Breaking News

Menunggu Senja di Kota Intan: Catatan Ngabuburit dari Garut

  • account_circle Redaksi Web
  • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
  • visibility 220
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Menjelang magrib di Garut selalu ada rasa yang berbeda. Udara pegunungan yang sejuk pelan-pelan berubah hangat oleh keramaian langkah orang-orang yang menanti adzan. Ngabuburit di kota ini bukan sekadar menghabiskan waktu, tetapi seperti ritual kecil untuk menyapa senja dan diri sendiri.

Di pelataran Garut Town Square, anak-anak berlari kecil, remaja duduk melingkar sambil bercanda, dan para orang tua berjalan santai menikmati sore. Di antara hiruk pikuk itu, kita belajar bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga merawat kebersamaan. Setiap senyum dan sapaan terasa lebih tulus ketika semua sedang menunggu waktu yang sama.

Tak jauh dari sana, aroma gorengan dan kolak menyeruak dari Pasar Ceplak. Para pedagang sibuk melayani pembeli, tangan-tangan cekatan membungkus takjil dengan kertas cokelat atau plastik bening. Di tempat seperti ini, Ramadan terasa sangat membumi—hangat, sederhana, dan akrab. Kita diingatkan bahwa kebahagiaan sering kali hadir dalam hal-hal kecil: segelas es buah, sebungkus cilok, atau sekadar obrolan ringan sebelum berbuka.

Sementara itu, di sepanjang Jalan Ibrahim Adjie Garut, langit senja perlahan berubah warna. Siluet Gunung Guntur berdiri tenang, seolah menjadi saksi perjalanan waktu. Di sana, kita belajar tentang kesabaran. Gunung itu tak pernah tergesa, namun selalu hadir kokoh. Seperti puasa, yang mengajarkan kita untuk teguh dalam sunyi.

Bagi yang ingin ketenangan, air yang beriak pelan di Situ Bagendit menawarkan cermin refleksi. Angin yang menyapu permukaan danau membawa rasa syukur: bahwa dalam diam pun ada keindahan. Duduk memandang air menjelang magrib membuat hati terasa lebih lapang, seolah beban sehari-hari ikut hanyut bersama cahaya matahari yang perlahan tenggelam.

Dan di kawasan Cilopang, di kaki Gunung Guntur, udara pegunungan mengajarkan kita tentang jeda. Bahwa dalam hidup yang sering tergesa, ada ruang untuk berhenti, menarik napas, dan mensyukuri detik-detik yang berjalan. Ngabuburit di sana bukan soal tempatnya, melainkan soal perasaan pulang—pulang pada ketenangan.

Pada akhirnya, ngabuburit di Garut bukan sekadar menunggu waktu berbuka. Ia adalah perjalanan kecil menuju makna: tentang sabar, syukur, kebersamaan, dan harapan. Senja selalu datang tepat waktu, dan adzan magrib selalu menjadi penanda bahwa setiap penantian, seberat apa pun, akan menemukan ujungnya.

  • Penulis: Redaksi Web
  • Sumber: AI

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Yuk Tingkatkan Disiplin dan Etos Kerja di Bulan Ramadan

    Yuk Tingkatkan Disiplin dan Etos Kerja di Bulan Ramadan

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 205
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, melaksanakan salat tarawih pertama bulan Ramadan 1447 Hijriah di Masjid Agung Garut, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, pada Rabu malam (18/02/2026). Salat tarawih pertama di Masjid Agung Garut sendiri dipimpin oleh imam yaitu Ketua DKM Masjid Agung Garut, K.H Muhammad Sufina. Momen ini dimanfaatkan Bupati Garut untuk menyampaikan pesan […]

  • Aksi Mitigasi Bencana, Polisi Tanam 500 Pohon di Batu Lempar

    Aksi Mitigasi Bencana, Polisi Tanam 500 Pohon di Batu Lempar

    • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 223
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana longsor dan banjir, jajaran Kepolisian Polres Garut melakukan penanaman pohon dikawasan wiaata Batu Lempar, Desa Lebak Agung, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Minggu, (11/1/2026). Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 500 pohon alpukat ditanam di sejumlah titik yang dinilai rawan longsor dan banjir. “Pemilihan pohon alpukat bukan tanpa alasan, karena tanaman […]

  • Deklarasi Gerakan Rukun Sama Teman di Garut

    Deklarasi Gerakan Rukun Sama Teman di Garut

    • calendar_month Minggu, 11 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 234
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti bersama ratusan murid di SMPN 1 Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat mendeklarasikan Gerakan Rukun Sama Teman sebagai upaya menumbuhkan budaya sekolah yang aman dan nyaman. “Pendidikan nasional bertujuan untuk membangun generasi bangsa yang unggul, membentuk sumber daya manusia hebat, dan generasi muda yang […]

  • Pentingnya Peran Orang Tua Dampingi Anak dan Kembangkan Potensi Siswa

    Pentingnya Peran Orang Tua Dampingi Anak dan Kembangkan Potensi Siswa

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 106
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, mendorong peran aktif orang tua dalam mendampingi anak pada masa awal sekolah sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan keluarga sekaligus mendukung tumbuh kembang generasi muda. Hal tersebut disampaikan saat memimpin Apel Gabungan di Lapangan Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Garut, Senin pagi (13/7/2026).   Dalam amanatnya, Bupati Garut memberikan […]

  • Hore! Jumlah Kopi Shop Indonesia Terbanyak di Dunia, Lho

    Hore! Jumlah Kopi Shop Indonesia Terbanyak di Dunia, Lho

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle Neila Fithriana
    • visibility 274
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM – Indonesia mencatatkan pencapaian mengejutkan di industri gaya hidup global. Berdasarkan data lembaga riset internasional di sektor makanan dan minuman, jumlah coffee shop di Indonesia disebut menjadi yang terbanyak di dunia, melampaui negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan China. Menurut postingan Instagram Specialty Coffee Association of Indonesia @aksi_scai data yang terekam untuk riset industri […]

  • Jati Diri Manusia Sunda Sejati ala Haji Hasan Mustofa

    Jati Diri Manusia Sunda Sejati ala Haji Hasan Mustofa

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Ibn Ghifarie, Penulis dan Peneliti Agama dan Media
    • visibility 595
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Diakui atau tidak, keberadaan Ki Sunda (bahasa, aksara, sastra, agama) tinggal menanti sang penjemput ajal tiba. Ibarat pepatah, hidup enggan mati tak mau. Pasalnya, kehadiran mojang-jajaka selaku generasi penerus sekaligus penjaga khazanah kesundaan tak mau belajar kesundaan. Sekadar contoh, kawula muda bangga berkomunikasi dengan memakai bahasa persatuan (Indonesia ala Betawi) di Tanah Pasundan. […]

expand_less