Digital Hustle Muslim Fesyen Garut, Nasibnya di Tangan Milenial dan Gen Z
- account_circle Redaksi Tigarut
- calendar_month Selasa, 30 Des 2025
- print Cetak

Ilustrasi gen Z berhijab (Foto:f reepik)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TIGARUT.COM — Di Jalan Pramuka dan seantero Jalan Raya Tarogong, dari plang toko kecil hingga butik kekinian di Garut Plaza, satu hal mulai terasa progresif: fashion muslim bukan lagi sekadar kain dan syariat, tapi bahasa ekspresi jutaan milenial dan Gen Z yang melebur antara identity, style, dan digital hustle.
Setiap sore, etalase butik dan pop-up store di kabupaten yang dijuluki Kota Intan ini dipadati anak muda berhijab casual dengan sneakers putih, atau pria berkoko oversized dipadu cargo pants. Mereka bukan sekadar belanja baju — tapi viewing experience, bagian dari narasi diri mereka di era digital.
Perkembangan modest fashion di Indonesia secara nasional menunjukkan pola serupa: busana muslim kini melewati batas fungsi religius, menjadi medium ekspresi estetika generasi muda. Tren ini tidak lepas dari digitalisasi pemasaran dan konsumsi yang membuat brand kecil punya panggung besar.
Di Garut, hal ini tampak jelas. Toko seperti Ethica Store, Nibras House, dan Paradiza tak hanya menawarkan gamis dan hijab — mereka menawarkan pilihan gaya yang Instagram-able, bisa OOTD, dan mudah dicari secara online sebelum kunjungan ke toko fisik.
“Dulu hijab itu identik tradisional, sekarang sudah jadi gaya hidup, seperti sneakers dengan gamis – kita gabungkan feel modern dan tetap syar’i,” ujar Wardah, 22, seorang mahasiswi UI yang sering belanja di butik muslim lokal Garut.
- Penulis: Redaksi Tigarut
- Editor: SAB
