Pak Presiden yang Terhormat,
- account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
- calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TIGARUT.COM — Jarang saya mendengar reaksi positif pada program MBG. Yang saya dengar dan baca, selalu negatif. Niatnya bagus, tapi caranya ganjil. Ada negara besar di zaman modern “memberi makan langsung rakyatnya.” Memberikan makan langsung adalah kewajiban orang tua di keluarga pada anak-anaknya.
Yang merasakan positif, bukan rakyat yang diberi makan, karena banyak masalah, tapi para pengelolanya, dari level nasional hingga tingkat kelurahan/desa, yang jadi lahan korupsi. Mereka senang dapat proyek besar MBG, soal benar-benar memperhatikan makan bergizi rakyat, merata dan adil? Itu nomor tujuh. Apakah ini tak terpikirkan?
Hampir tak ada, atau belum pernah saya dengar dan baca, ada pemimpin negara di dunia ini yang memikirkan rakyatnya dengan cara “memberi makan senegara.” Kewajiban pemimpin dan negara adalah mensejahterakan ekonomi rakyat, bukan memberi makan oleh negara. Makan yang bergizi adalah dampak dari ekonomi rakyatnya yang membaik, kesejahteraan yang meningkat, negaranya makmur. Masa makannya dipikirin oleh negara? Kecuali rakyat senegara itu sedang mengalami kelaparan semuanya.
Memberi makan gratis senegara, memberi makan langsung sekitar 60 juta rakyat Indonesia, memang adalah pikiran bapak sendiri. Kritik sudah sangat banyak dan terlalu banyak karena memang ganjil. Dan yang paling nyata terlihat adalah jadi lahan korupsi karena dananya fantastis, mencapai Rp. 335 Triliun pertahun.
Sudah korupsi itu budaya negara kita, lalu dibagikan duit triliunan untuk alasan makan bergizi gratis, tidak menjadi lahan korupsi gimana juragaaan … ? “Lebih baik dibagikan ke rakyat ketimbang di korupsi oleh sedikit pejabat,” itu ada benernya. Tapi, membuka lahan baru korupsi atau memfasilitasi rakyat korupsi, ya sama-sama saja. Akhirnya, “sudahlah kita pusing dengan korupsi di negara ini, ya sudah kita semua korupsi saja.” Masak begitu?
Nak Pak, jarang terdengar positif itu, buktinya juga di kalangan buruh. Makanya, ketika bapak bertanya langsung pada mereka: “Apakah program MBG bermanfaat?” Nyatanya mereka serempak menjawab: “Tidaaak …!” Kan bapak jadi malu sendiri. Percaya diri tapi tidak terbukti. Kalau bapak keukeuh, artinya bapak memperburuk pemerintahan bapak sendiri.
Maksud bapak bagus tapi ganjil alias tidak logis. Inilah satu-satunya negara di dunia yang pemerintahnya memikirkan makan rakyatnya dengan cara langsung memberi makan mereka. Hebat? Nggak. Aneh bin ajaib.
Maksud bapak baik. Gimana caranya maksudnya baik, caranya baik? Ganti dengan transfer langsung setiap bulan ke rekening orang tuanya. Misalnya Rp. 20.000 x 30 (sebulan) = Rp. 600.000 x jumlah anak yang masih ditanggung. Misal 3 anak x 600.000 = Rp. 1.800.000/bulan, khusus untuk makan. Apa itu tidak lebih baik? Aman dari korupsi. Dipakai orang tuanya untuk kebutuhan yang lain, terserah. Yang penting, ratusan triliun uang rakyat dari pajak rakyat telah diselamatkan oleh bapak dengan dikembalikan kepada rakyat dengan ditransfer setiap bulan. Kan keren tuh Tuan Ferguso?
Bolehlah saya jadi Menteri TUMAI (Transfer Untuk Makan Anak Indonesia) selama pemerintahan bapak 5 tahun. Gaji, jangan lebih kecil dari komisaris Ade Armando saja 😊☕🚬
- Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
