Breaking News

Efek MBG Makin Dahsyat, Siswa SMK Pun Berani Kritik Presiden

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Minggu, 5 Apr 2026
  • visibility 193
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Di sebuah semesta alternatif bernama Republik Kenyang Raya, ada satu hukum alam yang baru saja ditemukan para ilmuwan dari cabang Fisika Teoritis cabang warteg. Semakin sering anak sekolah makan gratis, semakin tinggi level roasting-nya. Hukum ini mulai menyaingi Hukum Newton. Bedanya, kalau Newton jatuhnya apel, kalau ini jatuhnya wibawa pejabat.

 

Fenomena ini disebut Efek MBG. Bukan singkatan dari “Makan Bergizi Gratis”, tapi “Makin Berani Gitu”. Awalnya terdeteksi di Kalimantan Barat (daerah gue ni wak). Ketika sejumlah siswa SD dengan kekuatan nasi, lauk, dan keberanian level anime tiba-tiba mengkritik gubernurnya. Para peneliti langsung panik. Ini bukan sekadar makan siang, ini evolusi. Dari Homo Sapiens menjadi Homo Kritikus.

 

Para pejabat awalnya santai. “Ah, baru beberapa bulan makan MBG,” kata mereka sambil menyeruput teh hangat dan kepercayaan diri. Tapi kemudian muncul simulasi mengerikan, bagaimana kalau program ini berlangsung enam tahun? Enam. Tahun. Bukan cuma gubernur, presiden pun berpotensi di-roasting seperti ayam bakar pinggir jalan. Bahkan jabatan bisa berubah, presiden bukan lagi kepala negara, tapi CEO MBG, lengkap dengan KPI, jumlah kritik per porsi nasi.

 

Di tengah kekacauan ilmiah ini, muncullah seorang pahlawan tak terduga dari Kudus. Bukan superhero, bukan influencer skincare, tapi siswa SMK jurusan DKV dengan senjata paling mematikan abad ini, surat terbuka.

 

Namanya Muhammad Rafif Arsya Maulidi. Dengan keberanian yang bikin sinyal WiFi minder, ia menulis surat kepada Prabowo Subianto. Bukan surat cinta, bukan juga minta iPhone. Ini lebih berbahaya, opini.

 

Nah, di titik ini para profesor dari Filsafat, Ekonomi, sampai grup WA istana mendadak satu suara, “Ini anak… kok logikanya kayak profesor?” Serius. Cara berpikir Arsya itu bukan lagi level “anak SMK”, ini sudah DLC premium. Dia menghitung, menganalisis, lalu menyimpulkan dengan presisi yang bikin kalkulator Casio merasa tidak berguna. Jangan tanya siapa yang ngajarin, ini misteri yang tidak bisa dipecahkan oleh Sherlock Holmes sekalipun. Apalagi Rismon. Antara hasil update firmware otak versi terbaru, atau memang dari lahir sudah install paket “akal sehat edisi langka”.

 

Arsya bilang, dengan gaya santun tapi menukik macam drone Iran, ia menolak jatah MBG untuk dirinya sendiri. Ia bukan anti makan. Ia hanya berpikir lebih jauh. Ini sebuah aktivitas yang di beberapa tempat sudah hampir punah. Ia mengusulkan agar dana itu dialihkan untuk kesejahteraan guru.

 

Nuan bayangkan! Di era di mana sebagian orang rebutan diskon 10%, anak ini malah bilang, “Ambil jatah saya, kasih ke guru.” Ini bukan siswa biasa. Ini karakter yang kalau di game, sudah unlock skill “Empati Level Dewa”.

 

Ia menghitung dengan detail. Ada 18 bulan sisa sekolah, 25 hari per bulan, Rp15 ribu per hari. Total Rp6.750.000. Perhitungan ini membuat para ahli matematika dari Ikatan Cendekiawan Netizen Indonesia terdiam. Biasanya angka dipakai buat diskon atau cicilan, sekarang dipakai buat moral.

 

Surat itu diunggah ke Instagram. Dalam sekejap, dunia maya berguncang. 12 ribu likes, ratusan komentar. Netizen yang biasanya ribut soal es teh manis mendadak berubah jadi filsuf pendidikan. Ada yang bilang, “Ini baru anak bangsa.” Ada juga yang diam, mungkin sambil mikir, “Kenapa gue dulu cuma minta uang jajan naik?”

 

Arsya juga menyinggung satu hal yang bikin sistem sedikit keringat dingin, kesejahteraan guru. Ia melihat realitas yang sering disapu ke bawah karpet, guru honorer yang gajinya kadang kalah sama biaya parkir di mall. Sementara di sisi lain, anggaran MBG mengalir deras seperti ucapan Trump.

 

Dengan logika sederhana tapi mematikan, ia bilang, pendidikan itu kunci. Pendidikan itu ditopang guru. Kalau gurunya sejahtera, muridnya pintar. Kalau muridnya pintar, negara maju. Kalau negara maju… ya minimal nggak panik tiap ada anak SMK bikin surat.

 

Ia menyebut cita-cita Indonesia Emas. Tapi dengan satu twist, emas itu bukan dari nasi gratis, tapi dari guru yang dihargai. Sebuah pernyataan terdengar sederhana, tapi efeknya seperti nonton Inception, masuk ke pikiran, lalu bikin semua orang mempertanyakan realitas.

 

Sekarang bayangkan skenario terburuk bagi para pejabat. Anak SD sudah mulai roasting gubernur. Anak SMK sudah mulai ngasih policy recommendation. Kalau ini berlanjut, beberapa tahun lagi anak TK bisa bikin white paper lengkap dengan analisis SWOT.

 

“Strength, saya bisa baca A-B-C. Weakness, pejabat belum bisa baca aspirasi.”

 

Di ujung semua ini, kita hanya bisa bertanya dengan nada campuran kagum dan takut, ini efek MBG atau efek akal sehat yang akhirnya bangun dari tidur panjang?

 

Kalau memang ini karena MBG, mungkin perlu ditambah satu kandungan lagi di menunya, “Vitamin Kritik 1000 mg”. Karena jelas, yang sedang tumbuh sekarang bukan cuma badan sehat, tapi juga keberanian berpikir. Itu, bagi sebagian orang, jauh lebih mengenyangkan… sekaligus jauh lebih menakutkan.

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Syekh Abdul Jabar Cibiuk Garut, Ulama yang Jejaknya Terwariskan di Gunung Haruman

    Syekh Abdul Jabar Cibiuk Garut, Ulama yang Jejaknya Terwariskan di Gunung Haruman

    • calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 50
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di kaki Gunung Haruman, Desa Cipareuan, Kecamatan Cibiuk, Kabupaten Garut, terdapat kompleks pemakaman yang hingga kini menjadi salah satu tujuan ziarah masyarakat. Sebelum menuju makam Syekh Ja’far Shiddiq yang dikenal sebagai Embah Wali Cibiuk, peziarah terlebih dahulu melewati makam yang dipercaya sebagai makam Syekh Abdul Jabar. Dalam sejumlah riwayat masyarakat, Syekh Abdul Jabar juga […]

  • Mengapa Garut Dijuluki Kota Dodol? Ini Alasannya, Ya

    Mengapa Garut Dijuluki Kota Dodol? Ini Alasannya, Ya

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 551
    • 0Komentar

    TIGARUT,COM — Jika menyebut Garut, banyak orang Indonesia spontan menjawab: dodol. Bukan gunungnya dulu, bukan pantainya, apalagi macet jalurnya saat libur panjang. Julukan Garut Kota Dodol telah menjadi identitas kultural yang menempel kuat, bahkan lebih populer daripada slogan resmi daerah. Namun, julukan ini tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari sejarah panjang industri rumahan, kreativitas […]

  • Gagasan KH Anwar Musaddad dalam Pendidikan Generasi Bangsa

    Gagasan KH Anwar Musaddad dalam Pendidikan Generasi Bangsa

    • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 546
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kehadiran KH Anwar Musaddad di panggung sejarah Indonesia telah membawa spirit tersendiri. Ia dapat dipandang sebagai salah orang yang memiliki kontribusi besar dalam mencetak generasi bangsa. Melalui tangan dinginnya telah lahir sejumlah ulama, ilmuwan, politikus, dan birokrat. Kiprahnya tidak hanya di dalam negeri. Kapasitasnya sebagai tokoh juga diakui di luar negeri. Hal itu […]

  • Asyik! Garut Gulirkan Beasiswa Satu Desa Satu Sarjana 2026

    Asyik! Garut Gulirkan Beasiswa Satu Desa Satu Sarjana 2026

    • calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Prioritaskan 109 Desa yang Belum Terjangkau   TIGARUT.COM – Kabar baik bagi lulusan SMA, SMK, dan MA di Kabupaten Garut. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut kembali mempersiapkan pelaksanaan Program Beasiswa Satu Desa Satu Sarjana Tahun Anggaran 2026. Program ini akan memprioritaskan 109 desa dan kelurahan yang hingga kini belum memiliki penerima manfaat.   Persiapan pelaksanaan program […]

  • Program BK

    Program BK

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
    • visibility 83
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — STOP jangan lagi bikin program BK cuman ganti tahun ajaran saja…. Ada cara lebih mudah…. aku punya contekannya….   Sekarang sudah gak bingung lagi diburu-buru beresin program BK…   Perlu kita pahami bersama bahwa sampai saat ini memang tidak ada panduan teknis yang benar-benar baku atau menyeragamkan bentuk administrasi BK di semua sekolah. […]

  • Amerika Kalah dalam Systemic War?

    Amerika Kalah dalam Systemic War?

    • calendar_month Minggu, 26 Apr 2026
    • account_circle Budhiana Kartawijaya, geopolitics enthusiast.
    • visibility 173
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Siapa pemenang perang ini? AS-Israel? Atau Iran? Menurut saya, pertanyaan hitam-putih seperti itu didasarkan pada asumsi bahwa perang adalah sesuatu yang langsung (direct), satu atau dua front, dan simetri. Taktik perang langsung untuk meraih strategi. Siapa yang kalah di medan front tempur (battle), dia kalah juga di peperangan (war).   Tapi sekarang ini perang […]

expand_less