Olahraga dan Agama
- account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
- calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TIGARUT.COM — Tim Maroko sujud syukur setelah mengalahkan Belanda dalam Piala Dunia 2026. PERSIB begini gak ketika juara memperoleh hattrick? Saya pernah menulis olahraga sepakbola sebagai fenomena “secular religion,” dengan contoh Persib.
Tanpa sadar, Maroko, sedang mengubah wajah sepakbola dari fenomena agama sekuler menjadi agama religius. Bila tim sekuler merayakan kemenangan dengan euforia yang tak mengingat Tuhan, tim religius dengan sujud syukur berterimakasih pada Gusti Allah SWT. Hiburannya terpenuhi, religiusitasnya pun tak hilang.
Dalam berbagai bidang olahraga, begitulah bila pemenangnya Muslim. Dalam tinju, sang legenda terbesar, Muhammad Ali, sebelum tinju selalu berdo’a di sudut ring mengangkat kedua tangannya dan setelah menang memuji Allah SWT dengan berteriak: “Allahu Akbar!” Allah The Greatest of All.
Dalam gulat MMA, sang juara legendaris yang Muslim, Habib Nurmagomedov, sering sekali mengagungkan Allah dalam pertandingannya dan dia terhina bila ada yang melecehkan keimanan Islamnya, sampai rela terjun dari ring ke kursi penonton untuk menghajar yang melecehkan Islam.
Megawati, bintang voli asal Indonesia yang bermain di Korea Selatan, selain prestasinya mencrang juga kerudungnya yang tak pernah lepas menjadi pemandangan menarik dalam dunia olahraga di abad modern di masyarakat non Muslim.
Olahraga dan agama seperti tak berhubungan. Dalam Islam, tak pernah tidak berhubungan. Para atlit Muslim sering menyuguhkan pemandangan religius di arena seperti yang digambarkan di atas. Bila dulu tahun 1980-an, di kolam renang kita sering menemukan gadis renang cuek pake bikini, sekarang tak lagi ditemukan. Sekarang, ada busana renang Muslimah. Uniknya, emak-emak yang nganter anak-anaknya renang, “gebrus” ikut terjun ke kolam dengan pakaian muslimahnya yang lengkap.
Kehadiran religiusitas Muslim dalam olahraga menunjukkan ketakterpisahan Islam dengan semua urusan kehidupan yang diyakini oleh semua pemeluknya, kecuali satu yang masih minim: dalam politik.***
- Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
