Breaking News
dark_mode

Om Zein, Jangan Buka Lagi Aib yang Sudah Allah Tutupi

  • account_circle Adrian | Perdana.Asia
  • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIGARUT.COM — Tidak banyak pejabat yang berani meminta maaf. Karena itu, sikap Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein yang menyampaikan permohonan maaf patut dihargai.

 

Beliau juga telah menjelaskan bahwa lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat merupakan refleksi atas masa lalunya, bukan dimaksudkan untuk merendahkan perempuan. Penjelasan itu penting agar publik memahami konteks lahirnya lagu tersebut.

 

Namun, penjelasan belum tentu menghapus dampaknya. Ketika sebuah lagu sudah beredar di media sosial, yang dinilai masyarakat bukan hanya niat penciptanya, tetapi juga pesan yang diterima pendengarnya.

 

Terlepas dari maksud pribadi Om Zein, beberapa lirik memang berpotensi dibaca sebagai candaan yang merendahkan perempuan. Bahkan mantan istri Ridwan Kamil, Bu Attalia cukup kesal dengan lagu ini. Di era media sosial, sebuah karya bisa ditafsirkan berbeda oleh jutaan orang yang tidak mengetahui latar belakang pembuatnya.

 

Karena itu, izinkan kami menyampaikan satu nasihat dengan penuh hormat. Om Zein, setiap orang memiliki masa lalu. Tidak semua masa lalu harus terus diceritakan kepada publik, apalagi jika berpotensi menjadi contoh yang kurang baik bagi generasi muda.

 

Dalam Islam, terdapat hadis yang sangat indah. Rasulullah ﷺ bersabda:

 

“Semua umatku akan mendapatkan ampunan, kecuali orang-orang yang terang-terangan menampakkan dosanya.”

(HR. Bukhari No. 6069 dan Muslim No. 2990)

 

Makna hadis ini dipahami para ulama sebagai anjuran agar seseorang tidak membuka kembali dosa atau aib yang telah Allah tutupi dengan rahmat-Nya.

 

Allah sudah menutup masa lalu seseorang. Maka, sudah semestinya kita tidak lagi membukanya sendiri. Yang lebih mulia adalah memperbanyak amal hari ini, memperbaiki diri, dan meninggalkan jejak kebaikan untuk masa depan.

 

Karena itu, jika boleh memberi saran, akan lebih bijaksana apabila lagu tersebut ditarik atau ditakedown dari media sosial, terutama YouTube dan platform lainnya. Bukan karena Om Zein tidak berhak berkarya, melainkan karena karya seorang pemimpin akan lebih mudah diteladani. Jangan sampai lirik yang lahir dari penyesalan pribadi justru dianggap wajar dan ditiru oleh anak-anak muda.

 

Bagaimana menurut Anda? Apakah lagu tersebut cukup dijelaskan konteksnya, atau lebih baik ditarik dari media sosial demi menghindari dampak yang lebih luas? Sampaikan pendapat Anda dengan santun di kolom komentar.

Komentar
  • Penulis: Adrian | Perdana.Asia

Rekomendasi

  • Liburannya Kemana?

    Liburannya Kemana?

    • calendar_month Minggu, 29 Mar 2026
    • account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Besok adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang. Biasanya, kelas akan penuh dengan cerita: tentang kampung halaman, perjalanan, atau sekadar rebahan di rumah, dan kita, tanpa sadar, selalu memulai dengan pertanyaan yang sama: “Liburannya ke mana?”   Tapi kali ini, saya ingin mencoba sesuatu yang berbeda, karena semakin lama saya menjadi guru […]

  • Geopolitik Energi

    Geopolitik Energi

    • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
    • account_circle Budhiana Kartawijaya, journalist
    • 0Komentar

    Gagalnya “Energy Lockdown” Amerika Serikat: Mengapa Perang Iran dan Venezuela Tak Mampu Menjepit China? TIGARUT.COM — Perundingan damai AS-Iran masih berlangsung. Operation Epic Furry AS-Israel tampaknya gagal melumpuhkan Iran. Dari segi geopolitik energi, serangan ke Iran adalah langkah kedua Washington setelah sukses menekuk Venezuela untuk mengunci jalur energi China.   Washington berharap dengan melumpuhkan Venezuela dan […]

  • 5 SMA Terbaik di Garut 2025, Rekomendasi Sekolah Favorit dengan Prestasi Unggulan

    5 SMA Terbaik di Garut 2025, Rekomendasi Sekolah Favorit dengan Prestasi Unggulan

    • calendar_month Minggu, 18 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM – Mencari SMA terbaik di Garut menjadi hal penting bagi orang tua dan calon peserta didik menjelang penerimaan peserta didik baru (PPDB). Kabupaten Garut memiliki sejumlah Sekolah Menengah Atas (SMA) unggulan yang dikenal berprestasi, berkualitas, dan konsisten melahirkan lulusan berdaya saing tinggi.   Berdasarkan reputasi akademik, prestasi siswa, serta minat masyarakat, berikut 5 SMA […]

  • Yuk Kenali Tokoh Intelektual Urang Garut, Yus Rusyana

    Yuk Kenali Tokoh Intelektual Urang Garut, Yus Rusyana

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Prof. Dr. Yus Rusyana dilahirkan di Pameungpeuk, Garut Selatan, pada tanggal 24 Maret 1938. Jenjang pendidikan dasar ia lalui di Sekolah Rakyat Negeri Pameugpeuk (1946-1952).  Kekaguman terhadap sosok guru yang mengajarnya di sekolah menumbuhkan minatnya untuk berkiprah di bidang pengajaran. Ia melanjutkan pendidikan menengah di Sekolah Guru B Negeri 1 Garut (SGBN 1 Garut) […]

  • Nilai TKA Jangan Diposting?

    Nilai TKA Jangan Diposting?

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Mereka bilang, “Nilai TKA jangan diposting. Kasihan yang nilainya rendah.”   Sebagai guru, aku paham maksudnya. Tidak semua anak mendapat hasil sesuai harapan.   Tapi sebagai guru yang setiap hari melihat proses siswa, aku juga tahu ada anak-anak yang belajar sungguh-sungguh selama berbulan-bulan. Ada yang rela mengurangi waktu bermain, ada yang berkali-kali mengerjakan […]

  • Bersama Komunitas Ngejah, Saatnya Bangun Literasi dari Kampung Sendiri

    Bersama Komunitas Ngejah, Saatnya Bangun Literasi dari Kampung Sendiri

    • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — PENDIRI Komunitas Ngejah Nero Taopik Abdillah mengajar anak-anak di desa Mekartani, Singajaya, Garut, Jumat 3 Februari 2017 lalu. Opik bersama sukarelawan lainnya membangun kampung literasi dengan membuat perpustakaan keliling.* Kali ini kami sampaikan cerita tentang Opik, pendiri Komunitas Ngejah di Garut. “Tahun 2010, Garut menjadi satu dari dua daerah tertinggal di Jawa Barat. […]

expand_less