Breaking News
dark_mode

Lebaran Pengorbanan

  • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
  • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIGARUT.COM — Saudaraku, lebaran di tengah paceklik dan kerentanan adalah lebaran penuh pengorbanan. Tatkala cadangan BBM menipis; harga dan ongkos melambung, seorang majikan mencoba menahan asisten rumah tangganya untuk tidak mudik.

Tak diduga sang asisten berkata: “Tuan bisa menikmati berbagai macam kebahagiaan sepanjang tahun, sedang kebahagian saya cuma sekali setahun, yaitu mudik lebaran. Apakah kebahagiaan satu-satunya itu pun harus saya korbankan?”

William James, filsuf Amerika Serikat, mengingatkan bahwa kepedulian utama manusia dalam hidupnya adalah kebahagiaan. Bagaimana cara memperoleh, mempertahankan, dan memulihkan kebahagiaan merupakan motif tersembunyi dari tindakan kebanyakan orang.

Sigmund Freud menjangkarkan kebahagiaan itu pada pencapaian kenikmatan-seksual (the will pleasure), sedangkan Alfred Adler pada kehendak untuk berkuasa (the will to power). Namun, Viktor Frankl percaya bahwa pemenuhan kehendak untuk menemukan makna (the will to meaning)–lewat kemampuan berdamai dengan kenyataan dan pengorbanan untuk menjadi lebih besar dari diri sendiri–merupakan sumber kebahagiaan tertinggi.

Namun, apa artinya makna hidup jika kenyataan sehari-hari senantiasa dirundung kemiskinan, kekalahan persaingan, pungutan liar, ketidakpastian peraturan, pengkhianatan partai dan penyelenggara negara?

Dalam kesulitan menemukan makna hidup kekinian dan ke depan, orang-orang akan mencarinya dengan berpaling ke belakang: pulang ke akar kesilaman di kampung halaman. Dalam gelombang arus mudik ini, betapa rakyat kecil sebagai korban pembangunan justru sekali lagi berkorban merembeskan rezeki ke seluruh pelosok negeri, seperti akar yang meneruskan air hujan ke sungai, lantas mengalirkannya hingga ufuk terjauh.

Fenomena pengorbanan rakyat ini mestinya jadi bahan refleksi bagi elit negeri. Bahwa perburuan kebahagiaan manusia mestinya tidak berhenti sebatas “cinta kuasa” (the love of power), tetapi bisa meninggi menjadi “kuasa mencintai” (the power of love). Hal ini diingatkan dalam lirik lagu “Hari Lebaran” ciptaan Ismail Marzuki, “Selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin.”

Komentar
  • Penulis: Yudi Latif, Direktur Reform Institute

Rekomendasi

  • Haol Akbar Pesantren Fauzan: Pesantren Adalah Pilar Pembangunan Akhlak Masyarakat

    Haol Akbar Pesantren Fauzan: Pesantren Adalah Pilar Pembangunan Akhlak Masyarakat

    • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM, Sukaresmi – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Garut, Nurdin Yana, menghadiri acara Istighosah dan Doa Bersama dalam rangka Haol Akbar Pondok Pesantren Fauzan yang berlokasi di Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut,  Sabtu (24/1/2026). Nurdin Yana menyampaikan apresiasi mendalam kepada pimpinan pondok pesantren atas kontribusi besarnya dalam membantu program pemerintah. Menurutnya, keberadaan pesantren sangat krusial, terutama dalam […]

  • Cekungan Berair yang Tersebar Luas Itu Bernama Sarkanjut 12.39 Play Button

    Cekungan Berair yang Tersebar Luas Itu Bernama Sarkanjut

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle T. Bachtiar, Penulis dan Geolog
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ketika membahas tentang toponimi, ada saja yang menanyakan secara langsung, atau berkomentar dalam media sosial, walau topik yang dibahas berjauhan dengan yang ditanyakan tersebut. Pertanyaannya itu kalau disingkat begini. Mengapa ada nama tempat yang vulgar, tidak senonoh, bahkan terasa cabul. Penanya mencontohkan toponim Sarkanjut di Kabupaten Garut, yang menurut pandangannya toponim itu tidak sopan, karena berhubungan dengan […]

  • Menyoal Tradisi Samen, Pantai dan Jalan Kaki

    Menyoal Tradisi Samen, Pantai dan Jalan Kaki

    • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
    • account_circle Ibn Ghifarie, Penulis dan Peneliti Agama dan Media
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saat asyik menulis tentang lima sekolah, pondok pesantren mahasiswa yang dekat dengan kampus. Tiba-tiba istri nelpon. “Bah uih iraha?” Kujawab dengan singkat, “Magrib” Selesai salat langsung pulang dan berpamitan kepada kawan, satpam yang masih jaga. “Tipayun nya. Markipul. Assalamualaikum!” Memang sudah hampir satu pekan, aktivitas pulang dilakukan setelah salat magrib. Biasa mengerjakan laporan […]

  • Gen Z dan TikTok: Scroll Nggak Jelas Bikin Kelelahan Digital di Ranah Algoritmik

    Gen Z dan TikTok: Scroll Nggak Jelas Bikin Kelelahan Digital di Ranah Algoritmik

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • account_circle Sukron Abdilah
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Sebagai generasi milenial karena lahir tahun 82an, ada juga generasi yang katanya paling adaptif terhadap teknologi, tapi paling tidak adaptif terhadap ketenangan batin. Generasi yang tidak bisa hidup tanpa Wi-Fi, tapi juga tidak bisa hidup dengan terlalu banyak notifikasi. Mereka adalah generasi Z, yang popular dengan istilah “Gen Z”. Kalau kamu juga Gen […]

  • Naasnya Nasib Jurnalisme Digital

    Naasnya Nasib Jurnalisme Digital

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di masa lalu, jurnalisme memiliki satu keistimewaan yang nyaris tak tergugat: ia menjadi penjaga makna. Wartawan tidak sekadar melaporkan peristiwa, tetapi juga menata realitas—memilah fakta, memberi konteks, dan menyajikan makna kepada publik. Redaksi menjadi “gerbang kebenaran”, dan media massa berfungsi sebagai otoritas simbolik dalam ruang publik. Namun, di era jurnalisme digital dan media […]

  • Menjejaki Heritage Muhammadiyah di Garut

    Menjejaki Heritage Muhammadiyah di Garut

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle SOPAAT R SELAMET
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di sebuah sudut kota Garut, berdiri sebuah bangunan sederhana yang dikelilingi pepohonan rindang. Dari luar, bangunan itu tampak seperti rumah biasa, namun sesungguhnya ia menyimpan sejarah panjang: di sinilah Muhammadiyah pertama kali menancapkan pengaruhnya di Priangan Timur. Garut, yang dikenal dengan julukan “Swiss van Java”, menjadi salah satu saksi awal bagaimana gagasan pembaruan […]

expand_less