Breaking News

Yazid bin Muawiyah, Otak di Balik Pembantaian Husein bin Ali

  • account_circle Redaksi Web
  • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
  • visibility 281
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Tulisan ke-19 Edisi Ramadan. Kita lanjutkan tokoh paling kontroversial dalam Islam, Yazid bin Muawiyah. Beliau lah otak di balik pembantaian Husein bin Ali, cucu Rasulullah, di Karbala. Simak narasinya sambil seruput Koptagul usai sahur, wak!

Tahun 646 M, di wilayah Suriah, lahirlah Yazid bin Muawiyah. Ayahnya, Muawiyah bin Abi Sufyan, pendiri Dinasti Umayyah, politisi kelas dewa yang berhasil menggeser model kepemimpinan dari semi-syura menjadi sistem dinasti. Ibunya, Maysun binti Bahdal, perempuan Badui dari kabilah Bani Kalb, disebut-sebut pernah beragama Kristen sebelum masuk Islam. Yazid kecil tidak dibesarkan di istana Damaskus dengan karpet Persia dan lampu kristal, tetapi di padang gurun bersama keluarga ibunya. Ia tumbuh dengan kuda, panah, syair, dan udara panas yang bisa memanggang logika.

Namun sejak muda, riwayat-riwayat klasik, terutama dari sumber yang kritis, menggambarkan sisi lain, kegemaran pada minuman keras, musik, dan gaya hidup yang dianggap jauh dari citra ideal khalifah. Di saat umat Islam sedang ekspansi dan membangun peradaban, Yazid remaja digambarkan menikmati hidup seperti bangsawan gurun yang merasa dunia adalah taman bermain pribadi. Ironisnya, ia juga ikut ekspedisi militer, termasuk pengepungan Konstantinopel melawan Bizantium. Jadi dalam satu tarikan napas, ia bisa disebut panglima. Dalam napas berikutnya, ia dilabeli hedonis. Kontrasnya seperti langit dan mobil pikap.

Tahun 676 M, Muawiyah secara resmi menunjuk Yazid sebagai penerus. Ini momen revolusioner sekaligus kontroversial. Tradisi sebelumnya tidak mengenal suksesi turun-temurun seperti kerajaan. Banyak sahabat dan tokoh menolak secara diam-diam maupun terang-terangan. Ketika Muawiyah wafat April 680 M, Yazid naik takhta di Damaskus pada usia sekitar 34 tahun. Ia menuntut baiat dari tokoh-tokoh penting, termasuk Husain bin Ali dan Abdullah bin Zubair. Penolakan terjadi. Ketegangan berubah jadi bara.

Pada 10 Muharram 61 H, padang Karbala sunyi seperti menahan napas. Tubuh-tubuh bergelimpangan. Debu bercampur darah. Di tengah gurun itu gugur Husain bin Ali, cucu Nabi, setelah terkepung ribuan pasukan Umayyah. Riwayat klasik menyebut namanya yang menebas adalah Shimr bin Dzi al-Jawshan atau Sinan bin Anas, versi berbeda, tragedi sama. Tubuh Husain sudah penuh luka. Kehausan. Letih. Lalu pedang turun. Kepala terpisah dari raga.

Di sinilah drama berubah menjadi sesuatu yang membuat sejarah terasa seperti neraka yang dibuka sedikit pintunya.

Riwayat-riwayat Syiah menggambarkan kepala itu diangkat di ujung tombak. Bukan sekadar dibawa. Bukan sekadar disimpan. Diangkat tinggi, seperti trofi kemenangan paling gelap dalam sejarah Islam. Darah menetes di batang kayu tombak, merah pekat, kontras dengan langit gurun yang kejam. Bayangkan simbol paling suci bagi keluarga Nabi, kini dijadikan tanda parade kekuasaan.

Tubuhnya sendiri, menurut banyak riwayat, dilindas kuda atas perintah komandan pasukan. Tanah Karbala menyerap darah Ahlul Bait seperti saksi bisu yang tidak bisa protes.

Kepala itu kemudian dibawa ke Kufah. Gubernur saat itu, Ubaydullah bin Ziyad, menerima kiriman tersebut di istana. Dalam sejumlah sumber, disebutkan ia menyentuh bibir atau gigi Husain dengan tongkatnya. Ada riwayat yang menggambarkan nada sinis, bahkan kalimat bernuansa dendam. Sumber Sunni lebih berhati-hati terhadap detail dramatis ini, mempertanyakan kekuatan sanadnya. Namun tragedinya sendiri tidak dibantah, kepala Husain memang dibawa ke Kufah.

Ada riwayat, terutama dalam tradisi Syiah yang menyebut kepala itu diperlakukan dengan penghinaan, bahkan ditendang oleh sebagian orang. Riwayat lain tidak menegaskan adegan itu secara eksplisit. Di sinilah sejarah seperti kaca retak, gambarnya sama, serpihannya berbeda.

Setelah dari Kufah, kepala Husain dikirim ke Damaskus, pusat kekuasaan khalifah saat itu, Yazid bin Muawiyah. Perjalanan jauh melintasi kota-kota Irak dan Syam. Dalam sejumlah catatan, kepala-kepala para syuhada lain juga diarak. Dibawa keliling, diperlihatkan kepada publik. Ini bukan sekadar perjalanan fisik. Ini perjalanan simbolik, dari tanah pengorbanan menuju pusat kekuasaan politik.

Di Damaskus, riwayat kembali bercabang. Tradisi Syiah menggambarkan Yazid menerima kepala itu dengan sikap yang dianggap merendahkan, bahkan menyentuh bibir Husain dengan tongkat. Tradisi Sunni menghadirkan gambaran berbeda, Yazid disebut menyesal, menyalahkan Ibn Ziyad, dan memperlakukan keluarga Husain dengan lebih hormat sebelum memulangkan mereka ke Madinah. Dua narasi, satu peristiwa, ketegangan yang tidak pernah benar-benar reda.

Ada pula riwayat yang menyebut kepala Husain dipajang selama beberapa waktu sebelum akhirnya dimakamkan. Lokasi makam kepala menjadi perdebatan panjang. Ada yang mengatakan kembali ke Karbala dan disatukan dengan tubuhnya. Ada yang menyebut Raqqah, ada yang menunjuk Damaskus. Bahkan, ada tradisi yang meyakini keberadaannya di Kairo. Perbedaan ini menunjukkan betapa dalamnya luka sejarah itu, hingga makam pun menjadi bagian dari ingatan kolektif yang terbelah.

Namun yang tidak terbelah adalah dampaknya.

Peristiwa ini menjadikan Karbala bukan sekadar lokasi geografis, melainkan simbol perlawanan terhadap kezaliman dalam teologi Syiah. Setiap Muharram, tangisan itu dihidupkan kembali. Dalam tradisi Sunni pun, Karbala diakui sebagai tragedi besar, musibah yang mengguncang umat.

Gambaran kepala Husain bukan sekadar detail horor sejarah. Ia adalah simbol tentang bagaimana politik bisa kehilangan nurani. Tentang bagaimana kekuasaan dapat menjadikan tubuh manusia, bahkan cucu Nabi, sebagai pesan intimidasi.

Belum habis. Tahun 683 M, meletus Perang al-Harrah di Madinah. Penduduk Madinah memberontak terhadap Yazid. Pasukan Umayyah menyerbu kota. Banyak korban tewas. Kota Nabi ternodai konflik internal. Lalu pasukan bergerak ke Mekah untuk menghadapi Abdullah bin Zubair. Dalam pengepungan itu, Ka’bah sempat terbakar akibat lontaran manjaniq. Tiga tahun pemerintahan, tiga luka besar, yakni Karbala, Madinah, Mekah. Ini bukan sekadar turbulensi politik, ini gempa sosial-keagamaan.

Yazid wafat 11 November 683 M di Huwwarin, Suriah, usia 37 tahun. Ada riwayat ia jatuh dari hewan tunggangan dan lehernya patah, ada yang menyebut sakit. Putranya, Muawiyah II, naik takhta tetapi hanya beberapa bulan sebelum wafat tanpa keturunan. Garis Sufyani terputus. Dinasti berlanjut melalui cabang Marwani.

Kontribusinya? Ia melanjutkan model monarki dalam kekhalifahan, memperkuat struktur administratif Umayyah, dan tetap menjaga ekspansi militer. Namun bayang-bayang Karbala dan konflik kota suci membuat namanya lebih sering disebut dalam konteks tragedi dari prestasi. Bagi Syiah, ia adalah antagonis sejarah. Bagi Sunni, ia figur kontroversial yang tidak dijadikan teladan.

Kisah Yazid bukan sekadar cerita satu orang. Ia adalah panggung besar tentang bagaimana kekuasaan, legitimasi, agama, dan ambisi bisa bertabrakan. Hasilnya bukan sekadar pergantian pemimpin, melainkan retakan panjang dalam sejarah Islam yang gaungnya masih terdengar hingga hari ini. Drama tiga tahun yang efeknya ribuan tahun. Itu baru namanya sejarah level epik.

Next article, Salman Al Farisi, ditunggu ya!

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

  • Penulis: Redaksi Web

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • MBG Bermanfaat atau Tidak? Dijawab, “Tidaaak!”

    MBG Bermanfaat atau Tidak? Dijawab, “Tidaaak!”

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 157
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ini bukan kuis berhadiah. Bukan polling Instagram, apalagi voting dangdut. Ini panggung nyata Hari Buruh 1 Mei 2026, ketika satu pertanyaan sederhana berubah jadi komedi nasional yang bikin netizen nyeduh Koptagul sambil ketawa miring.   Ceritanya begini, wak! Di tengah lautan buruh yang jumlahnya bukan kaleng-kaleng, Presiden Prabowo Subianto tampil penuh percaya diri. Gesture […]

  • Sambut Lailatul Qadar, 5 Masjid di Garut yang Hidupkan I’tikaf 10 Malam Terakhir Ramadhan

    Sambut Lailatul Qadar, 5 Masjid di Garut yang Hidupkan I’tikaf 10 Malam Terakhir Ramadhan

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 262
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Sepuluh malam terakhir Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Masjid-masjid mulai dipenuhi jamaah yang ingin menghidupkan malam dengan i’tikaf, qiyamul lail, tilawah Al-Qur’an, dan doa. Pada malam-malam inilah umat Islam berharap dipertemukan dengan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Di Kabupaten Garut, sejumlah masjid menjadi tempat berkumpulnya jamaah yang ingin memaksimalkan […]

  • Atheis ala Achdiat K. Mihardja

    Atheis ala Achdiat K. Mihardja

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 267
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Atheis merupakan novel karya Achdiat Karta Mihardja yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1949 oleh Balai Pustaka. Cetakan ke-2 novel ini diterbitkan pada tahun 1957, cetakan ke-3 pada tahun 1960, cetakan ke-4 pada tahun 1960, cetakan ke-5 pada tahun 1969, cetakan ke-6 pada tahun 1976, cetakan ke-10 tahun 1989, cetakan ke-18 pada tahun […]

  • Makin Marak Demo Tandingan, Apakah Posisi Prabowo Aman?

    Makin Marak Demo Tandingan, Apakah Posisi Prabowo Aman?

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 96
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Lupakan sekejab kisah Roy Suryo dan dr Tifa. Kita kembali fokus pada demo. Mulai marak aksi demo tandingan. Muncul pertanyaan, apakah fenomena ini mengindikasi posisi Prabowo tidak aman? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!   Munculnya BEM Bersatu beberapa waktu lalu sudah membuat banyak orang mengernyitkan dahi sampai hampir menyentuh ubun-ubun. Belum habis publik […]

  • Bimbingan Karirnya Ada, tapi Saat SPMB…

    Bimbingan Karirnya Ada, tapi Saat SPMB…

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
    • visibility 187
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Dulu waktu masih kuliah sama orang-orang ini kita punya kegiatan bantuin anak-anak di daerah biar punya motivasi kuliah kayak kita-kita, udah lulus jadi guru BK di SMA pun sama, akhir semester itu rasanya luar biasa sibuk. Aku dan rekan-rekan guru BK benar-benar terlibat penuh dalam proses siswa menuju masa depannya.   Mulai dari […]

  • Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

    Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

    • calendar_month Rabu, 24 Jun 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 100
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kita lanjutkan cerita Taufik Hidayat yang ini (bukan yang itu). Saya sudah beberkan kekejaman monster berwajah manusia ini sebelumnya. Sekarang, ada baiknya kita mengenal psikopat ini lebih dalam lagi. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!   Taufik Hidayat, monster berwajah manusia berusia 30 tahun. Ia lahir 14 Juni 1996 di Bandung. Ia telah mengubah […]

expand_less