Breaking News

Muhammadiyah Menyatakan, Program MBG Lebih Banyak Mudharat

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
  • visibility 82
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Saya kaget, saat Muhammadiyah menyatakan, program MBG itu lebih banyak mudharatnya. Kalau ingat gerombolan Haji Dadan cs, ada benarnya. Berani kali ormas besar Islam ini ya. Tak takut kah sama Prabowo? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

 

Publik tahu MBG, program kebanggaan Prabowo. Program yang dipromosikan seperti ramuan sakti campuran jamu, serum Avengers, dan bensin pertamax untuk masa depan bangsa.

 

Selama ini MBG digambarkan bak pahlawan super yang akan menyelamatkan anak-anak Indonesia dari stunting, memperkuat kualitas SDM, meningkatkan kecerdasan, memperpanjang optimisme nasional, bahkan mungkin membuat tembok sekolah yang retak ikut terlihat lebih sehat.

 

Namun tiba-tiba datang Muhammadiyah membawa ember berisi air dingin. Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hukum, HAM, dan Hikmah, Busyro Muqoddas, melontarkan kalimat yang efek kejutnya hampir setara notifikasi “anggaran dipangkas” di grup para pemburu proyek.

 

“Mudaratnya lebih banyak.” Dua kata yang membuat para pendukung MBG mungkin langsung memeriksa tekanan darah.

 

Padahal Muhammadiyah bukan kelompok anti-gizi. Mereka bukan organisasi yang menganggap anak sekolah cukup sarapan embun pagi dan motivasi hidup. Justru Muhammadiyah aktif mengelola ratusan dapur SPPG melalui kerja sama dengan Badan Gizi Nasional. Mereka mendukung substansi program pemberian gizi.

 

Yang mereka kritik adalah cara program ini dijalankan. Menurut Muhammadiyah, sejak awal MBG berjalan dengan transparansi tak jelas. Uji publik minim. Perencanaan dianggap kurang terbuka. Sementara berbagai masalah mulai bermunculan satu per satu seperti karakter antagonis dalam sinetron yang tak pernah tamat.

 

Yang paling menegangkan tentu isu korupsi. Di Indonesia, korupsi memang memiliki kemampuan adaptasi luar biasa. Ia bisa muncul di proyek jalan, proyek gedung, proyek bansos, kadang terasa siap hadir di acara yang belum resmi dimulai. Begitu ada anggaran ratusan triliun lewat, korupsi seperti hiu yang mencium aroma darah dari jarak ribuan kilometer.

 

Karena itulah Muhammadiyah mendukung judicial review di Mahkamah Konstitusi. Gugatannya bukan kelas ecek-ecek. Ada perkara Nomor 40, 52, dan 55 Tahun 2026 yang diajukan Koalisi MBG Watch bersama Transparency International Indonesia, YLBHI, LBH Jakarta, Sajogyo Institute, YLKI, KOSPI, dan Muhammadiyah sendiri.

 

Yang dipersoalkan adalah masuknya MBG ke dalam komponen anggaran pendidikan dengan nilai fantastis sekitar Rp268 hingga Rp335 triliun dalam APBN 2026. Angka itu begitu besar sampai kalkulator murah di warung minta cuti mau nonton Piala Dunia.

 

Para pemohon menilai kebijakan tersebut berpotensi menggerus prioritas pendidikan inti. Mereka khawatir anggaran seharusnya memperbaiki sekolah, meningkatkan kesejahteraan guru, dan memperluas akses pendidikan malah tersedot ke program yang sejatinya lebih dekat dengan urusan gizi dan kesehatan.

 

Bayangkan guru honorer masih berjuang dengan penghasilan pas-pasan. Bayangkan sekolah yang atapnya bocor setiap hujan sehingga murid bisa belajar sekaligus praktik renang gaya dada. Lalu bayangkan semua itu harus bersaing dengan program raksasa yang menyedot perhatian nasional.

 

Pemerintah dan DPR tentu membela MBG. Mereka menyebut program ini sebagai investasi SDM dan bagian dari pembangunan manusia sesuai amanat konstitusi.

 

Namun Muhammadiyah memilih berdiri di posisi berbeda. Mereka tidak menolak makan bergizi. Mereka tidak menolak masa depan anak-anak. Mereka hanya mengingatkan, niat baik tanpa tata kelola yang baik sering kali berubah menjadi festival pemborosan yang dibungkus pidato patriotik.

 

Kini panggung berpindah ke Mahkamah Konstitusi. Hakim-hakim MK akan menjadi wasit dalam pertarungan antara ambisi program prioritas dan tuntutan transparansi.

 

Sementara rakyat menonton dari tribun, memegang jagung rebus imajiner, berharap satu hal sederhana, semoga ratusan triliun rupiah benar-benar sampai kepada anak-anak Indonesia, bukan malah tersesat di labirin proyek, vendor, dan kantong-kantong yang selalu lapar meski sudah kenyang berkali-kali.

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

 

  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Ngangon, Kurikulum Langit dari Universitas Padang Rumput

    Ngangon, Kurikulum Langit dari Universitas Padang Rumput

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • account_circle Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung
    • visibility 212
    • 0Komentar

    Pada halaqah kali ini, sepenggal kilas balik mengingatkan pada tradisi “ngangon” (menggembala) yang biasa dijalankan anak-anak pedesaan mala lalu. Mungkin kebiasaan ini masih dijalankan oleh anak-anak masa kini. Kebiasaan ini yang nampak “rendahan” dan “sederhana”, namun makna di baliknya memiliki enigma berharga yang kokoh dan solid. Kadang kita lupa, “ngangon” itu merupakan kurikulum pendidikan paling […]

  • Menjejaki Heritage Muhammadiyah di Garut

    Menjejaki Heritage Muhammadiyah di Garut

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle SOPAAT R SELAMET
    • visibility 1.352
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di sebuah sudut kota Garut, berdiri sebuah bangunan sederhana yang dikelilingi pepohonan rindang. Dari luar, bangunan itu tampak seperti rumah biasa, namun sesungguhnya ia menyimpan sejarah panjang: di sinilah Muhammadiyah pertama kali menancapkan pengaruhnya di Priangan Timur. Garut, yang dikenal dengan julukan “Swiss van Java”, menjadi salah satu saksi awal bagaimana gagasan pembaruan […]

  • Turunnya Kelas Menengah dan Ancaman Krisis

    Turunnya Kelas Menengah dan Ancaman Krisis

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • visibility 210
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Sebelum pandemi Covid-19, kelas menengah Indonesia adalah mesin konsumsi dan penopang stabilitas ekonomi. Pada 2019, jumlahnya sekitar 57 juta orang. Namun krisis pandemi menghantam keras. Pada 2024 jumlah itu menyusut menjadi 47 juta, dan pada 2026 turun lagi menjadi sekitar 46 juta. Artinya, dalam beberapa tahun saja, sekitar 11 juta orang terlempar dari […]

  • Situs Kabuyutan Ciburuy di Garut, Tempat Tokoh “Ngelmu”

    Situs Kabuyutan Ciburuy di Garut, Tempat Tokoh “Ngelmu”

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 325
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kabuyutan Ciburuy. Situs ini bukan sembarang situs. Situs yang merupakan peninggalan jaman Prabu Siliwangi yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya yaitu Prabu Kiyan Santang, dulunya merupakan tempat khusus bagi orang-orang berilmu tinggi. Secara administrasi Situs Kabuyutan Ciburuy terletak Desa Pamalayan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut. Lokasinya berada di titik koordinat 7° 17′ 18″ S, 107° 49′ 43″ E. Di daerah […]

  • Asyiknya Bubur Garut Pasar Desa Sentolo Kuliner Tradisional Kaya Manfaat

    Asyiknya Bubur Garut Pasar Desa Sentolo Kuliner Tradisional Kaya Manfaat

    • calendar_month Minggu, 26 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 138
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Bubur Garut menjadi salah satu kuliner tradisional yang masih bertahan ditengah menjamurnya makanan modern. Di pasar Desa Sentolo yang berada di jalan raya Sentolo-Pengasih km.1 Sentolo Kulon Progo, Bu Sutinem setia menjajakan bubur Garut yang telah menjadi langganan masyarakat selama bertahun-tahun.   Setiap hari Bu Sutinem berjualan disudut pasar yang berada dipinggir jalan.. […]

  • Menelusuri Sejarah Kereta Api, Stasiun Nagreg

    Menelusuri Sejarah Kereta Api, Stasiun Nagreg

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Atep Kurnia, Peminat Literasi dan Budaya Sunda
    • visibility 1.116
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Salah satu potret yang terus menempel di benak saya adalah tanjakan Nagreg. Fotonya dibuat oleh Woodbury & Page dari Batavia sekitar tahun 1860. Judulnya “Post Nagreg bij Tjitjalengka ten oosten van Bandoeng” (KITLV 3197) atau “Pos Nagreg di Cicalengka timur Kabupaten Bandung”. Kini foto tersebut dikoleksi oleh Koninklijk Instituut voor taal-, land- en volkenkunde (KITLV) di […]

expand_less