Ketawa Rocky dengan Prabowo
- account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
- calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TIGARUT.COM — Rocky Gerung, pengkritik Prabowo yang sangat tajam tapi dengan ringan dan tanpa beban hadir ke istana, salaman dengan Prabowo dan ketawa bersama di pelantikan sahabatnya Jumhur Hidayat. Itu menunjukkan konsistensi dia selama ini.
Rocky dikonstruk sebagai liberal. Dia membenarkan. Dia bilang, makanya saya bebas kemana pun saya pergi, karena liberal adalah orang yang bebas tak dikendalikan kelompok dan organisasi. Rocky, tanpa beban, datang ke acara FPI, ke 212 dan acara HTI. Banyak orang heran dan mengkritik, kok mau diundang FPI dan HTI? Kata Rocky, saya kan liberal, terserah saya dong, saya bebas kemanapun saya pergi. Seorang liberal gadungan tak akan bisa melakukan itu, dia membatasi diri, kelompok beda ideologi dianggap musuh.
Netral pun bagi dia bukan tidak berpihak tapi berdiri di atas keputusan sendiri. “Karena saya netral, saya bebas kemanapun pergi.” Rocky juga pengkritik Gibran yang tajam di publik, tapi Gibran datang ke rumah Rocky untuk belajar, dan dia layani.
Bagi Rocky, beda mengkritik dengan bergaul. Mengkritik itu kerja pikiran, bergaul itu kerja sosial dan hati. Watak Rocky, bisa mengkritik setajam pedang, besoknya bisa ketawa bareng di warung kopi. Masalah? Bukan. Itu kebesaran jiwa dan kebersihan hatinya bahwa dia mengkritik pikiran tanpa membenci orangnya.
Orang pada kaget, wah Rocky Gerung ada di istana dan salaman akrab dengan Prabowo!! Bagi orang awam, mengkritik itu disangkanya harus musuhan. Itulah hidup yang repot. Rocky Gerung sudah bebas dari itu. Dia akalnya sehat.
Orang yang mengkritik orang lain, bukan dengan ilmu dan pikiran, tapi dengan emosi, kemarahan dan dibawa ke hati, gak akan mau datang ke acara orang sering dikritiknya. Ada beban psikologis. Demikian juga Prabowo, santai melihat ada Rocky Gerung di istana dalam acara pelantikan, malah salaman dan ketawa bareng. Pemandangan itu adalah ekspresi kebesaran jiwa.***
- Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
