di Garut, Jejak Wali dan Sejarah Islam

    5 Makam Keramat di Garut, Jejak Wali dan Sejarah Islam

    • calendar_month Jumat, 21 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 52
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kabupaten Garut tidak hanya memiliki pesona alam, kuliner, dan budaya yang beragam. Di balik itu, Garut juga menyimpan jejak sejarah Islam yang kuat melalui sejumlah makam tokoh yang hingga kini menjadi tujuan ziarah masyarakat. Makam-makam tersebut bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir. Di dalamnya tersimpan cerita tentang tokoh agama, penyebaran Islam, tradisi masyarakat, serta perjalanan […]

  • 5 Cara Halal Bihalal di Garut yang Aman dan Nyaman

    5 Cara Halal Bihalal di Garut yang Aman dan Nyaman

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 184
    • 0Komentar

    Menjaga Hati, Menata Langkah TIGARUT.COM — Pagi di Garut selepas Idulfitri selalu datang dengan rasa yang berbeda. Kabut tipis turun dari lereng gunung, udara membawa harum tanah basah, sementara jalan-jalan kampung mulai hidup oleh langkah orang-orang yang datang membawa senyum, maaf, dan kerinduan. Halal bihalal di tanah Priangan bukan sekadar tradisi saling berjabat tangan, melainkan perjalanan […]

  • Tinjau Kebakaran Kios, Bupati Garut Soroti Pentingnya Sosialisasi Nomor Darurat

    Tinjau Kebakaran Kios, Bupati Garut Soroti Pentingnya Sosialisasi Nomor Darurat

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 214
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM – Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, tinjau lokasi kebakaran yang menghanguskan sejumlah kios di Jalan Pramuka, Kecamatan Garut Kota, pada Rabu pagi (14/1/2026). ‎Bupati Garut menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap fasilitas yang berisiko memicu kebakaran serta akses informasi darurat bagi masyarakat. ‎Bupati Garut mengapresiasi kinerja petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) yang dinilai sangat responsif dalam menangani […]

  • 5 Alasan Voice of Baceprot Kritik Jalan Banjarwangi-Singajaya Garut

    5 Alasan Voice of Baceprot Kritik Jalan Banjarwangi-Singajaya Garut

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 56
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM – Voice of Baceprot (VoB) kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap kampung halaman. Band metal asal Singajaya, Garut, tersebut pernah menyoroti kondisi infrastruktur jalan Banjarwangi-Singajaya yang rusak dan dinilai membahayakan pengguna jalan. Kritik VoB menarik perhatian karena disampaikan oleh putri daerah yang telah membawa nama Garut hingga panggung internasional. Berikut lima alasan mengapa persoalan jalan Banjarwangi-Singajaya […]

  • Agama Langit dan Agama Bumi

    Agama Langit dan Agama Bumi

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 238
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Banyak ustadz menjelaskan agama oleh keharusan agama itu sendiri, bukan oleh batas kemampuan manusia mengamalkannya. Lain kata, mengajarkan agama di langit, bukan agama di bumi. Dalam bahasa Balqis Humaira, “masang ukuran kesalehannya ketinggian.” Akibatnya dua: Pertama, ajaran agama jadi tidak membumi. Agama jadi hanya teori, bukan praktek atau amal nyata. Agama disebut-sebut kemuliaan ajarannya […]

expand_less