Breaking News

Bedug Lebaran di Tatar Pasundan

  • account_circle Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung
  • calendar_month Kamis, 26 Mar 2026
  • visibility 180
  • print Cetak

“Syiar tak lagi semata diukur dari seberapa keras pelantang suara memekakkan telinga, melainkan dipindahkan ke dalam relung dada yang paling sunyi. Di Tatar Pasundan, kebenaran fiqih diyakini sungguh-sungguh di dalam hati, tapi persaudaraan tetap dipraktikkan dengan senyum di lapangan.”

TIGARUT.COM — Sejak sore, suara bedug di musholla dekat rumah terus mengalun, membelah kabut tipis yang biasa turun menyelimuti perbukitan Priangan. Maklum, Ramadhan kali ini seringkali turun hujan, mungkin karena masih “Pabaru Cina”, kata para sepuh dulu.

Di malam kemenangan itu, suara bedug yang beriringan dengan gema takbir bersahut-sahutan dari mesjid ke ke mesjid. Ada getar yang merambat di dada setiap kali ritme kayu dan kulit sapi itu menyatu dengan asma keagungan Tuhan. Di Tatar Pasundan, bedug bukan sekadar alat penanda waktu salat; ia adalah detak jantung kebudayaan, proklamator kegembiraan manusia-manusia yang sebulan penuh menahan lapar, dahaga, dan ego, untuk merangkak kembali ke titik fitrah.

Memang, seiring berjalannya waktu dan berkembangnya corak pemikiran, wajah Islam di Nusantara juga makin kaya warna. Di sebagian masjid saat ini, bedug tak lagi digunakan. Ada pandangan kuat yang menganggapnya sebagai bid’ah, sesuatu yang tak ada contohnya di zaman luhur sana. Ya, tidak apa-apa, itu ranah keyakinan yang harus kita hormati. Toh, meski tak lagi dipukul, bedug-bedug itu kerap kali tetap dibiarkan “ngagojod” dengan tenang di sudut serambi. Ia tetap dihargai sebagai warisan kultural, monumen bisu sejarah dakwah para ajengan dan kasepuhan kita baheula yang mengenalkan agama ini lewat jalan kebudayaan yang sejuk.

Kesejukan itu pula yang selalu kita butuhkan, apalagi saat “jadwal” kebahagiaan ini datang tidak serempak. Tahun ini saja, riuh rendah bedug dan takbir itu punya ritme yang berlapis-lapis. Ada saudara kita yang sudah bertakbir pada Rabu malam untuk berlebaran di hari Kamis. Ada yang baru menabuh bedug di Kamis malam untuk salat Id di hari Jumat. Bahkan, ada yang teguh menanti sabar menyempurnakan bilangan bulan, baru berlebaran di hari Sabtu, menunggu pengumuman dari Ulil Amri.

Lantas, apakah beda hari ini bikin kita paciweuh dan saling cemberut? Di sinilah letak kecerdasan kultural orang-orang kita. Perbedaan hitungan hisab dan rukyatul hilal itu sudah jadi makanan sehari-hari sejak zaman para ajengan dan kasepuhan dahulu. Di warung kopi, di pos ronda, atau di sela-sela obrolan warga yang sedang gotong royong membersihkan makam, perbedaan ini lebih sering jadi bahan “heureuy” (bercandaan) yang menyegarkan ketimbang adu urat leher. “Nu lebaran Kemis, mangga, asal tong hilap oporna diabringkeun ka dieu. Nu Jumaah jeung Saptu, urang takbiran deui weh!” Begitu kira-kira celoteh mereka.

Bagi masyarakat Pasundan yang relijius namun luwes, kebenaran fiqih diyakini secara sungguh-sungguh di dalam hati, tapi persaudaraan (ukhuwah) tetap dipraktikkan dengan senyum di lapangan. Toleransi itu bukan barang mewah yang cuma ada di makalah akademik atau pidato pejabat; ia hidup, bernapas, dan berjalan di gang-gang sempit rumah kita.

Lihat saja kelakuan mereka yang kebagian jatah Lebaran duluan di hari Kamis. Mereka yang Lebaran lebih awal tetap menghargai tetangga dan saudaranya yang masih menjalankan shaum. Ketupat dan opor dinikmati dengan penuh syukur di ruang-ruang privat. Tidak lantas mentang-mentang sudah Lebaran dan bebas puasa, mereka petentang-petenteng makan di sembarang tempat umum. Di titik inilah kita melihat kematangan beragama; harmoni dan persaudaraan adalah nomor wahid bagi bangsa ini!

—-
Dan seolah semesta sedang mengajak kita naik kelas dalam berkesadaran, Lebaran kali ini terasa jauh lebih puitis karena perayaannya beriringan dengan heningnya Nyepi. Di satu sisi, ada luapan kerinduan umat Islam untuk menabuh bedug dan mengumandangkan takbir lewat pelantang suara sebagai wujud syiar. Di sisi lain, sebagian saudara kita umat Hindu sedang menjalankan Catur Brata Penyepian, menarik diri dari keriuhan dunia untuk menyucikan batin.

Lalu, bagaimana urang Sunda menyikapi irisan takdir ini? Di daerah-daerah yang masyarakatnya hidup berdampingan, suara bedug dan takbir itu diturunkan volumenya. Syiar tak lagi diukur dari seberapa keras loudspeaker memekakkan telinga, melainkan dipindahkan ke dalam relung dada yang paling sunyi. Tradisi silaturahmi keliling kampung dilakukan dengan langkah kaki yang pelan, menghindari bising knalpot yang bisa mengoyak kesunyian Nyepi.

Inilah argumentasi sejarah yang paling tak terbantahkan tentang bagaimana Islam mewujud di tanah kita. Kemenangan sejati (Idul Fitri) tidak pernah memaksakan keriuhannya di atas kekhusyukan orang lain. Beda hari Lebaran mengajarkan kita keluasan ilmu, sementara perjumpaan dengan Nyepi mengajarkan kita kedalaman akhlak. Semuanya bermuara pada satu titik: menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia.

Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung 

  • Penulis: Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • 5 Fakta Voice of Baceprot, Band Metal Perempuan asal Garut yang Mendunia

    5 Fakta Voice of Baceprot, Band Metal Perempuan asal Garut yang Mendunia

    • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 92
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM – Kabupaten Garut selama ini dikenal sebagai daerah yang kaya akan pesona alam, kuliner, dan budaya. Namun, di balik julukan tersebut, Garut juga melahirkan talenta musik yang mampu mengharumkan nama Indonesia di panggung internasional. Salah satunya adalah Voice of Baceprot (VoB), band metal perempuan yang sukses membuktikan bahwa mimpi besar dapat diraih dari sebuah […]

  • 5 SDIT Terbaik di Garut

    5 SDIT Terbaik di Garut

    • calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 714
    • 0Komentar

    Referensi Orang Tua dalam Memilih Sekolah Dasar Islami   TIGARUT.COM – Minat masyarakat Kabupaten Garut terhadap pendidikan berbasis Islam Terpadu (IT) terus meningkat. Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) dinilai mampu mengintegrasikan pendidikan akademik dengan pembinaan karakter dan nilai-nilai keislaman sejak dini.   Berikut ini adalah 5 SDIT terbaik di Garut yang banyak menjadi rujukan orang […]

  • Asal Usul Leuwi Jurig Garut, Grand Canyon Sunda yang Menyimpan Cerita di Bungbulang

    Asal Usul Leuwi Jurig Garut, Grand Canyon Sunda yang Menyimpan Cerita di Bungbulang

    • calendar_month Rabu, 5 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • visibility 106
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut Selatan menyimpan banyak keajaiban alam yang belum banyak diketahui wisatawan. Salah satunya adalah Leuwi Jurig, sebuah lubuk sungai yang berada di wilayah Bungbulang. Keindahan tebing batu yang mengapit aliran sungai jernih membuat tempat ini kerap disebut sebagai Grand Canyon Sunda. Namun, di balik pesonanya, nama Leuwi Jurig memiliki kisah yang menarik untuk […]

  • Bakal Seru Ni, Pemilik SPPG Ancam Lakukan Gembok Nasional

    Bakal Seru Ni, Pemilik SPPG Ancam Lakukan Gembok Nasional

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 111
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Waktu libur sekolah kemarin, para pemilik dapur SPPG mengerahkan pasukan paling ditakuti di muka bumi, mak-mak. Demo pro-MBG digelar berkali-kali. Mereka berharap Badan Gizi Nasional (BGN) melirik. Ternyata yang melirik cuma kamera wartawan.   Karena merasa suara mereka lebih cepat sampai ke awan dari ke telinga pengambil kebijakan, jurus terakhir pun dikeluarkan. Namanya sangar, […]

  • Guru BK

    Guru BK

    • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
    • account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
    • visibility 103
    • 0Komentar

    “Bu… kok anak-anak yang ke ruang BK bisa cerita banyak sama ibu? Kalau di rumah saya ditanya malah jawabnya ‘gak apa-apa’.”   Percaya nggak…   Pertanyaan itu sering banget aku dengar dari orang tua.   Dulu aku juga sempat berpikir, jangan-jangan memang remaja itu susah diajak ngobrol.   Tapi setelah bertahun-tahun mendampingi anak SMP dan […]

  • 5 Tokoh Asal Garut yang Menginspirasi, dari Pendopo hingga Panggung Nasional

    5 Tokoh Asal Garut yang Menginspirasi, dari Pendopo hingga Panggung Nasional

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 249
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut selalu punya cara untuk membuat orang rindu. Bukan hanya karena dodol, gunung, dan hamparan kebun tehnya, tetapi juga karena tanah ini melahirkan banyak sosok besar yang jejaknya melampaui batas kota. Dari kaki Gunung Cikuray hingga hiruk-pikuk Alun-alun Garut, lahir nama-nama yang memberi warna bagi pendidikan, budaya, musik, hingga pemerintahan nasional. Di setiap sudut […]

expand_less